Rumah Sepasang Luka

Reza Lestari
Chapter #14

Berjuang bersama

"Assalamualaikum," ucap Aby saat memasuki rumah, tapi ia tak mendengar sahutan. Di mana Maya?

Ia pun berjalan menuju kamar untuk menyimpan tas dan memastikan keberadaan gadis itu. Tetapi, ia tak melihat ada Maya juga di sana. Ke mana gadis itu sebenarnya?

"May?" panggilnya, tapi tidak mendengar sahutan. Hanya saja ia mendengar gemercik air dari kamar mandi. Saat itu juga ia berjalan ke belakang, menuju kamar mandi, hingga ia melihat gadis itu yang tengah membersihkan pakaian. Ini sudah petang, kenapa gadis itu masih mencuci?

Bahkan, ia melihat banyak cucian yang sudah bersih di sana. Perasaan, baju kotornya tidak sebanyak itu, lalu itu pakaian milik siapa saja? Sampai ada 5 ember penuh.

"May," panggil lagi Aby, yang kini berhasil membuat gadis itu menoleh padanya.

"Eh, lo udah balik," kata Maya sambil mematikan keran air. Lalu, gadis itu keluar dari kamar mandi dan menghampiri Aby. "Kapan lo baliknya? Kok, gue nggak denger?"

"Baru aja, gue pangil lo, tapi nggak disahutin."

"Maaf, kayaknya nggak kedengeran karena suara air."

Aby mengangguk tidak mempermasalahkan itu, hanya saja ia masih heran dengan cucian Maya yang begitu banyak. "Itu kenapa bisa banyak cucian lo? Lo nyuci semua pakaian lo?" tanyanya.

"Sebenarnya, bukan pakaian gue. Tapi, punya Mbak Yuli, Mbak Erika, Mbak Susan, Mbak Lastri, sama Bu Dwi," jawab Maya, membuat dahi cowok itu mengernyit. Untuk apa juga Maya mencuci pakaian para tetangganya? Lima orang yang disebut Maya adalah orang-orang yang juga mengontrak pada Bu Hartati.

"Lo ngapain nyuci baju mereka, May? Banyak banget lagi, lo nggak capek apa?" Aby benar-benar bingung, niat sekali gadis itu mencuci pakaian orang lain.

"Tadi gue nawarin jasa cuci pakaian dan setrika ke mereka. Eh, merekanya mau semua. Ya udah, gue ambil. Karena mereka nggak punya waktu buat nyuci sendiri, mau ke tempat laundry juga dari sini jauh banget. Jadi, mereka terima tawaran dari gue. Mereka mau bayar gue 50 ribu untuk satu kali nyuci, 50 dikali 5. Gue dapat dua ratus lima puluh ribu, kan lumayan," jelas gadis itu, membuat Aby tak percaya jika Maya bisa berpikiran seperti itu.

"Tapi, lo nyuci pakai tangan, May. Bukan pakai mesin, belum lagi nanti lo nyetrika. Kenapa lo malah nawarin jasa cuci pakaian dan setrika segala, sih?" Entah kenapa, Maya mendengar nada tak suka ketika Aby berbicara. Apakah cowok itu malu karena ia jadi buruh cuci dan gosok?

"Gue mau bantuin lo nyari uang, By. Emang salah? Daripada gue diem aja, mending gue cari apa aja yang bisa gue kerjakan, bukan? Gue juga nggak tega kalau lo aja yang kerja buat dapat uang. Apalagi, setelah gue tau pekerjaan lo itu berat banget." Maya menundukkan kepalanya setelah mengatakan itu, ada rasa sedih di hatinya. Cowok itu seperti tak bisa menghargai usahanya, padahal ia hanya berniat untuk membantu.

Selama sebulan ini Maya merasa malu karena menyusahkan Aby, apalagi cowok itu sampai harus meminjam uang pada Rio untuk biaya makan mereka yang tak cukup. Maya juga berhenti mencari kerja di luar karena tak kunjung mendapatkan, untuk itu tadi ia ada ide untuk membuka jasa cuci dan gosok untuk para tetangganya.

Lihat selengkapnya