Awan duka yang pekat dan kelabu masih tampak menggelayuti atap rumah papan di ujung desa transmigrasi itu, namun Ahmad Sadikin menolak dengan keras untuk larut dalam kubangan kesedihan yang melumpuhkan raganya. Setelah seluruh prosesi pemakaman kedua orang tuanya selesai dilaksanakan dengan khidmat di pekarangan belakang dekat kolam, Ahmad langsung bergerak cepat mengambil alih kendali tanggung jawab sebagai anak lelaki yang berdiri di rumah utama.
Hal pertama yang ia lakukan dengan sangat teliti adalah menyisir, mendata, dan mengurus seluruh masalah utang-piutang sekecil apa pun yang ditinggalkan oleh mendiang Pak Joko dan Ibu Ratna semasa hidup mereka. Bagi Ahmad, membersihkan nama baik dan kehormatan orang tuanya dari segala beban duniawi adalah prioritas utama yang tidak bisa ditunda, agar perjalanan spiritual mereka menuju alam kubur menjadi lapang dan tenang.
Setelah seluruh urusan utang piutang tersebut benar-benar rampung dibayarkan dan bersih tak bersisa dari catatan, Ahmad segera berkemas seadanya. Ia kembali menempuh perjalanan jauh yang melelahkan menyeberangi lautan menuju Kota Surabaya. Namun, kali ini tujuannya telah mengalami metamorfosis total; bukan lagi untuk melarikan diri dari kenyataan, bukan untuk mengemis pekerjaan kasar, ataupun untuk berlibur menenangkan diri. Kedatangannya yang kesekian kali ke Kota Pahlawan itu adalah untuk menemui langsung dan memanggil pulang seluruh saudara kandungnya yang merantau di sana. Ahmad ingin mengajak mereka semua duduk bersama di kampung halaman guna menyelesaikan satu perkara sensitif yang paling sering memecah belah ikatan darah sebuah keluarga: harta warisan.
Beberapa hari kemudian, suasana di dalam rumah papan peninggalan orang tua mereka yang biasanya sunyi senyap mendadak berubah ramai oleh riuh suara manusia. Seluruh saudara kandung Ahmad kini telah berkumpul, duduk melingkar di atas tikar pandan di ruang tengah yang penuh kenangan. Di hadapan kakak-kakaknya yang menatap dengan raut tegang penuh antisipasi, Ahmad yang memegang kendali penuh atas seluruh dokumen resmi kebun kelapa sawit dan aset keluarga mulai membuka pembicaraan dengan nada suara yang teramat tenang dan tertata.