Dina memasuki rumah ibunya dengan langkah tergesa. Kondisi hatinya sedang kacau, dengan kedua mata yang sembab dan pakaian yang basah kuyup karena hujan-hujanan.
Setibanya di ruang tamu, ia melihat ibunya itu tengah berbincang bersama kedua kakak Dina. Pembicaraan mereka tampak asyik, entah sedang membahas apa. Hanya saja mereka sesekali terkekeh saat merasa lucu.
"Dina." Mawar—Kakak kedua Dina adalah orang pertama kali yang menyadari kehadirannya, sehingga panggilannya itu membuat Ibu dan kakak pertamanya menoleh ke arah Dina.
Tatapan Dina tertuju pada Ema, ibunya. Ia menatap wanita itu dengan kecewa sekaligus terluka.
"Bisa-bisanya Ibu masih bisa tertawa seperti tanpa beban sekarang, apa Ibu tidak punya rasa bersalah sedikit pun?" tanya Dina, merasa tidak percaya dengan sikap ibunya sendiri.
"Maksud kamu apa, Dina?" Farah—kakak pertamanya itu bertanya, tidak mengerti.
"Bahkan, untuk bersimpati saja Ibu tidak bisa? Apakah Ibu sudah tidak memiliki hati?" Dina mengabaikan pertanyaan dari sang kakak, fokusnya kali ini hanya pada ibunya yang diam sambil menatapnya santai.
Air mata Dina menetes begitu saja, rasa perih di hatinya, serta sesak di dadanya kembali timbul. Apalagi, melihat sikap ibunya saat ini yang seperti tidak memiliki rasa bersalah sedikit pun.
Mawar bangkit dari duduknya dan menghampiri Dina yang tiba-tiba menangis. "Ada apa, Dina? Kamu baru datang, tapi udah bilang yang enggak-enggak sama Ibu. Kamu bisa bicara baik-baik, kan?" tanyanya.
"Aku sudah berusaha baik selama ini, aku turuti apa yang diinginkan Ibu. Tapi, apa yang aku dapatkan? Pengkhianatan! Lalu, harus baik-baik seperti apa lagi yang harus aku lakukan, hah? Kalau Ibu aja udah nggak punya hati," jawab Dina.
Ema bangkit dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Dina.
"Berani sekali kamu bilang jika Ibu tidak punya hati. Jika Ibu tidak punya hati, Ibu tidak mau menolong kamu setelah bertahun-tahun kamu pergi dan membantah ucapan Ibu, Dina," balas Ema tak terima.
"Menolong apa? Bahkan, Ibu ingkar janji padaku. Setelah aku melakukan apa yang Ibu mau, apakah Ibu juga memberikan apa yang aku minta?" Dina menggelengkan kepalanya, ibunya selalu mengulur waktu untuk memberikan apa yang diinginkan Dina. Hingga saat ini saja ibunya tak kunjung memberikan itu padanya.
"Ibu akan kasih uang yang kamu inginkan sekarang." Dina tertegun mendengar itu, kenapa ibunya jahat sekali? Apalagi, ketika ia mendengar Ema kembali berkata, "Ibu bisa saja memberikan uang yang kamu minta kapan pun, tapi tidak untuk membantu pengobatan Harun."
"Ibu pikir, aku menukar kebahagiaan yang aku miliki dengan uang itu untuk apa kalau bukan untuk pengobatan Mas Harun? Aku rela meninggalkan Mas Harun dan menikah dengan Mas Galih, karena Ibu janji mau membantu aku. Tapi, kenyataannya mana? Disaat aku sudah mengikuti mau Ibu, tapi Ibu tidak memberikan uang itu padaku sepeser pun." Tangis Dina pecah, rasa sakitnya terasa luar biasa sekarang, dan itu karena ibunya sendiri.
"Ibu sudah bilang, Ibu akan kasih uang itu sekarang."
"Untuk apa? Aku sudah tidak membutuhkannya! Mas Harun sudah meninggal!"
"Justru karena Harun sudah meninggal, untuk itu Ibu mau memberikannya pada kamu sekarang."
"Nggak usah repot-repot, Bu. Simpan lagi uangnya, aku udah nggak butuh. Aku akan menukarnya lagi dengan bercerai dengan Mas Galih." Setelah mengatakan itu, Dina berbalik untuk pergi. Namun, pergelangan tangannya ditahan oleh Ema.
"Nggak usah macam-macam kamu, Dina."
"Silahkan lakukan apa pun yang Ibu mau sekarang, aku tidak akan mencegah apa pun. Terserah Ibu mau dendam pada keluarga Mas Harun sampai kapan, aku tidak akan peduli. Dan jangan pernah menghalangi aku untuk melakukan apa pun. Aku hanya akan hidup sesuai dengan jalan yang aku pilih sekarang." Setelah mengatakan itu, Dina melepaskan tangannya dari genggaman Ema. Lalu, benar-benar pergi dari sana dengan luka yang menganga.
"Dina!"
"Medina!"
Wanita itu terus berjalan, tanpa menghiraukan panggilan dari ibunya. Air matanya terus menetes, seiring rasa penyesalan yang memenuhi relung hatinya. Jika tahu akhirnya seperti ini, lebih baik saat itu ia tetap bersama Harun. Mau seberat apa pun jalannya, harusnya ia tetap berada di sisi Harun. Bukannya sok-sokan meminta bantuan pada ibunya dengan menukar kebahagiaan yang ia punya, agar mendapatkan uang untuk pengobatan Harun. Pada akhirnya, ia tak mendapatkan apa pun setelah berpisah dengan Harun.
---
Drrtt ... Drrtt ...
Suara nada dering itu, membuat tidur Aby dan Maya terusik. Kedua orang itu sama-sama membuka matanya, apalagi saat merasakan silau yang menusuk mata. Saat itu juga, Maya mengangkat kepalanya yang menyender pada bahu Aby, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mereka masih berada di teras depan sebuah ruko kosong.
Semalam mereka bingung karena belum menemukan kontrakan baru, jadi keduanya memutuskan untuk istirahat di sana sambil menunggu hujan yang turun lagi sampai reda. Tetapi, karena hujan sangat lama sekali, dan waktu semakin malam. Akhirnya Aby dan Maya ketiduran di sana.
Aby mengambil ponselnya yang terus berbunyi, lalu menjawab telepon yang ternyata dari Rio. Masih terlalu pagi, tapi sahabatnya itu sudah menghubunginya.
"Ada apa, Yo?"
"Kok, lo belum datang ke sekolah? Masih di mana?"
Cowok itu menjauhkan ponselnya dari daun telinga, lalu melihat jam di layar ponselnya. Ternyata sudah setengah 8. Jadi bukan Rio yang meneleponnya terlalu pagi, tapi ia yang bangun kesiangan.
"Gue kayaknya nggak bisa ke sekolah sekarang."
"Lho, kenapa?"