Rumah Sepasang Luka

Reza Lestari
Chapter #12

Berat dan perih

Aby berhenti mengaduk semen yang sudah tercampur pasir dan air, ketika kedua tangannya sudah merasa pegal dan sakit. Lalu, ia menghela napasnya dan menyeka keringat yang membasahi wajahnya. Ini hari kedua Aby bekerja sebagai kenek bangunan, tapi ia merasa tubuhnya sudah sakit semua. Pekerjaannya juga sangat menguras tenaga. Aby lelah, ia tak kuat untuk bekerja seperti itu.

"By, berhenti dulu. Istirahat, ayo makan siang," panggil Pak Gunawan, membuat Aby menoleh dan berjalan menghampiri pria paruh baya itu.

"Saya bawa bekal dari rumah, Pak. Jadi, saya nggak ikut Bapak-bapak ke warteg kali ini," kata Aby. Mereka memang tidak disediakan makan oleh pemilik rumah yang sedang mereka bangun. Sesuai kesepakatan yang telah disetujui oleh Pak Gunawan dengan pemilik rumah sebelumnya. Karena pemilik rumah sibuk, tidak bisa menyediakan makanan untuk mereka setiap hari. Jadi, urusan makan, mereka menggantinya dengan uang, sehingga para pekerja bisa membeli makan sesuai keinginannya. Namun, meskipun begitu, tapi pemilik rumah itu selalu datang pagi-pagi dan memberikan mereka sarapan sekalian berangkat kerja.

Jika kemarin Aby ikut makan siang di warteg, mulai hari ini ia bekal nasi dari rumah. Biarkan uang makannya ia kumpulkan saja untuk tambahan. Kebetulan di kontrakan ia sudah memiliki alat makan dan memasak yang dipinjamkan Bu Hartati.

"Oalah, gitu. Ya udah, kalau gitu kami ke warteg dulu, ya. Kamu nggak apa-apa ditinggal sendiri?" tanya Pak Gunawan.

"Nggak apa-apa, Pak. Kalian santai aja makannya nanti, nggak usah terburu-buru," jawab Aby.

"Ya, udah. Kamu juga makan yang banyak, ya."

Aby tersenyum, lalu mengangguk sebagai jawaban.

Pak Gunawan pun mengajak rekan kerjanya untuk segera pergi ke warteg setelah mereka berpamitan pada Aby.

Aby berjalan menuju tempat ranselnya berada, lalu ia mengeluarkan kotak makan yang ia bawa dari kontrakan dan duduk lesehan di tanah. Bekal yang ia bawa adalah nasi dengan lauk telur dadar dan kecap manis. Ia belum bisa memasak, jadi ia memasak yang mudah-mudah dulu, dengan modal cara yang ia lihat dari YouTube.

Lelaki itu memotong telur yang sudah dituang kecap dengan sendok, lalu menambahnya dengan nasi, sebelum akhirnya ia melahap dan mengunyahnya pelan.

Seketika Aby berhenti mengunyah kala merasakan asin pada telur dadarnya, meskipun sudah ditambah kecap. Namun, tetap saja rasa asin itu masih bisa ia rasakan. Lalu, ia berusaha menelannya dengan susah payah, dan tanpa sadar air matanya menetes begitu saja

Ini terlalu berat bagi Aby. Menanggung tanggung jawab sebagai kepala keluarga dalam keadaan tidak punya apa-apa, dan diusia muda ternyata tidak mudah. Terlalu sulit untuk dijelaskan, dan terlalu berat yang ia rasakan.

Semuanya terlalu tiba-tiba, Aby belum memiliki bekal apa-apa untuk menjadi kepala rumah tangga. Sebelumnya, ia tak pernah berpikiran untuk menikah muda. Apalagi, harus kerja keras seperti ini. Tidak pernah terlintas sedikit pun di pikiran Aby. Namun, keadaan mengubah segalanya, hanya karena kejadian salah paham, ia harus berakhir seperti sekarang.

Sekarang Aby mempertanyakan, apakah keputusannya saat itu salah? Apakah saat itu seharusnya ia memang kabur bersama Rio? Nyatanya, apa yang pernah ia katakan pada Rio saat itu, tidaklah mudah untuk ia jalani saat ini.

Aby menggelengkan kepalanya, tidak ada yang salah dengan keputusannya saat itu, dan tidak ada yang perlu disesali. Namanya hidup, tidak akan selalu berada di atas. Kali ini mungkin memang bagian Aby yang harus merasakan dititik paling bawah untuk bisa memahami hidup. Ini ujian untuknya yang selama ini merasakan hidup enak.

Lelaki itu menghapus air matanya kasar, lalu kembali melanjutkan makan. Lebih tepatnya, memaksakan diri untuk tetap makan, meskipun rasanya tidak enak. Dengan hati yang berusaha menenangkan dirinya. "Nggak apa-apa, hanya sekarang aja. Nanti belajar masak lagi sampai bisa bikin makanan enak. Sekarang makan yang ada dulu."

Namun, lagi dan lagi air matanya menetes.

---

Maya berhenti melangkah saat kakinya sudah merasa lelah. Sudah berjam-jam ia berjalan ke sana ke mari untuk mencari pekerjaan, tapi ia tak kunjung mendapatkannya. Sekarang hari sudah siang, dan cuaca semakin panas terik.

Kedua matanya menatap ke arah warteg yang tak jauh dari tempatnya berpijak sekarang, lalu ia meraba perutnya, Maya merasa lapar. Berjalan jauh di bawah teriknya matahari, membuat energinya tersedot lebih cepat.

Lalu, tangannya merogoh saku celana, dan mengambil uang yang ia kantongi tadi. Ia menghela napasnya berat, kala melihat sisa uang yang dimilikinya itu hanya tinggal 10 ribu lagi.

Gadis itu ingin mampir ke warteg untuk makan, tapi sadar jika dirinya tak punya uang sekarang. Ia dan Aby benar-benar sedang mengirit, karena sisa uang yang dimiliki Aby sudah sangat menipis. Bahkan, mungkin tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan 1 bulan ke depan.

"Ayo pulang, May," ucapnya pada diri sendiri, lama-lama berdiri di sana malah membuatnya merasa sakit hati.

Gadis itu pun kembali melangkahkan kakinya untuk segera pulang, kebetulan jalan menuju ke kontrakannya tak terlalu jauh dari sana. Sehingga ia tak perlu menahan lapar lebih lama lagi, ia bisa langsung makan saat sampai di kontrakan nanti.

Lihat selengkapnya