Maya mengetuk pintu rumah yang terdapat plang Eva Tailor, tempat jahit yang direkomendasikan oleh Bu Hartati padanya. Tempat itu tidak terlalu jauh dari kontrakan, hanya berjalan 5 menit, ia sampai di rumah minimalis berlantai 1 itu. Niat ia datang ke sana adalah untuk membuat baju yang akan dipakainya saat hari perpisahan nanti.
Gadis itu tidak membeli baju jadi, setelah melihat-lihat harga dress di setiap toko yang ia kunjungi. Harganya mahal-mahal, untuk itu ia memilih untuk membeli kain sendiri, lalu membawanya ke tukang jahit. Kebetulan sekali di dekat kontrakannya ada tempat jahit.
Senyum Maya mengembang ketika melihat wanita paruh baya, yang membuka pintu untuknya.
"Siang, Bu," sapanya.
"Siang, ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya wanita paruh baya itu.
"Saya mau ketemu Ibu Eva," jawabnya, masih dengan senyuman.
"Kebetulan Ibu Eva itu adalah saya."
"Oh, alhamdulillah Ibu lagi ada di rumah. Perkenalkan saya Maya, Bu." Gadis itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, yang langsung dibalas oleh Bu Eva.
"Ayo masuk," ajak Bu Eva, yang dibalas dengan anggukan.
Maya pun ikut masuk rumah, dan duduk setelah di persilahkan. Ia melihat banyak mesin jahit di rumah itu, dan banyak model dress, kebaya berbagai warna yang menggantung di lemari kaca. Modelnya juga bagus-bagus, sudah modern. Meskipun hanya penjahit rumahan, tapi ia yakin kualitas jahitnya nggak akan mengecewakan.
"Saya belum pernah lihat kamu sebelumnya, kamu tinggal di mana?" Pertanyaan itu, membuat Maya mengalihkan pandangan dari lemari itu pada Bu Eva.
"Saya ngontrak di rumah Bu Hartati, Bu. Baru sebulan lebih semingguan," jawab gadis itu.
"Yang masih SMA, tapi udah nikah itu?" Maya terdiam setelah mendengar pertanyaan itu, ia dan Aby memang sempat jadi hangatnya pembicaraan orang di sana. Bahkan, ada beberapa orang yang berpendapat negatif tentang pernikahannya. Tetapi, Aby bilang jangan didengar. Karena mereka tidak tahu apa yang terjadi.
"Maaf, saya tidak bermaksud lain, kok. Cuma agak kaget aja, setelah dengar dari tetangga. Tapi, saya juga tidak akan berpendapat apa-apa. Bukan hak saya mengomentari pernikahan kalian, meskipun masih muda. Tetapi, saya yakin kalian punya alasan sendiri," jelas Bu Eva, sadar akan pertanyaannya barusan sedikit menyinggung.
Gadis itu tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. Bu Eva sangat bijak, ia suka Ibu-ibu yang seperti itu. Bukan yang suka nyinyir di depan dan di belakangnya.
"Kalau boleh tau, ada apa cari saya, Mbak?" tanya Bu Eva, mengalihkan pembicaraan.
"Saya mau jahit baju, Bu. Buat perpisahan, saya dapat rekomendasi dari Bu Hartati. Katanya, jahitan Ibu rapi dan bagus-bagus modelnya. Makanya saya ke sini, apa Ibu bisa?" tanya balik Maya.
"Bisa, Mbak. Saya nggak mungkin nolak orang yang mau jahit ke saya, malahan bersyukur ada yang mau jahit di sini. Udah setengah tahun saya sepi pelanggan, Mbak. Terus udah nggak ada yang mau les jahit juga di sini," jelas Bu Eva, ada kesedihan ketika Maya mendengar ucapannya.
"Kenapa bisa sepi, Bu?" tanyanya penasaran.
"Ada penjahit baru, masih muda, dan pastinya punya model baju lebih banyak dan baru lagi. Jadi, lebih banyak datang ke sana kalau mau jahit. Dia juga buka butik, jarak tempatnya itu 5 rumah dari sini, Mbak. Tapi, saya nggak mempermasalahkan itu, kan setiap orang punya hak masing-masing. Urusan rezeki juga udah ada yang atur, buktinya Mbak datang ke sini. Berarti udah rezeki saya," jawab Bu Eva dengan senyum ramah dan tulus.
"Tapi, model baju Ibu juga bagus-bagus. Modern, dan masih trend di kalangan anak muda. Saya aja sampai terpana waktu lihat tadi, jadi Ibu masih memiliki peluang banyak agar usahanya kembali berkembang dan rame lagi." Maya tidak berbohong ketika mengucapkan itu, bukan hanya untuk menghibur Bu Eva saja. Tetapi, melihat hasil jahitan wanita yang terpajang di lemari itu, membuatnya yakin jika peluang Bu Eva masih banyak.
Apalagi, ketika ia mampir ke toko baju sebelum akhirnya memutuskan beli kain saja. Model-model baju yang dijual di toko itu, semuanya hampir ada di lemari kaca Bu Eva.
"Kenapa Ibu nggak jualan online aja?" saran Maya, sekarang sudah maraknya jualan online. Ia saja kalau punya modal dan tahu mau menjual apa, ingin jualan online juga agar bisa membantu Aby.
"Saya nggak ngerti caranya, Mbak. Pengetahuan saya tentang teknologi dan sosial media sekarang sangat minim. Saya lahir dan besar di kampung, saat itu ponsel bukan barang kebutuhan yang utama di sana. Saya terlalu jauh ketinggalan masa, punya ponsel pun saat pindah ke sini ikut suami. Dan ponsel yang saya punya juga cuma yang bisa kirim pesan dan telepon. Kalau lagi bosan, dipakai main ular. Model-model baju baru yang saya buat juga, kebanyakan dari hasil request pelanggan yang setiap jahit bawa contoh sendiri ingin baju sesuai keinginannya. Saya emang sering dengar yang namanya jualan online, tapi ya gitu. Saya tidak tau caranya, nggak ada yang ajari juga. Saya tidak memiliki anak," jelas Bu Eva, membuat gadis itu prihatin. Lalu, ia berpikir. Pasti ada cara agar usaha wanita paruh baya itu, bisa menarik perhatian orang lagi.
"Kalau misalnya saya yang promosikan baju-baju jahitan Ibu di sosial media saya gimana, Bu?" tawar Maya.
"Emang Mbaknya mau?" Maya langsung mengangguk cepat. Teman-temannya paling suka shopping, siapa tahu mereka tertarik untuk membeli baju dari Bu Eva.
"Saya udah lama punya niat buat jualan online, Bu. Tapi, bingung mau jualan apa. Jadi, sekarang saya coba jualin produk Ibu aja. Siapa tau banyak yang minat, nanti saya foto semua model baju Ibu. Terus promosi di WhatsApp dan Instagram dulu. Kalau ada yang minat, Ibu open pre-order. Nanti yang mau beli bayar setengah dulu dimuka, kalau barangnya udah jadi dan siap dikirim, baru minta dibayar sisanya. Nanti juga kalau udah banyak pembeli, Ibu bisa buka marketplace sendiri. Agar produk ibu bisa tersebar lebih luas lagi." Maya menjelaskannya dengan sangat semangat pada Bu Eva, membuat wanita itu menatapnya dalam. Baru kali ini ia mendapatkan saran yang dijelaskan dengan begitu lengkap, Maya juga terlihat serius. Meskipun sebenarnya Bu Eva tampak masih ragu, apalagi mereka baru bertemu sekarang. Tetapi, ketika melihat tatapan mata Maya, entah kenapa orang akan selalu mudah udah percaya. Termasuk, Bu Eva.
"Gimana, Bu? Nanti saya juga akan ajari Ibu media sosial. Lagipula kita nggak akan tau kalau belum dicoba, Bu. Usaha dan doa dulu, untuk hasilnya kita serahkan sama yang di atas," lanjut Maya, membuat senyum Bu Eva mengembang lebar. Wanita itu suka dengan cara berpikir Maya.
"Jika kamu tidak keberatan, maka Ibu mau-mau aja. Justru, terima kasih sudah mau membantu usaha Ibu agar bisa kembali berkembang," kata Bu Eva, yang semakin membuat senyum Maya mengembang lebar.
"Ibu tenang aja, saya akan berusaha keras. Insya Allah, kalau niat kita baik, akan dipermudah, kan?"
Bu Eva mengangguk sebagai jawaban, Maya benar-benar terlihat sangat tulus, dan memiliki kemauan yang tinggi. "Ya udah, sekarang Ibu ukur badan kamu dulu buat bikin baju kamu nanti. Foto-foto baju ibunya setelah kamu diukur, nanti Ibu pinjamkan semua model bajunya," katanya.
"Iya, Bu."
Wanita paruh baya itu mengajak Maya ke tempat yang biasanya ia menjahit, lalu mengeluarkan buku dan pita meteran untuk mengukur tubuh Maya.