Tangan Aby mengelus lembut punggung Maya yang tertidur sambil memeluk dirinya. Perempuan itu kembali tidur setelah lelah muntah-muntah lagi tadi. Bubur yang dimakan pun tidak dihabiskan, padahal Maya baru makan beberapa suap saja. Itupun sedikit-sedikit.
Lelaki itu menyenderkan kepalanya pada kepala Maya yang membenamkan wajahnya di dada. Ia tak jadi pergi untuk mencari kerja hari ini, karena tak bisa membiarkan perempuan itu sendirian dalam kondisi sakit. Apalagi, setelah tahu hasil testpack yang digunakan Maya.
Lalu, ia menghela napasnya berat. Tanggung jawab Aby bertambah lagi sekarang. Ia tak menyangka jika Tuhan memberikan ia keturunan secepat ini. Padahal, ekonominya saat ini belum stabil. Bahkan, masih jauh dari kata stabil.
Aby bukannya tak mau menerima apa yang hendak diberikan Tuhan untuknya. Hanya saja, apakah ini tidak terlalu cepat? Mereka menikah baru 3 bulan. Ia dan Maya juga masih terlalu muda, apakah mereka bisa menjadi orang tua?
Sebenarnya banyak pertanyaan yang ada di benaknya, pikirannya pun sama seperti Maya tadi yang banyak mengkhawatirkan segala hal. Hanya saja ia berusaha untuk tidak terlalu mengkhawatirkan semuanya, apalagi di hadapan Maya. Ia takut perempuan itu malah semakin overthinking, dan malah membuat perempuan itu semakin sakit.
Jadi, Aby berusaha untuk meyakinkan Maya, tentunya diri sendiri juga, jika semuanya akan baik-baik saja. Apa yang mereka khawatirkan belum tentu terjadi, dan apa yang sudah terjadi memang sudah ditakdirkan untuk mereka jalani.
Aby mencium ubun-ubun Maya sambil memejamkan matanya. Merasa bersalah karena membuat perempuan itu harus hamil diusia muda. Seperti yang pernah ia katakan sebelumnya, ia tak menyesali apa pun, tapi hatinya tetap merasa bersalah.
Aby kembali membuka matanya dan menjauhkan kepala dari Maya, saat merasa pergerakan perempuan itu.
"Kenapa, hm? Mau muntah lagi?" tanya Aby.
Maya menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, "Aku haus."
"Ya udah, aku ambilkan minum dulu." Aby bergerak untuk bangkit dari posisi berbaringnya, tapi perempuan itu malah menahannya dan memeluk Aby semakin erat. "Aku mau ke dapur dulu," ucapnya.
"Nanti aja," balas Maya, yang kembali membenamkan wajahnya di dada Aby.
"Katanya haus."
"Tunggu sebentar lagi aja."
Aby menghela napasnya dan pasrah, kembali pada posisinya yang tadi. "Besok kita cek ke Dokter, ya," ajaknya, membuat perempuan itu mematung. "Nggak, bukan aku nggak percaya dengan hasil testpack tadi. Kita ke Dokter untuk cek kesehatan dan kandungan kamu. Aku khawatir, soalnya kamu muntah-muntah terus sampai lemes begini," lanjutnya menjelaskan.
Kali ini Maya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Makan lagi, ya. Tadi kamu makan cuma sedikit, habis itu kebuang lagi karena muntah," bujuk Aby.
"Nanti aja, aku belum mau."
"Nanti kapan? Ini udah siang. Sekarang aja, ya. Aku juga belum makan, kita makan berdua gimana?" Lagi, Aby membujuk. Kali ini Maya menganggukkan kepalanya menurut, ia memang belum melihat lelaki itu makan sejak tadi.
"Ya udah, aku hangatkan buburnya dulu sekarang."
Saat itu juga Maya melepaskan pelukannya dari Aby, membiarkan lelaki itu pergi ke dapur.
---
Maya duduk menyender di kasurnya, menunggu Aby yang masih berada di dapur. Tangan kiri perempuan itu menyingkapkan bajunya, lalu tangan kanannya memegang perutnya yang rata. Apakah ia benar-benar hamil? Apa ini tidak terlalu cepat untuknya? Hamil diusianya yang baru 18 tahun. Ia masih terlalu muda, apakah ia bisa menjadi orang tua yang baik untuk anaknya kelak?
Ia merasa hidupnya benar-benar jauh dari ekspektasinya, hal yang sebelumnya tak pernah ia rencanakan. Tiba-tiba datang lebih dulu menyapanya. Pertama soal pernikahan, sejak awal ia tidak berencana untuk menikah muda. Setelah lulus sekolah ia berencana untuk bekerja, meringankan beban papanya, dan memperbaiki ekonominya. Namun, takdir malah membuatnya menikah di usianya yang masih muda, dan membuatnya kehilangan sang papa.
Sekarang, tanpa direncana, ia tiba-tiba hamil? Mungkin, tidak tiba-tiba juga. Karena ia memang melakukannya dengan Aby tanpa pengaman, setelah melakukannya juga ia tak minum pil after morning sebagai pencegahan. Hanya saja, Maya tak menyangka akan secepat ini ia hamil.
"May, buburnya udah jadi."
Maya menoleh ke sumber suara saat mendengar itu, ia melihat Aby yang berjalan masuk kamar, menghampirinya sambil membawa semangkuk bubur dan segelas air putih.
Lelaki itu duduk di sisi kasur, dan memberikan segelas air pada Maya sambil berkata, "Minum dulu, tadi aku lupa kalau kamu haus pas bangun."
Maya menerima gelasnya dan meminum air putih itu sedikit, setelah itu ia menyimpan gelasnya di meja.
"Sekarang makan dulu, ya. Aku suapin," kata Aby yang diangguki perempuan itu. Aby pun menyendokkan buburnya, lalu mulai menyuapi perempuan itu sedikit demi sedikit.