Rumah sejati Ahmad Sadikin

Azis Sulaeman
Chapter #35

REKONSILIASI TAKDIR DAN GORESAN KATA

Sambil duduk terdiam di depan meja dapur yang telah begitu akrab dengan kesunyiannya, Ahmad Sadikin membiarkan alunan lagu melankolis dari platform YouTube mengalir bebas memenuhi setiap sudut ruangan yang sepi. Musik instrumental itu perlahan-lahan bekerja mengikis sedikit demi sedikit rasa jemu, penat, dan hambar yang selama ini mengendap tebal di dalam hatinya. Namun, di tengah ketenangan senyap yang langka itu, sebuah ide kreatif mendadak terlintas dengan sangat jernih di dalam kepalanya.

Jemarinya yang biasa kaku kini mulai bergerak lincah, berselancar di kolom pencarian internet untuk mencari berbagai informasi valid seputar dunia penulisan cerita pendek atau cerpen. Ahmad tiba-tiba teringat bahwa selama masa-masa merenung, mengurung diri, dan menganggur pasca tumbang dari perantauan, ia sempat melahirkan beberapa draf cerpen emosional yang ia simpan rapi di dalam folder rahasia ponselnya. Saat draf itu dibuat, sebuah pemikiran yang sangat sederhana sempat muncul: Ahmad menaruh harapan kecil agar cerpen-cerpen yang ia tulis tulus dari lubuk hati itu entah bagaimana caranya bisa dikonversi menjadi rupiah untuk sekadar menyambung hidup secara mandiri.

Setelah melakukan pencarian yang memakan waktu cukup lama dan menyusuri berbagai situs literasi serta media daring, sepasang mata Ahmad mendadak berbinar cerah, sebuah binar yang sudah bertahun-tahun meredup dari wajahnya. Di layar ponselnya yang retak, tertera dengan sangat jelas pengumuman sebuah ajang lomba menulis tingkat nasional. Perlombaan itu menawarkan nominal hadiah utama yang sangat fantastis bagi ukuran hidupnya saat ini, yaitu sebesar 30 juta rupiah.

Seketika itu juga, seolah ada percikan api semangat yang sudah lama padam dan membeku di dalam diri Ahmad kembali menyala dengan hebatnya. Ada dorongan kuat yang mendesak di dalam rongga dadanya untuk ikut serta menarikan jemarinya dalam perlombaan tersebut. Pikiran Ahmad langsung melompat mengembara jauh menyeberangi lautan. Ia membayangkan, jika ia berhasil memenangkan lomba bergengsi itu dan membawa pulang uang 30 juta rupiah, ia akan menggunakannya sebagai modal utama untuk kembali bertolak menuju Surabaya, kota yang selalu ia rindukan lantunan sholawat subuhnya yang menggema syahdu dari corong-corong masjid kuno.

Lihat selengkapnya