Rio menatap Aby dengan kepala dimiringkan, bahkan mulutnya sampai menganga sangking tak percaya ketika melihat wajah sahabatnya itu.
"Lo ngapain, sih, liatin gue terus, Yo? Risih gue!" protes Aby, sejak kedatangannya ke kelas. Ia risih karena menjadi pusat perhatian, dan seolah tak cukup, sekarang Rio begitu jelas memperhatikannya. Sekarang keduanya memang berada di dalam kelas, menunggu wali kelas masuk memberikan surat kelulusan.
"By, kok, muka lo agak item, ya? Perasaan selama ini putihan lo, daripada gue. Terus sekarang kenapa kebalik?" tanya Rio.
Aby berdecak, ia kira kenapa. Ternyata masalah warna kulitnya yang berubah jadi sedikit gelap. Pantaslah, selama sebulan ia bekerja di bawah terik matahari. Dan Rio belum tahu itu.
"Kata Maya juga lo kerja, By. Makanya sebulan ini lo nggak datang ke sekolah. Kalau boleh tau, lo kerja apa?" lanjut Rio, dipikiran cowok itu banyak sekali pertanyaan yang ingin diajukan pada Aby.
"Jadi kenek," jawab Aby seadanya.
"Kenek angkot?"
"Bangunan."
Kedua mata Rio membulat mendengar itu, seraya bertanya, "Maksud lo?"
"Gue kerja sebagai asisten tukang bangunan, bisa dibilang seperti itu," jelas Aby, membuat Rio semakin tak percaya.
"Yang benar aja lo, By. Itu kerjanya berat banget. Pantes aja muka lo jadi agak item, pasti kerjanya di lapangan. Lo kenapa mau kerja itu, By? Kenapa nggak cari kerja yang lain?"
Aby menghela napasnya berat, kalaupun ada pekerjaan lain. Mungkin, ia akan memilih pekerjaan itu. Masalahnya, saat itu hanya menjadi kenek bangunan yang menjadi ladang mencari rezekinya. Jadi, mau tak mau ia kerja di sana. Tetapi, ia tetap ikhlas menjalaninya. "Udah rezeki gue kerja di sana, jadi disyukuri aja. Masih untung ada yang mau terima gue buat kerja," ucapnya, membuat Rio prihatin. Kenapa nasib sahabatnya jadi seperti itu sekarang?
"Lo kenapa kuat banget, sih, By? Gue kalau ada di posisi lo, mungkin udah nyerah duluan." Ada nada sedih ketika Rio mengucapkannya, cowok itu benar-benar tak tega dengan kehidupan Aby dan Maya sekarang. Keduanya harus bekerja sangat keras diusia yang masih muda. Di saat Rio dan teman-teman yang lain masih asyik nongkrong. Aby malah sedang berjuang untuk mendapatkan uang agar bisa makan.
"Kuat nggak kuat, gue harus tetap kuat, Yo. Gue punya tanggung jawab besar sekarang. Selain jagain Maya, gue juga harus memastikan kebutuhan dia terpenuhi semua."
Takdir sudah mengubah semuanya dalam sekejap, salah satunya pemikiran Aby. Cowok itu jadi lebih berpikir dewasa, tidak lagi bercanda. Apalagi, jika sudah menyangkut kehidupannya dan Maya yang sekarang. Aby begitu bijak, membuat Rio yang notabenenya sahabat dari kecil. Benar-benar tak percaya dengan semua perubahan yang terjadi secara mendadak.
"Lo kalau butuh bantuan, jangan sungkan bilang ke gue, ya, By. Insya Allah, gue akan bantu lo sebisa gue." Aby tersenyum mendengar itu, lalu menganggukkan kepalanya.
"Oh ya, nih, gue mau bayar utang. Makasih, ya, udah mau kasih pinjam," ucapnya sambil memberikan tiga lembar uang seratus ribuan pada Rio. Seminggu lalu, ia terpaksa harus meminjam uang pada sahabatnya itu. Karena ia belum gajian dan uangnya sudah habis. Untung saja Rio mau memberinya pinjaman, dan langsung mentransfernya saat itu juga.
"Ya elah, By. Lo kayak ke siapa aja, nggak diganti juga gue ikhlas. Jadi, uangnya lo ambil lagi."
"Nggak bisa. Utang tetap utang, harus dibayar. Gue nggak mau nanggung di akhirat nanti, karena nggak bayar utang."
"Tapi, gue nggak anggap ini utang."
"Tapi, gue niatnya pinjam, bukan minta. Jadi, ambil itu uang. Lagian, lo tenang aja. Sekarang gue udah punya cukup uang, kemarin baru gajian," jelasnya dengan senyuman, sebisa mungkin ia terlihat baik-baik saja di hadapan Rio.
"Ya udah, deh. Gue terima, ya." Aby mengangguk sebagai jawaban, ia tak ingin merepotkan siapa pun. Mau bagaimanapun keadaannya sekarang, ia akan berusaha untuk memakai uang hasil kerja kerasnya sendiri untuk menghidupi dirinya dan juga Maya. "Oh ya, dua Minggu lalu gue lihat nyokap lo datang ke sekolah lagi beberapa kali. Beliau masih cariin lo, tapi nggak ada. Maya juga pas lagi nggak datang ke sekolah, terus nyokap lo tanya keberadaan kalian ke gue. Ya, gue jawab nggak tau. Karena lo nggak ngasih tau di mana lo ngontrak."
Aby kembali menghela napasnya berat, ia sebenarnya tak tega pada mamanya. Tetapi, mau bagaimana lagi. Ia takut Alin kena marah Yuda jika bertemu dengannya.
"Kalaupun lo tau, gue mohon jangan kasih tau apa pun tentang gue, Yo. Jangan kasih nomor telepon baru gue atau Maya juga, gue mohon banget sama lo," pintanya, membuat Rio di posisi sulit jika seperti ini. Ia tak ingin berbohong pada Alin, tapi ia juga tidak mau membuat Aby kecewa jika ia memberitahu Mama sahabatnya itu.
"Gue nggak akan ngomong apa-apa ke nyokap lo, asalkan sekarang lo kasih tau alamat kontrakan lo ke gue," ujar Rio, mengajukan syarat. Membuat Aby mendengus, sahabatnya itu masih berusaha ingin tahu di mana tempatnya ia tinggal.
"Buat apa, sih, Yo? Lo ngebet banget minta alamat kontrakan gue. Udahlah, lagian gue baik-baik aja, kok. Kontrakan yang gue dan Maya tempati juga nyaman. Jadi, lo jangan khawatir, nggak perlu lah lo ke sana."
"Lo jangan geer gue mau ke sana, ya. Gue minta alamat kontrakan lo, karena gue mau kirim paket."
"Paket apaan?"
"Gue sama anak-anak udah beliin kado pernikahan buat lo dan Maya. Nah, karena kadonya gede, nggak mungkin dong gue bawa ke sekolah, jadi nanti gue paketin aja. Sekarang kasih tau alamat lo sama gue," jelasnya.
Aby tahu, di balik ini semua. Cowok itu juga ingin tahu di mana ia tinggal, ia sudah hapal sekali bagaimana cara Rio untuk mendapatkan sesuatu yang ingin diketahuinya.
"Nggak usahlah, ngapain kasih gue kado segala, sih? Gue nggak mau ngerepotin lo." Padahal, Aby tak mengharapkan apa pun dari teman sekelasnya. Dengan mereka tutup mulut tentang pernikahannya dengan Maya saja itu sudah cukup untuknya.