Rumah Sepasang Luka

Reza Lestari
Chapter #18

Shock

"Mbak Tia dan Mbak Maza niat banget mau bantuin aku," kata Maya ketika melihat kedua perempuan itu datang ke kontrakannya sambil membawa banyak peralatan yang akan digunakan untuk membuat foto produk.

Tatiana a.k.a Tia adalah anak satu-satunya Bu Hartati yang umurnya selisih 7 tahun dengan Maya. Sedangkan Mazaya, perempuan 30 tahun itu adalah tetangga Tia, rumah mereka saling berhadapan. Umur Tia dan Mazaya selisih 5 tahun, dan Mazaya sudah menikah, sedangkan Tia belum.

Dari awal Maya tinggal di sana, kedua perempuan itu yang datang padanya untuk berkenalan dan mengakrabkan diri. Tentu ia senang sekali bisa berkenalan dengan mereka yang sangat baik padanya. Apalagi, semenjak kenal mereka, ia tak begitu kesepian saat Aby pergi bekerja.

"Ya, harus niat banget, dong, May. Kalau cuma niat aja, belum tentu langsung dilakukan," ujar Tia, yang diangguki setuju oleh Mazaya.

"Iya, May. Kalau mau bantu itu jangan setengah-setengah, harus full," tambah Mazaya, membuat senyum Maya mengembang. Lalu, mengangguk.

"Iya, Mbak. Sebelumnya aku makasih banyak, ya."

"Sama-sama, May."

"Kalau gitu kita masuk, yuk," ajak Maya yang langsung diangguki keduanya.

Namun, ketika hendak masuk, mata Tia tak sengaja melihat seseorang yang baru saja datang ke kontrakan no 5. Seorang lelaki yang memakai kaos oblong warna putih dan celana pendek hitam, sambil menenteng sebuah kantong plastik hitam. Lelaki itu masuk ke dalam kontrakannya.

Tia berdecih melihat itu.

"Bentar, bentar," kata Tia pada Maya dan Mazaya, membuat dua perempuan itu menautkan alisnya bingung. "Tolong dipegang dulu, May." Tia memberikan tas make up beserta heels yang dibawanya pada Maya, dan langsung diterima gadis itu.

Lalu, Tia mengecek sesuatu di ponselnya, mencari sebuah alasan. Hingga senyumnya mengembang lebar saat menemukan alasan yang cukup untuk membuat sosok lelaki yang ia lihat barusan, pergi dari sana.

Tanpa berkata apa pun, Tia tiba-tiba pergi meninggalkan Maya dan Mazaya yang masih kebingungan.

"Tia, mau ke mana?" panggil Mazaya yang tak mendapatkan sahutan.

Kebingungan mereka bertambah saat melihat Tia datang ke kontrakan nomor 5. Gadis itu terlihat meniup kedua tangannya, sebelum akhirnya tangan Tia menggedor pintu kontrakan itu dengan keras dan tak sabarahan.

"Wah, bahaya," gumam Mazaya, tapi masih terdengar oleh Maya.

"Apa yang bahaya, Mbak?" tanya Maya bingung.

"Taring Tia udah keluar," jawabnya yang masih tak dimengerti oleh Maya apa maksudnya. "Ayo, samperin dulu." Mazaya mengajak Maya untuk menghampiri Tia.

"Tiana, ada apa?" tanya lelaki itu saat melihat wajah gadis di hadapannya yang tak pernah menunjukkan wajah ramahnya.

"Gue kasih lo waktu 5 menit untuk beres-beres dan pergi dari sini," ujar Tia tiba-tiba.

Dahi lelaki itu mengernyit bingung, seraya kembali bertanya, "Kenapa aku harus pergi dari sini?"

"Pakek nanya, ini tanggal berapa, hah? Dan lo belum bayar kontrakan, kalau nggak bisa bayar mending pergi dari sini, deh. Masih banyak orang yang mau ngontrak di sini," ujar Tia sambil menunjukkan ponselnya yang terdapat list orang-orang yang sudah membayar dan yang belum bayar kontrakan. Dan nama lelaki itu belum mendapatkan centang sebagai konfirmasi pembayaran.

Maya terdiam saat melihat Tia. Gadis itu terlihat seram saat menagih uang kontrakan, tidak ada baik-baiknya sama sekali. Jika misalnya ia dan Aby telat bayar kontrakan, apakah Tia akan bersikap seperti itu saat menagihnya?

Lihat selengkapnya