Rumah Sepasang Luka

Reza Lestari
Chapter #21

Memahami

"Alhamdulillah, sedikit demi sedikit, ya, Bu. Insya Allah nanti orderannya bertambah," kata Maya yang kini tengah packing baju orderan yang sudah jadi. Setelah menghabiskan waktu beberapa Minggu, akhirnya semua pesanan baju yang masuk sudah selesai dikerjakan. Sekarang waktunya untuk packing dan akan segera dikirim ke pembeli yang ikut pre-order.

Memang yang ikut pre-order tidaklah banyak, belum sampai 30 pcs orderan. Namun, meskipun begitu, Maya dan Bu Eva tetap bersyukur. Sebagai langkah awal membuat bisnis online, ini sudah cukup baik bagi mereka.

"Iya, alhamdulilah, May. Ini juga berkat kerja keras kamu yang promosi sana sini, sampai akhirnya Ibu ada orderan lagi." Bu Eva sangat beruntung bisa bertemu dengan Maya, gadis itu benar-benar serius dan tulus membantu usahanya untuk maju kembali.

"Aku cuma coba berusaha dan doa aja, Bu. Selagi ada peluang, jangan sampai dihiraukan gitu aja. Kita coba-coba dulu aja peluangnya, berhasil atau enggaknya kan balik lagi, tergantung usaha dan rezeki kita."

Bu Eva tersenyum mendengar itu, lalu menganggukkan kepalanya, setuju dengan apa yang dikatakan gadis itu.

"Assalamualaikum." Ucapan salam itu, membuat keduanya menoleh ke sumber suara. Saat itu juga keduanya melihat Aby yang baru datang.

"Waalaikumsalam," jawab keduanya.

"Aby, masuk, By," titah Bu Eva, pintu rumahnya memang sudah terbuka. Maka dari itu mereka bisa langsung tahu jika yang datang adalah Aby.

Cowok itu mengangguk dan masuk, berjalan menghampiri keduanya. Lalu, menyalami tangan Bu Eva. Ia sudah mengenal wanita itu sejak Maya mengajaknya untuk mengambil baju jahitan Bu Eva yang akan di foto saat itu.

"Udah makan, By? Tadi Ibu masak capcay sama ayam serundeng, tuh. Makan dulu," tawar Bu Eva.

"Iya, makasih, Bu. Tapi, sekarang saya belum laper. Biasanya suka makan lagi abis isya," ujar Aby, lagi pula perutnya masih kenyang. Sebelum pulang kerja tadi, ia makan cemilan yang disediakan oleh pemilik rumah, bersama Pak Gunawan dan yang lainnya. Dan itu cukup mengganjal perutnya.

"Ya, udah. Nanti, lauknya dibawa pulang aja, ya. Soalnya lumayan masih banyak, takut nggak bakal ada yang makan lagi nanti kalau di sini. Tadi Maya disuruh makan juga malah nggak mau," kata Bu Eva.

"Aku masih kenyang, Ibu," sahut Maya.

"Iya, makanya nanti dibawa pulang aja."

"Iya, Ibu. Makasih banyak sebelumnya." Bu Eva tersenyum dan mengangguk, lalu tangannya mengelus lembut bahu gadis itu.

"Yang belum di packing masih banyak, May?" tanya Aby sambil duduk di sebelah Maya yang lesehan di atas karpet.

"Nggak, kok. Ini yang terakhir," jawab Maya, lagi pula paketnya belum banyak untuk saat ini. "Gue beneran bisa sendiri, lho, By. Antar paketnya." Tadi Maya berniat mengantar paket-paketnya sendirian ke ekspedisi, tapi Aby memintanya untuk menunggu dan tidak pergi sendirian.

"Iya, tau. Tapi, biar gue antar aja." Meskipun tempat ekspedisinya tidak terlalu jauh dari kontrakan, tapi Aby tetap ingin mengantar gadis itu.

"Tapi, lo pasti masih capek habis kerja, belum istirahat udah harus antar gue." Itu yang membuat Maya berniat pergi sendiri. Tadi Aby baru pulang, pastinya cowok itu lelah dan istirahat. Namun, malah memintanya untuk menunggu sebentar dan pergi dengannya.

"Nggak capek, kok. Lagian barusan gue habis mandi, jadi udah seger lagi," balas Aby, membuat Maya menghela napasnya pasrah.

Melihat itu Bu Eva hanya tersenyum, sepasang suami istri di hadapannya itu yang sedang saling memahami. Maya yang mencoba memahami keadaan Aby, memberikan ruang waktu untuk cowok itu agar bisa istirahat. Sedangkan Aby berusaha memahami usaha Maya, memberikan waktunya untuk membersamai gadis itu agar tidak melakukannya sendirian.

Mereka masih muda untuk menjadi pasangan suami istri bagi Bu Eva, tapi cara Aby dan Maya yang berusaha untuk saling mengerti pasangan, cukup membuat wanita setengah baya itu salut. Terkadang, di luar sana ia pernah melihat pasangan suami istri yang malah meninggikan egonya masing-masing, daripada berusaha saling mengerti. Yang pada akhirnya malah membuat keributan dalam rumah tangga. Namun, Aby dan Maya berbeda, padahal keduanya masih muda.

---

"Mau jajan nggak, May?" tanya Aby, kini keduanya tengah berjalan menuju kontrakan setelah selesai mengantar paket ke kantor salah satu ekspedisi. Setelah mengantar paket, keduanya mampir lebih dulu ke masjid terdekat saat azan magrib berkumandang tadi, sebelum akhirnya kembali pulang.

Lihat selengkapnya