Rumah sejati Ahmad Sadikin

Azis Sulaeman
Chapter #33

BENTENG REALITAS DAN DOA DI BALIK JENDELA DAPUR

Di tengah pekatnya belenggu anhedonia akut yang membuat seluruh emosi dan jiwanya mati rasa, ternyata masih ada satu nama yang entah bagaimana mampu menyisakan riak kecil di sudut hati Ahmad Sadikin. Nama itu adalah Hana. Seorang gadis muda yang sebenarnya sangat Ahmad sukai secara mendalam, namun letupan perasaan itu hanya mampu ia simpan rapat-rapat dan dibiarkan hidup di dalam diam yang paling sunyi, tersembunyi dari hiruk-pikuk dunia luar.

Ahmad tahu diri, dan ia tidak akan pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan tersebut kepada Hana sampai kapan pun. Ia paham betul siapa posisi dirinya saat ini di mata norma sosial. Walaupun dahulu pada masa mudanya ia adalah anak yang cerdas, mantan anggota Paskibraka berprestasi tingkat kabupaten, dan seorang lulusan sarjana diploma yang sempat menyalakan harapan keluarga, kini roda kehidupan telah berputar ke titik yang paling rendah. Di dalam cermin penilaian dirinya sendiri, ia hanyalah sesosok pengangguran kronis berusia 33 tahun dengan riwayat penyakit saraf terjepit yang bisa lumpuh kapan saja, serta masih menumpang hidup di bawah atap rumah papan orang tuanya.

Satu-satunya rekaman memori indah yang selalu Ahmad rawat dengan sangat hati-hati di dalam kepalanya adalah ingatan masa lalu ketika ia tidak sengaja berpapasan dengan Hana di sebuah kedai es tebu pinggir jalan desa. Hari itu, cuaca pedesaan sedang terik membakar kulit, namun mendadak segalanya terasa sejuk dan teduh saat Ahmad melihat Hana melemparkan sebuah senyuman hangat ke arahnya. Itu adalah sebuah senyuman yang sangat tulus, polos, dan ikhlas, tanpa ada maksud tersembunyi atau kepalsuan sosiologis di dalamnya. Bagi Ahmad yang dunianya sudah lama berubah warna menjadi abu-abu dan hambar, hal kecil berupa senyuman Hana siang itu seakan-akan menjelma menjadi obat penawar sementara yang mampu meredakan gejala mati rasa anhedonia akut di dalam dadanya. Senyum itu sempat membuat sisa-sisa hatinya merasakan kembali apa yang disebut manusia dengan kehangatan.

Lihat selengkapnya