Rumah sejati Ahmad Sadikin

Azis Sulaeman
Chapter #36

SUMPAH DI ATAS TANAH BASAH

Waktu terus bergulir maju dengan langkah pasti tanpa pernah bisa ditahan atau ditawar oleh siapa pun di dunia ini. Beberapa tahun setelah Ahmad Sadikin berhasil menemukan titik kedamaian batin dan keikhlasan mutlak dalam menerima takdir sunyinya di desa transmigrasi, sebuah ujian berat yang sesungguhnya justru datang menghampiri benteng pertahanan keluarga mereka. Kedua orang tua Ahmad, Pak Joko dan Ibu Ratna, tiba-tiba jatuh sakit secara bersamaan. Tubuh senja mereka yang mulai digerogoti usia mendadak diserang oleh demam tinggi yang sangat parah dan tidak kunjung mereda, meskipun berbagai upaya pengobatan medis maupun alternatif telah diusahakan dengan maksimal.

Ahmad merawat kedua orang tuanya siang dan malam dengan penuh ketulusan serta kelembutan, mengabaikan sama sekali segala macam luka, trauma masa lalu, dan gesekan emosional tentang sikap mereka yang dulu pernah menyayat hatinya. Namun, setelah satu minggu penuh berada dalam masa-masa kritis di bawah bayang-bayang maut, takdir garis hidup manusia berkata lain. Fisik kedua orang tua Ahmad yang ringkih sudah tidak mampu lagi mengatasi serangan penyakit tersebut. Di tengah kesunyian malam rumah papan mereka, Pak Joko dan Ibu Ratna mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang, melangkah menuju keabadian. Mereka meninggal dunia dalam rentang waktu yang hampir bersamaan, seolah tidak ingin saling meninggalkan di dunia fana ini.

Di tengah kabut duka yang mendalam dan isak tangis sanak keluarga yang pecah memenuhi ruang tengah, Ahmad justru berdiri tegap dengan keteguhan hati yang luar biasa. Di kesempatan yang terakhir kalinya, sesaat sebelum kain kafan putih menutup wajah kedua orang tuanya untuk selamanya, Ahmad mendekatkan wajahnya. Ia menatap lekat-lekat wajah damai ayah dan ibunya yang kini telah kaku, lalu berbisik lirih dengan suara bergetar namun sarat akan ketegasan tekad:

Lihat selengkapnya