"Aby, kenapa lo nggak kabur aja sekarang? Mumpung belum dimulai acaranya," bisik Rio—sahabat Aby sejak kecil—yang kini duduk di sebelahnya. Rio itu terkejut saat mendengar Aby yang tiba-tiba mau menikah. Apalagi, setelah tahu alasannya, karena saat Aby dimarahi oleh Yuda ketika pulang ke rumah, sahabatnya itu juga sedang berada di rumah, dan tak sengaja mendengar semua yang dikatakan Yuda.
"Mana bisa gue kabur gitu aja, nanti gue makin dibilang brengsek sama Papa gue sendiri," balas Aby ikut berbisik, sekarang mereka tengah duduk di pojok masjid yang menjadi tempat untuk menggelar akad pernikahan Aby dan Maya.
Karena tidak mau Aby dilaporkan ke polisi, Alin dan Yuda akhirnya setuju jika putranya itu harus menikahi Maya untuk bertanggung jawab. Dan mereka sepakat hanya akan menggelar akad saja, yang dihadiri keluarga dua belah pihak, dan mungkin ada beberapa tetangga terdekat Harun yang ikut menyaksikan.
"Tapi, kan, lo nggak melakukannya, By. Buat apa juga lo tanggung jawab?" Rio masih berusaha membujuk, ia tak tega dengan sahabatnya itu yang harus menikah diusia muda, apalagi karena terpaksa.
"Tapi, gue udah buat Maya diusir dari rumah nyokapnya, Yo. Meskipun gue nggak melakukan apa-apa sama dia, tapi gue juga merasa bersalah."
"Iya, masalahnya juga si Maya pasti nggak mau dinikahi sama lo. Gila aja kali, kemarin kita baru selesai ujian nasional. Sekarang kalian malah mau nikah. Lo sama Maya masih muda banget buat nikah, lo juga mau kasih dia makan apa, hah? Punya duit dari mana? Lulus sekolah aja belum tentu lo! Nyari kerja susah, coy!" jelas Rio, membuat Aby terdiam dan berpikir. Sebenarnya ia bukannya tak berpikiran ke arah sana. Bahkan, selama ujian nasional kemarin, yang membuat Aby pusing itu bukan soal-soalnya, tapi masalah pernikahannya dan Maya yang akan digelar hari ini.
Aby bingung, setelah mereka menikah, nanti bagaimana? Tidak mungkin, kan, mereka akan kembali ke keluarga masing-masing. Yang ada Maya akan menjadi tanggung jawabnya, dan itu berat untuk Aby.
"Sekarang gue tanya, deh, sama lo. Habis ngejual apa lo buat beli mahar untuk Maya?"
"Gue jual motor."
"Bego! Itu, kan, motor kesayangan lo. Dan lo tau sendiri, susah banget buat dapat motor itu. Lo nggak ingat perjuangannya gimana? Lo harus bisa rangking 1 dulu di kelas, tapi waktu kelas 10 lo malah rangking 2 karena si Maya yang lebih pinter dari lo. Terus, setelah lo berhasil nyalip si Maya, sampai akhirnya bisa rangking 1 di semester kemarin, dan mendapat motor yang lo mau sebagai hadiah. Sekarang, lo malah jual itu motor. Lo nunggu 2 tahun buat dapat itu motor, By. Tapi, sekarang ...." Rio tak dapat melanjutkan ucapannya, ia tak tega dengan nasib sahabatnya yang satu itu. Bisa-bisanya Aby berada di situasi saat ini.
"Ya, mau gimana lagi? Gue nggak punya banyak uang, Papa juga nggak bakalan mau ngasih, makanya gue jual aja itu motor," balas Aby, ia juga rela tak rela saat menjual motornya itu. Jika dihitung, ia baru beberapa bulan menggunakannya.
"Nah, lo sadar nggak punya banyak uang. Jadi, mending sekarang lo kabur aja. Sebelum lo nikah. Ingat, By. Setelah nikah, lo juga harus memenuhi segala kebutuhan Maya. Jadi, ayo! Gue bantuin lo kabur," ajak Rio.
"Gimana caranya gue bisa kabur?"
"Lo bilang aja, izin ke toilet. Nanti kita cari cara kalau udah keluar dari sini," usul Rio, membuat Aby berpikir. Apakah ia harus kabur dari sana?
Mungkin demi kebaikannya, ia memang harus segera pergi dari sana. Sebelum semuanya terjadi.
"Ayo," ajak lagi sahabatnya itu, yang dibalas dengan anggukan Aby.
---
"Sah?"
"Sah!"
Aby menghela napasnya lega setelah mendengar kata sah dari para saksi setelah ia berhasil mengucapkan ijab kabul dengan lancar dalam satu tarikan napas, lalu ia menundukkan kepala. Ikut mengamini doa yang dipanjatkan setelah akad nikah.
Setelah bergelut dengan pikirannya yang berkecamuk, sekarang inilah keputusan akhirnya. Ia tetap menikahi Maya.