Rumah Sepasang Luka

Reza Lestari
Chapter #6

Hilang

Dina mengetuk pintu sebuah rumah kontrakan yang menjadi tempat tinggal Maya ketika bersama papanya, tapi pintu itu tak kunjung dibuka. Apakah Maya sedang tidak ada di sana?

"Apa Maya pergi ke sekolah, ya?" gumam Dina, apalagi sekarang jam menunjukkan pukul 10 pagi. Kemungkinan gadis itu memang sedang sekolah.

"Permisi," ucap seseorang, membuat Dina berbalik untuk melihatnya. Saat itu juga ia melihat wanita paruh baya berbadan besar yang baru saja menghampirinya. "Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanyanya.

"Saya mau ketemu Maya, Bu. Tapi, kayaknya dia lagi nggak ada di rumah, ya?" Dina balik bertanya, siapa tahu wanita yang ia ketahui pemilik kontrakan itu mengetahui saat Maya pergi.

"Oalah, Maya udah nggak ngontrak di sini lagi, Bu," jawab Bu Ratih, si pemilik kontrakan.

Dina tertegun mendengar itu.

"Maya nggak ngontrak di sini? Apa Ibu tau Maya pindah ke mana, Bu?"

"Kalau soal itu saya kurang tau, Bu. Maya pergi dari sini setelah dia bayar uang kontrakan yang nunggak ke saya selama 2 bulan. Dia pergi sama suaminya, mungkin diajak tinggal di rumah suaminya," jelas Bu Ratih, membuat Dina terdiam. Apakah benar Maya tinggal bersama Aby di rumahnya? Jika, ya. Maka ia akan sangat bersyukur sekali.

"Oh ya, tunggu sebentar, Bu," pinta Bu Ratih tampak mengingat sesuatu, lalu masuk ke kontrakan itu yang sekarang sudah kosong.

Dina mengernyitkan dahinya, tak tahu kenapa dirinya diminta untuk menunggu. Namun, wanita itu malah masuk ke dalam.

Tak lama kemudian, ia melihat pemilik kontrakan itu kembali keluar dan menghampirinya sambil memegang sebuah barang.

"Ini, Bu." Bu Ratih memberikan sebuah binder bersampul warna cokelat yang ia bawa dari dalam kontrakan, yang langsung diterima oleh Dina, meskipun belum mengerti apa maksud wanita itu memberikan binder itu padanya. "Saya menemukan buku binder ini waktu saya beres-beres kontrakan. Saya menemukannya di bawah kasur yang sebelumnya ditempati Pak Harun. Saya tidak bisa memberikannya pada Maya, karena dia sudah pergi. Kebetulan waktu itu saya beres-beresnya sehari setelah Maya pergi dari sini. Barangkali Ibu ketemu Maya, jadi saya titip ini sama Ibu saja," jelasnya, yang kini mulai dipahami oleh Dina.

"Iya, Bu. Nanti akan saya berikan kalau ketemu Maya," ucap Dina.

"Makasih, Bu. Kalau gitu saya permisi dulu, masih ada yang harus saya urus."

Dina mengangguk sebagai jawaban. Saat itu juga Bu Ratih pergi dari sana, sedangkan Dina masih bertahan di sana dengan kedua mata yang memandangi binder yang kini dipegangnya. Ia sangat mengenali binder itu, dulu dirinya lah pemilik dari binder itu. Dina suka menulis, menceritakan tentang kesehariannya bersama Maya dan Harun kala itu.

Setelah berpisah dengan Harun, ia kehilangan buku itu, dan tak menyangka jika ternyata selama ini Harun yang menyimpannya.

Dina duduk di sebuah kursi plastik yang ada di depan kontrakan, lalu ia melepaskan tali yang melingkar pada binder itu, sebelum akhirnya ia membukanya. Melihat lembar demi lembar yang dipenuhi coretan tangannya kala itu, hingga tangannya berhenti membuka lembaran kertas itu saat menemukan sebuah foto yang terselip di sana. Seingatnya dulu, ia tak menyimpan selembar foto di sana. Apakah Harun yang menyimpannya?

Ia membalikkan fotonya, hingga ia bisa melihat potret keluarga kecil yang tampak bahagia di foto itu. Di mana ada dirinya, Harun, dan Maya kecil berdiri di depan rumah mereka yang dulu.

Kedua mata Dina memanas melihat itu, bohong jika ia tak merindukan masa itu. Bahkan, jika waktu bisa diputar kembali, ia ingin kembali pada masa-masa lalu saat dirinya masih bersama Harun dan Maya.

Selain foto, ia juga menemukan tulisan yang bukan hasil coretan tangannya. Karena penasaran, ia pun membaca tulisan itu.

Din, aku tau, kamu tidak sejahat itu untuk mengkhianati aku.

Baru baca sebaris kalimat itu, air mata Dina sudah menetes begitu saja.

Aku tau bagaimana kamu, Din.

Mau serinci apa pun kamu menjelaskan padaku tentang apa yang kamu lakukan, yang aku lihat hanya kebohongan. Kamu tidak sejahat itu, hingga mempertaruhkan hubungan kita hanya untuk bisa tetap hidup enak.

Aku mengenalmu, Din.

Kamu tidak gila harta sampai rela meninggalkan aku dan Maya hanya demi uang dan gaya hidup mewah.

Waktu 20 tahun sudah sangat cukup membuatku tau seperti apa kamu, Din. Kamu bukan wanita gampangan yang mudah tergoda hanya karena uang.

Lihat selengkapnya