Aby menatap dompetnya dengan nanar, sudah menipis sekali uang yang dimiliki cowok itu sekarang. Padahal, ini baru hari ke-5 ia dan Maya mengontrak. Sekarang uangnya hanya tinggal lima ratus sepuluh ribu lagi. Apakah akan cukup? Sedangkan Aby belum menemukan pekerjaan. Ijazah SMA-nya belum ada, dan sepertinya masih lama. Karena kelulusan juga belum diumumkan. Jadi, ia kesulitan untuk melamar pekerjaan.
Sisa uang yang ia bawa dari rumah saat itu, ia pakai untuk membayar kontrakan almarhum Papa Maya yang menunggak 2 bulan, setelah itu dipakai untuk bayar kontrakan baru mereka, dan sekarang sisanya tinggal lima lembar lagi. Bagaimana jika uang itu habis juga disaat ia belum mendapatkan pekerjaan?
"Bengong mulu, kenapa lo?" tanya seseorang yang membuat Aby tersadar dan memasukkan dompet ke saku celana. Saat itu juga ia melihat Rio yang kini berdiri di sampingnya.
Sekarang keduanya tengah berada di kantin sekolah, jika Rio sudah memesan makanan dan tinggal menunggu. Berbeda dengan Aby yang malah melihat isi dompetnya dulu, sampai akhirnya melamun sendiri.
Aby dan Maya sudah mulai hidup irit, tapi tetap saja pengeluaran mereka tidak sedikit. Hanya untuk makan saja sehari tidak cukup tiga puluh ribu, mereka tidak punya alat memasak di kontrakan. Otomatis harus membeli makanan jadi di warteg.
"Lo kenapa, dah? Bilang sama gue," kata Rio, mereka baru bertemu kembali di sekolah hari ini. Dan sejak bertemu, ia melihat Aby yang berbeda. Contohnya seperti sekarang, sahabatnya itu jadi banyak melamun.
"Gue nggak apa-apa," balas Aby, lalu berjalan ke stand makanan. "Bang, batagor satu, ya. Sama teh tawar gratis," pesannya.
"Siap, ditunggu dulu."
Aby hanya mengangguk, lalu memberikan uang seharga satu porsi batagornya. Kemudian, berjalan menuju meja yang kosong, diikuti juga oleh Rio. Mereka duduk saling berhadapan dengan meja yang menjadi penghalang.
"Lo beneran nggak apa-apa, By?" tanya lagi Rio memastikan.
"Iya, lo liat sendiri gue baik-baik aja," jawabnya, lalu mengeluarkan ponsel yang ada di saku celana. Sebelum akhirnya ia menghubungi Maya.
"Kenapa, By?" tanya Maya di seberang telepon sana.
"Lo di mana, May?" tanya balik Aby.
"Di perpustakaan, kenapa?"
"Sama siapa?"
"Sama Fia."
"Gue ada di kantin, May. Lo ke sini, ya."
"Sekarang?"
"Hm."
"Ya udah, bentar."
"Oke, gue tunggu."
Setelah mengatakan itu, Aby memutuskan sambungan teleponnya. Bersamaan dengan itu, pesanannya dan Rio datang ke meja.
Jika Rio langsung memakan bakso yang di pesannya tadi, berbeda dengan Aby yang malah mendiamkan batagornya. Ia malah fokus dengan ponsel, membuka media sosial untuk mencari lowongan pekerjaan. Ia harus segera mendapatkannya dengan cepat.
"By, lo masih nggak mau kasih tau gue. Di mana lo ngontrak?" tanya Rio di sela-sela memakan baksonya.
"Nggak," jawabnya, tanpa mengalihkan pandangan pada cowok di hadapannya.
Rio berdecak, padahal ia sudah sangat penasaran di mana sahabatnya itu tinggal sekarang. Tetapi, Aby malah tertutup tentang kontrakannya itu. "Apa susahnya, sih, bilang sama gue? Toh, gue juga nggak bakalan ngetawain lo. Kita udah sahabatan lama, By. Masa lo gini sama gue sekarang," gerutunya.
Aby menghela napasnya, Rio masih tak berhenti juga penasaran di mana ia tinggal sekarang. Dan ia pun bukannya tak ingin memberi tahu, tapi untuk sekarang, cukup ia dan Maya saja yang tahu.
"Gue sama Maya udah sepakat, buat nggak ngasih tau siapa-siapa. Jangankan lo, keluarga gue dan Maya aja nggak ada yang tau. Jadi, biar adil. Nggak ada satu orang pun yang tau di mana gue dan Maya tinggal," jelas Aby, lalu fokus membaca postingan lowongan kerja yang ia temukan di salah satu akun lowongan kerja yang ada di Instagram.