Rumah Sepasang Luka

Reza Lestari
Chapter #4

Kehilangan dan jatuh paling dalam

Tangis Maya masih pecah, dunianya terasa hancur seketika. Gadis itu masih tak percaya jika hari ini akan mengalami hal yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Bagaimana tidak, ia harus menikah dengan Aby diusianya yang baru 18 tahun, tepat dua Minggu lalu ia bertambah usia. Setelah itu, selang beberapa menit ia sudah sah menjadi istri Aby, tiba-tiba ia harus kehilangan papanya.

Awalnya, Maya tak percaya ketika petugas KUA berkata jika denyut nadi Harun sudah tidak ada setelah memeriksa keadaan papanya yang terkulai lemah tadi. Sehingga ia meminta orang-orang untuk membantunya membawa Harun ke rumah sakit agar diperiksa. Tetapi, saat sampai di rumah sakit, Dokter mengatakan hal yang sama. Menyatakan jika papanya sudah meninggal dunia.

Selama ini ia memang melihat Harun sudah tidak baik-baik saja, papanya itu sudah lama sakit-sakitan. Tetapi, ia tak menyangka jika Harun akan pergi secepat ini.

"Maafin Maya, Papa. Maaf," lirih Maya sambil mengelus nisan yang bertuliskan nama papanya. Orang-orang yang mengantarkan papanya ke peristirahatan terakhir sudah pulang, kini hanya tersisa Maya, Aby, dan Rio saja di sana. Kedua cowok itu belum pulang karena menemani Maya yang belum mau pulang dari sana.

Maya merasa kepergian Harun yang mendadak itu karena salah dirinya. Papanya itu pasti kepikiran tentang masalah Maya, hingga akhirnya kesehatan Harun malah semakin drop. Apalagi, selama ini papanya jarang sekali untuk periksa ke dokter karena tidak memiliki uang. "Kenapa Papa tinggalin Maya sekarang? Maya nggak punya siapa-siapa lagi, Pah. Mama udah nggak peduli lagi sama Maya, sekarang Maya harus ke mana?"

Rio menepuk bahu Aby, membuat sahabatnya itu langsung mengalihkan pandangan ke arahnya.

"Gue balik duluan, ya. Lo jagain dia baik-baik, kalau ada apa-apa dan perlu bantuan gue. Lo telepon aja gue," ucap Rio, hari sudah sore sekarang.

"Iya, makasih banyak, ya, Yo," ujar Aby yang dibalas dengan anggukkan. Setelah itu, Rio pergi dari sana untuk segera pulang.

Sedangkan Aby, cowok itu berjongkok di samping Maya yang duduk di atas tanah merah sambil memeluk nisan papanya. Lalu, ia mengelus pelan punggung gadis itu, meski sedikit agak ragu dan canggung. Apalagi, mengingat status mereka sekarang.

"Lo nggak sendirian, kok. Ada gue," kata Aby berusaha menenangkan.

Bukan hanya Maya saja yang tak menyangka dengan kejadian hari ini, tapi Aby pun sama. Dan sekarang, ia sudah menemukan jawaban kenapa Harun selalu menatapnya penuh harap, ditambah lagi dengan permintaan tolong Papa mertuanya itu tadi. Mungkin, Harun sudah mempunyai firasat sebelumnya. Untuk itu, Harun memintanya untuk menikahi Maya, meski Papa Maya itu percaya jika dirinya dan gadis itu tidak melakukan apa pun malam itu.

Kata Harun, hati Maya rapuh. Dan sekarang, ia bisa lihat sendiri bagaimana rapuhnya gadis itu. Di saat Maya merasa kehilangan orang yang disayanginya, tak ada satu kerabat dan keluarga yang berusaha menenangkannya. Bahkan, Mama Maya sendiri pun tadi ikut pulang bersama keluarga barunya. Mungkin, karena ini juga, yang membuat Harun meminta Aby untuk menjaga Maya. Gadis itu sendirian.

"Ini salah gue, mungkin Papa akan baik-baik aja kalau nggak dengar apa yang terjadi sama kita dari Mama. Papa kecewa sama gue, dan sekarang Papa ninggalin gue," ucap Maya menyalahkan dirinya sendiri.

"Lo nggak boleh ngomong gitu, apa yang terjadi itu udah takdir. Jadi, nggak boleh nyalahin diri sendiri, lagian Papa lo nggak pernah kecewa. Bahkan, tadi beliau bilang sendiri sama gue. Jadi, lo jangan nangis lagi, bukannya itu juga keinginan Papa lo tadi. Beliau nggak mau lihat lo nangis lagi," balas Aby, membuat Maya menatapnya dan terdiam, lalu ia mengingat apa saja yang dikatakan Harun tadi.

Namun, gadis itu tak bisa berhenti menangis. Ketika sadar jika tadi adalah pelukan terakhir yang papanya berikan untuknya. Setelah ini, siapa yang akan memeluknya nanti?

"Lo jangan nangis lagi, ya," bujuk Aby, tangannya terulur untuk menghapus air mata yang membasahi pipi Maya. "Kayaknya kita harus pulang sekarang, udah sore. Mendung juga, bentar lagi hujan kayaknya," lanjutnya, membuat gadis itu mendongakkan kepalanya menatap langit.

Bahkan, langit pun mengerti suasana hatinya. Namun, kenapa mamanya tidak?

"Pulang, ya?" bujuk lagi Aby.

Kali ini Maya hanya mengangguk pasrah saja, ia takut ditinggalkan sendiri jika tak mau pulang. Untuk itu, sekarang ia akan ikut Aby saja.

"Ya udah, yuk," ajak Aby sambil membantu Maya berdiri, sebelum akhirnya mereka pergi dari sana.

---

Aby dan Maya berhenti berlari tepat di teras depan sebuah rumah dengan keadaan basah kuyup. Setelah pulang dari pemakaman, mereka sempat ke kontrakan yang di tempati Harun beberapa tahun ini. Hanya saja Maya tidak bisa tinggal di sana. Pemilik kontrakan itu mengusirnya, karena Harun menunggak selama 2 bulan. Untuk itu, sekarang Maya diajak ke sana, rumah keluarga Aby.

"Lo ngapain bawa gue ke sini?" tanya Maya.

"Lo, kan, nggak bisa tinggal di kontrakan itu lagi. Jadi, lo tinggal sama gue di sini," jawab Aby, membuat Maya merasa tak nyaman. Apa harus ia tinggal bersama Aby? Bersama keluarganya juga?

"Tapi—"

"Nggak apa-apa, lo tenang aja. Ada gue, jadi jangan takut. Ayo masuk." Aby menggenggam tangan Maya, lalu mengajaknya memasuki rumah itu.

Hingga ketika berada di ruang tamu, mereka melihat keluarga Aby berkumpul di sana. Langkah keduanya terhenti, dan Maya langsung menundukkan kepalanya. Apalagi, ketika sekilas melihat tatapan asing yang ditunjukkan kakak laki-laki dan adik perempuan Aby. Sebelumnya, tak pernah ada perkenalan di antara mereka.

"Ngapain kamu datang ke sini?" todong Yuda, membuat Aby dan Maya tertegun di tempat mereka berpijak.

Lihat selengkapnya