Rasa suka Ahmad kepada Hana kini telah sepenuhnya mengkristal, menjelma menjadi sebuah bayangan abadi di sudut ruang jiwanya yang paling gelap dan tak terjangkau. Ahmad menyimpannya dengan sangat rapat, memperlakukannya seperti sebuah rahasia suci yang tidak akan pernah ia biarkan menyentuh atau mengotori realitas hidupnya yang berantakan. Ia tidak pernah tahu, dan mungkin memang tidak akan pernah mau tahu, apakah wujud asli dari bayangan itu memiliki peluang untuk mewujud nyata, apakah Hana suatu saat nanti akan membalas getaran rasanya, ataukah semua itu hanya akan tetap menjadi seonggok fatamorgana yang indah di tengah padang pasir hidupnya. Ahmad dengan sadar lebih memilih membiarkan bayangan rasa itu tetap berada pada tempatnya: tak tersentuh, tak terjamah oleh kerasnya dunia, namun tetap ada memberikan kehangatan samar yang konstan.
Kini, di sela-sela waktu pedesaan yang merayap teramat lambat laksana siksaan halus, Ahmad justru lebih sering terjebak dalam perenungan mendalam tentang mimpi-mimpi besar orang tuanya di masa lalu. Dahulu sekali, sebelum rentetan kegagalan ini menghantam, Pak Joko dan Ibu Ratna memiliki ekspektasi yang teramat tinggi dan melambung terhadap masa depan dirinya. Mereka bermimpi besar melihat Ahmad sukses pasca kuliah, bekerja dengan mengenakan seragam mentereng berdasi, atau setidaknya memiliki posisi sosial yang basah dan disegani di tengah masyarakat desa transmigrasi.
Duduk di sudut dapur yang remang, Ahmad sering kali bertanya-tanya pada sunyi, apakah mimpi-mimpi mentereng itu memang bagian dari takdir yang sebenarnya tertulis untuknya di lauhulmahfuz, ataukah itu semua sekadar beban warisan ego orang tua yang tidak pernah sekali pun ia minta? Terhadap semua teka-teki itu, Ahmad hanya bisa berserah pasrah. Pertanyaan-pertanyaan eksistensial itu menggantung tanpa jawaban di udara dapur, serupa kabut tebal pagi hari di perkebunan sawit yang tak pernah benar-benar tersingkap oleh sang surya.