Rumah Sepasang Luka

Reza Lestari
Chapter #8

Rahasia yang terbongkar

"Satu orang lagi mana?"

"Dia nggak bisa datang, Pak. Katanya, istrinya mau lahiran di kampung, jadi nggak bisa ikut kerja sekarang."

"Gimana, sih? Tau gitu dari awal bilangnya, kalau udah gini saya harus nyari satu orang lagi yang mau kerja bareng. Susah juga nyarinya, sudah 3 hari saya kerja hanya berdua sama si Rusdi. Saya tunggu-tunggu kalian, malah baru nyusul sekarang. Tapi, yang datang kurang satu."

Langkah Aby terhenti ketika mendengar itu, lalu ia menoleh, dan melihat ada 4 orang pria paruh baya yang berkumpul di pinggir jalan, tengah membahas sesuatu. Terlihat salah satu dari mereka tampak kesal, yang ia dengar karena satu orang tidak jadi datang.

"Kok, berhenti, By. Kenapa?" tanya Maya bingung, ia mendadak ikut berhenti berjalan setelah melihat cowok itu berhenti.

"Lo nggak apa-apa, kan, kalau pergi ke sekolah sendiri, May? Udah hapal jalannya, kan?" Maya mengernyitkan dahinya, ketika ditanya seperti itu.

"Emangnya kenapa?"

"Gue ada urusan, jadi lo berangkat sendiri aja, ya. Gue nggak jadi ke sekolah."

"Lo mau ke mana emang?"

Aby tidak menjawab, cowok itu malah mengambil dompet di saku celana belakanganya. Lalu, mengambil selembar uang seratus ribu. Sebelum akhirnya memberikannya pada Maya, seraya berkata, "Ini buat pegangan, jangan lupa makan nanti. Lo hati-hati di jalannya, kalau udah sampai sekolah kasih tau gue."

"Tapi, lo mau ke mana, By?" tanya lagi Maya yang masih penasaran.

"Udah, lo berangkat sekarang sana."

"Tapi—"

"Please, nurut sama gue."

Gadis itu menghela napasnya, lalu mengangguk. Sebelum akhirnya pergi meninggalkan Aby, dengan berbagai macam pertanyaan.

Setelah melihat Maya pergi, Aby putar balik dan berlari mengejar 4 pria paruh baya yang sudah pergi. Mungkin, ia bisa ikut kerja dengan mereka. Meskipun ia belum tahu pekerjaan apa yang dilakukan mereka.

"Pak! Tunggu saya, Pak!" teriaknya, tapi tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang berhenti.

"Bapak berempat, tolong berhenti, Pak!" Kali ini teriakan Aby berhasil membuat keempat orang itu berhenti, dan berbalik badan menatap ke arahnya dengan bingung.

"Kamu panggil kami?" tanya salah satu dari mereka, yang membuat cowok itu menganggukkan kepalanya. "Ada apa, ya?"

"Maaf sebelumnya, Pak. Tadi saya nggak sengaja mendengar pembicaraan kalian, tentang salah satu orang yang nggak bisa datang karena istrinya lahiran di kampung," jelas Aby dengan napas tersengal-sengal karena berlari.

"Lalu?"

"Kalau boleh, saya mau ikut kerja sama kalian. Buat ganti orang yang nggak bisa datang itu."

Keempat pria itu tampak terkejut mendengar maksud Aby. Bagaimana tidak, mereka melihat cowok itu memakai seragam SMA. Bukanya pergi sekolah, malah mendaftarkan diri untuk ikut bekerja.

"Kamu yang benar aja, saya nggak bisa bawa kamu ikut kerja," ucap pria bertubuh kurus dan tinggi, dengan kumis tebal yang terlihat agak galak itu.

"Kenapa, Pak?" tanya Aby.

"Saya tidak memberikan pekerjaan pada anak SMA yang bolos sekolah. Pekerjaan ini sangat penting, bukan untuk main-main," jawab pria berkumis itu.

"Saya nggak main-main, Pak. Saya juga nggak bolos sekolah, kelas 12 sudah sudah tidak ada pelajaran lagi di sekolah lagi, saya udah selesai UN. Sekarang saya lagi butuh pekerjaan, Pak. Tolong terima saya buat ikut kalian kerja," pintanya dengan wajah memelas, ia butuh pekerjaan cepat. Maka apa pun kerjaannya, akan ia lakukan. Asalkan halal.

"Buat apa kamu kerja? Kamu masih sekolah, masih tanggung jawab orang tua kamu," ujar pria berkumis itu.

"Saya udah nggak tinggal sama orang tua, Pak. Sudah seminggu saya tinggal di kontrakan. Dan saya butuh uang untuk makan dan bayar kontrakan nanti. Jadi, saya mohon ... izinkan saya untuk ikut kerja dengan kalian."

"Tapi, pekerjaan kami berat. Kamu belum berpengalaman sama sekali, yakin kamu mau ikut?"

"Saya yakin, Pak. Saya akan berusaha, dan nggak akan ngecewain."

Pria berkumis itu menoleh pada tiga rekannya, meminta persetujuan. Tetapi, yang lainnya malah menyerahkan semuanya pada pria itu.

"Ya udah, kamu boleh ikut. Saya juga bingung mau cari pengganti ke mana, saya asli dari kampung. Ribet kalau harus nyari di sini." Senyum Aby mengembang setelah mendengarnya, lalu cowok itu mengucapkan terima kasih. Baru setelah itu, ia mengikuti mereka untuk ke tempat kerja.

---

Maya merasa aneh, kenapa semua orang yang ada di sekolah kompak menatapnya dengan berbagai tatapan. Hampir sepanjang lorong, siswa dan siswi memperhatikannya sambil berbisik-bisik. Apakah ada yang aneh dengan dirinya?

Gadis itu menatap penampilannya pagi ini, ia merasa tidak ada yang aneh. Masih seperti biasanya, lalu kenapa mereka terus menatapnya?

"Pada kenapa, sih?" gumamnya.

"Muka aja polos, tapi busuk juga kelakuannya."

"Percuma juga pinter, kalau kelakuannya buruk."

"Jijik banget nggak, sih?"

Bisikan-bisikan yang tak jauh seperti itu bunyinya, terus Maya dengar sepanjang koridor. Hingga langkah kakinya itu terhenti, ketika ada dua orang yang menghadang jalannya.

"Oh, jadi ini cewek yang katanya cantik, pinter, tapi busuk itu?" Dahi Maya mengernyit mendengar itu, maksudnya apa? Kenapa gadis yang menghadangnya itu tiba-tiba berbicara seperti itu?

"Jijik banget gue lihatnya, sok polos banget lagi mukanya."

"Maksud kalian apa, ya? Ngatain gue?" tanya Maya, ia bukanlah murid pendiam di sekolah. Yang hanya akan diam saja ketika ada orang yang mengganggunya.

"Emang bener, kan? Muka lo sok polos, padahal aslinya. Iuuuu ... menjijikkan," ujar seorang gadis yang ia ketahui namanya itu Seruni. Anak kelas 12 IPS 5.

"Lo punya masalah sama gue? Ngomong! Salah apa gue sama lo, hah?"

Lihat selengkapnya