Dengan pelan dan hati-hati Aby memapah Maya keluar dari kamar mandi, lalu membawanya ke ruang tengah kontrakan, Maya sendiri yang meminta untuk duduk di sana.
Perempuan itu baru saja muntah-muntah di kamar mandi, sudah tiga hari setelah Maya mengeluh perutnya tidak enak malam itu, sakit Maya berkelanjutan sampai saat ini. Membuat Aby khawatir, apalagi ketika melihat wajah pucatnya.
Aby menyelipkan sejumput rambut Maya yang menjuntai ke belakang telinganya, lalu mengusap sudut bibir perempuan itu yang masih basah. "Masih mual nggak?" tanyanya, sudah tiga hari pula Maya jadi suka muntah-muntah, apalagi ketika baru bangun tidur.
Maya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Aku lemes, Aby," keluhnya.
"Sarapan, ya. Aku udah bikin bubur buat kamu tadi," bujuk Aby. Bagaimana perempuan itu tidak merasa lemas, jika selama tiga hari ini juga pola makan Maya tidak baik. Perempuan itu hanya makan sedikit karena terus mengeluh perutnya tak enak, dan ingin muntah terus.
"Makannya nggak enak, setiap habis makan juga aku muntah lagi." Maya mengerucutkan bibirnya, kedua matanya berkaca-kaca. Entah sakit apa dirinya saat ini, rasanya aneh dan baru kali ini ia sakit seperti itu.
"Sedikit, sedikit aja, ya. Biar ada tenaga, bentar aku ambil dulu buburnya." Tanpa menunggu jawaban, Aby bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur.
Maya menghela napasnya, lalu menyenderkan punggungnya pada dinding di belakangnya. Tubuhnya benar-benar lemas sekali, yang membuat ia bingung adalah ia muntah-muntah, tapi tak ada yang ia muntahkan, hanya cairan bening saja.
"May, makan buburnya, ya," kata Aby yang kembali dari dapur sambil membawa semangkuk bubur dan segelas air putih.
"Taruh dulu aja di sini, nanti aku makan," Maya menunjuk tempat kosong yang ada di sebelahnya, meminta Aby menyimpan buburnya di sana. "Sekarang kamu mandi aja, Aby. Bukannya kamu mau cari kerja?" lanjutnya.
Pekerjaan Aby bersama Pak Gunawan sudah selesai dua hari lalu. Dan sekarang, Aby belum ada pekerjaan lagi. Pak Gunawan juga belum ada panggilan kerja baru, membuat pria paruh baya itu dan rekannya yang lain memutuskan untuk pulang lebih dulu ke kampungnya.
"Aku nggak tega tinggalin kamu lagi, apalagi muka kamu tambah pucat sekarang. Hari ini aku antar kamu ke dokter aja, ya," bujuk Aby, yang langsung dibalas dengan gelengan kepala Maya.
"Aku beneran nggak apa-apa, Aby. Nggak perlu ke dokter."
"Tapi—"
"Aku nggak apa-apa."
Aby menghela napas, sebelum akhirnya menganggukkan kepala seraya berkata, "Aku mandi dulu, ya."
"Iya."
Aby kembali mengangguk, lalu pergi dari sana untuk ke kamar mandi. Ia memang sudah berniat untuk mencari pekerjaan lagi,
Sedangkan Maya memilih memejamkan kedua matanya dengan kepala menyender pada dinding.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu itu, membuat Maya kembali membuka kedua matanya. Dan menoleh ke arah pintu, kira-kira siapa yang bertamu ke kontrakannya pagi-pagi begini?
Maya ingin memanggil Aby, tapi lelaki itu masih berada di kamar mandi. Untuk itu, ia menghela napasnya, sebelum akhirnya bangkit dan berjalan untuk membuka pintu.
Tepat saat pintu dibuka, saat itu juga ia melihat Erika, tetangga sebelahnya yang juga mengontrak di kontrakan Bu Hartati.
"Eh, Mbak Erika. Kenapa, Mbak?" tanya Maya bingung, tak biasanya gadis itu bertamu pagi-pagi sekali.
"Maaf, ganggu kamu pagi-pagi, May," kata Erika tak enak hati. Apalagi, ketika melihat wajah pucat Maya sekarang.
"Nggak apa-apa, Mbak. Ada yang bisa aku bantu?" tanya lagi Maya.
"Kamu punya stok pembalut nggak, May?" tanya balik Erika.
"Pembalut?"
Erika mengangguk cepat sebagai jawaban. Sebelum akhirnya ia berkata, "Kalau ada, aku boleh pinjam stok punya kamu? Aku lagi butuh banget sekarang, mau beli ke mini market tempatnya jauh, ke warung juga belum pada buka, May. Aku nggak tau bakalan haid hari ini, dan lupa nyetok. Aku juga ada kuliah pagi hari ini, jadi harus siap-siap sekarang."
"Kebetulan aku masih ada stok kayaknya, Mbak tunggu dulu, ya. Biar aku ambil dulu," ujar Maya yang kembali diangguki Erika.
Maya pun kembali masuk, ia berjalan menuju kamarnya dan mengambil pembalut yang ia simpan di lemari pakaian. Untung ia masih memiliki stok, jadi ia bisa membantu Erika sekarang.