Setelah seluruh urusan pembagian harta warisan kebun kelapa sawit selesai tanpa menyisakan riak perselisihan atau dendam di antara saudara-saudaranya, Ahmad Sadikin melangkah keluar dari teras rumah papan masa kecilnya dengan hati yang teramat lapang. Langkah kakinya yang kini terasa jauh lebih tegap dan ringan membawa raganya berjalan menyusuri jalan setapak tanah merah menuju rumah Pak RT, sosok yang sangat dihormati di desa transmigrasi tersebut, yang sekaligus merupakan pengurus utama dari mushola tua di samping rumahnya.
Di hadapan Pak RT, yang tidak lain adalah ayah kandung dari Hana, gadis yang selama ini diam-diam selalu ia kagumi dan doakan dalam sunyi yang paling rahasia, Ahmad mengutarakan niat tulusnya dengan kepala tertunduk santun. Ia meminta izin secara resmi untuk mendirikan sebuah tempat tinggal kecil yang sangat bersahaja, sebuah kamar semi permanen, di bagian belakang bangunan mushola, tepat melekat di balik dinding tempat imam memimpin sholat berjamaah. Mendengar ketulusan yang murni dan niat suci dari pemuda yang telah dikenal kesantunannya sejak kecil itu, Pak RT dengan mata yang berkaca-kaca penuh rasa haru langsung memberikan izin, pelukan hangat, dan restu terbaiknya.
Setelah mengantongi izin resmi tersebut, Ahmad mulai mengumpulkan sisa-sisa tabungan terakhir dari hasil keringatnya yang tak seberapa. Ia membeli beberapa bahan bangunan mendasar seperti semen, pasir, beberapa batang kayu, dan batu bata merah. Dengan kedua tangannya sendiri yang kini telah kasar oleh kerasnya hidup, serta dibantu oleh beberapa warga desa yang bersimpati pada kesalehan sunyinya, Ahmad mulai menyusun bata demi bata, merekatkan adukan semen, hingga sebuah ruang kecil tempat penyerahan diri total itu berdiri dengan kokoh.
Setelah semuanya selesai dibangun dengan sederhana, Ahmad resmi berpindah haluan hidup. Kini, ia bertempat tinggal menetap di belakang mushola, menumpang hidup sepenuhnya di rumah Allah, dan dengan sukarela melepas seluruh keterikatan materi duniawi yang selama 33 tahun ini sempat menjajah serta membelenggu jiwanya dalam penderitaan.