"May, sumpah dress dari lo nggak kaleng-kaleng. Harga murah, tapi nggak murahan. Gue suka banget, May," kata Fia yang begitu terlihat cantik malam ini. Seperti janjinya pada Maya waktu itu, dress yang ia pesan pada sahabatnya itu, akan ia pakai di acara prom night.
Keduanya tengah duduk di meja yang ada di ballroom tempat acara prom night sekolah mereka, acara pembukaan yang diisi dengan sambutan para petinggi sekolah sudah berjalan secara lancar. Sekarang sudah masuk ke acara hiburan, di depan panggung sana secara bergantian orang-orang yang mengisi acara ini menampilkan bakat masing-masing. Entah itu dance, nyanyi, ada games juga, dan yang lainnya.
Ketika teman-teman yang lainnya asyik beramai-ramai berdiri di depan ikut bernyanyi dan berjoget, Maya dan Fia memilih untuk duduk saja. Sudah lumayan lama mereka tidak bertemu, selama libur. Jadi, mereka memanfaatkan waktu untuk berbincang.
"Alhamdulillah, kalau lo suka, Fi. Lo kelihatan tambah cantik banget, banget, banget, malam ini. Serius! Tadi aja si Rio sampai nganga pas lihat lo datang, Fi," ujar Maya, ia tak berbohong. Tadi ketika Fia datang, ia sempat melihat Rio terdiam mematung memandangi sahabatnya itu yang tampak berbeda malam ini.
"Dah, lah. Nggak usah ngomongin si kadal, bodo amat dia mau nganga atau manyun juga. Yang gue lihat dari dia cuma juteknya doang, mana sok-sokan bersikap dingin sama gue. Dipikir gue nggak bisa jutek plus bersikap dingin sama dia? Gue bisa! Tenang aja ... dia jutek, gue bisa lebih jutek. Dia dingin, gue bisa lebih beku, May," jelas gadis itu yang tampak kesal pada Rio, dan Maya masih bingung penyebabnya apa. Karena tak biasanya jika mereka bertengkar bisa sampai diam-diaman, mungkin masalah antara Fia dan Rio besar sekarang.
"Dih, tapi juga lo terpana pas lihat dia."
Fia mengerucutkan bibirnya mendengar itu, ya, mau bagaimana lagi? Ia jujur suka pada Rio sejak lama, jadi mana bisa ia tidak terpana ketika melihat penampilan cowok itu yang keren malam ini. Meskipun, di dalam hatinya ada rasa kecewa pada Rio, tapi tetap saja sebagian hatinya tidak bisa berbohong.
"Udahlah, May. Udah nggak ada harapan lagi gue sama dia, kita berdua nggak akan bersatu." Fia terlihat lelah saat mengatakan itu, bukan lelah fisik. Tetapi, lebih ke hatinya. Setiap kali ia ingin berjuang, semangat gadis itu selalu dipatahkan lebih awal dengan sikap Rio padanya.
"Jangan bilang gitu, gue masih yakin dia suka balik sama lo, Fi. Cuma dia gengsi aja buat bilangnya, karena kalau dekat kalian ribut mulu." Cinta bisa hadir karena terbiasa. Bisa jadi juga, kan, karena terbiasa saling ribut, mereka malah jadi saling cinta. Dari novel-novel yang pernah dibacanya juga seperti itu. Dari benci jadi cinta, musuh jadi cinta. Jadi, siapa tahu kasus Fia dan Rio ini akan berujung cinta juga.
"Oke, stop. Jangan ngomongin si kadal lagi, untuk malam ini gue mau senang-senang. Karena kapan lagi kita bakalan ketemu, hm? Sini peluk gue sekarang." Fia merentangkan kedua tangannya, membuat Maya mengerucutkan bibirnya. Merasa tak rela jika setelah ini mereka akan berpisah, lalu ia memeluk sahabatnya itu dengan erat.
"Gue pasti bakalan kangen banget sama lo, Fi. Lo jangan lupain gue, ya. Meskipun nanti teman baru lo akan banyak, tapi harus tetap ingat gue, lho." Maya mengelus punggung Fia lembut, gadis itu yang selalu menemaninya di sekolah sejak kelas 10. Bahkan, mereka selalu satu bangku. Ketika pisah kelompok pun, kadang mereka tak rela.
"Gue akan selalu ingat lo, mana bisa juga gue melupakan lo. Setelah ini sehat terus, ya, May. Gue yakin suatu saat nanti lo pasti akan bahagia, lo bisa sukses, jangan patah semangat. Lo sahabat gue paling kuat, May. Semoga kita bisa dipertemukan lagi di mana pun dan kapan pun itu," ucap Fia, sambil mengeratkan pelukannya.
Maya terdiam sejenak, entah kenapa hatinya merasa ada yang aneh. Tetapi, ia tak tahu apa yang tengah dirasakan hatinya itu. Apalagi, ketika Fia memeluknya dengan erat.
---
"Masih semangat semuanya?" tanya seorang MC yang berdiri di atas panggung.
"Masih ...." sahut anak kelas 12.
"Gimana kalau acaranya kita lanjutkan dengan berdansa. Setuju nggak?" tawar MC tersebut meminta persetujuan.
"Setuju!"
"Baiklah, tapi kalian semua harus memakai topeng yang sudah kami persiapkan. Dan kalian harus mencari pasangan kalian masing-masing, dengan penerangan yang minim. Jangan ada yang curang, oke!"
"Oke!"
"Siip, sekarang kalian pakai topengnya," ujar MC itu yang diikuti seluruh peserta dansa. "Saya akan hitung satu sampai sepuluh untuk kalian mencari pasangan. Sebelum itu, mohon para gadis-gadis untuk berpencar lebih dulu." Lagi dan lagi, para gadis mengikuti aba-aba dari MC itu. Mereka mengubah posisi tempat mereka berdiri.
"Siap-siap semuanya ...."
Satu
Dua
Tiga
Para cowok-cowok mulai mencari keberadaan pasangan yang akan diajaknya berdansa, dengan teliti mereka mencari sang pasangan di bawah penerangan yang minim.
"Maya di sebelah mana, ya?" batin Aby, dengan kedua mata berusaha mencari keberadaan gadis itu. Ia tak tahu Maya berdiri di mana tadi.
"By, ini gue harus ajak siapa buat dansa? Gue, kan, jomlo. Datang ke sini alone tadi," kata Rio mulai panik sendiri, pasalnya jika ia tidak mendapatkan pasangan dansa. Bisa-bisa ia gigit jari nanti, sambil melihat yang lainnya asyik dansa romantis.
"Ya, mana gue tau. Lo cari ke sebelah sana aja, gih. Jangan banyak omong, gue lagi konsen cari Maya." Rio mendengus, dan tak mau pergi juga. Cowok itu malah mengikuti ke mana Aby pergi, siapa tahu juga ia menemukan gadis nganggur yang sama-sama jomlo.
Empat