Pukul 19.05 wib, Aby sampai di kontrakannya dengan keadaan lelah. Seharian ini ia jalan kaki ke sana ke mari untuk mencari pekerjaan. Namun, sampai sekarang ia belum dapat pekerjaan. Ia juga memasukkan lamaran ke beberapa tempat, semoga saja ia mendapat panggilan nanti.
Ternyata mencari pekerjaan sangat susah, apalagi perbandingan antara lowongan dan pelamar pekerjaan sangat jauh sekali.
Menghela napasnya, ia pun masuk ke kontrakan sambil mengucapkan salam. Namun, tak ada sahutan, ia juga tak melihat ada Maya di ruang tengah kontrakan. Biasanya perempuan itu akan ada di sana sambil memainkan laptop milik Aby untuk jualan online. Perlahan, usaha online shop Maya mulai menambah pelanggan. Untuk itu, sekarang Maya sudah mencoba menggunakan marketplace untuk jualan.
Aby berjalan menuju kamar, hingga ia bisa melihat Maya yang tengah salat. Membuat senyum lelaki itu mengembang, seketika juga rasa lelahnya mendadak hilang, pemandangan di hadapannya sekarang terasa meneduhkan hatinya.
"Assalamualaikum," ucapnya, ketika Maya selesai salat.
Perempuan itu mendongak, melihat ke arah Aby dan tersenyum. Sebelum akhirnya berkata, "Wa'alaikumussalam."
Aby menghampiri Maya yang terduduk di atas sajadah dan masih memakai mukenanya, lalu ia duduk di hadapan Maya dengan senyuman yang ikut mengembang.
Perempuan itu meraih tangan kanan Aby, lalu mencium punggung tangannya, yang dibalas oleh Aby dengan mencium keningnya.
"Kita udah kayak suami istri beneran, ya, Aby," ujar Maya dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya.
"Lah, emang kita suami istrinya bohongan?" tanya Aby.
"Bukan gitu, Aby. Maksud aku itu ... emmm ... apa, ya? Bingung mau jelasinnya, pokoknya gitu, deh," jawab Maya, bingung sendiri. Membuat Aby terkekeh, lalu mencubit hidungnya gemas.
"Nggak jelas kamu."
Maya malah nyengir, lalu menunduk dan tangannya menggelitik telapak tangan kanan Aby yang masih ada di genggamannya. Dan lelaki itu hanya diam saja, dengan kedua mata yang menatap Maya dalam.
"Udah makan, hm?" tanya Aby, membuat Maya mendongak dan menatapnya kembali.
"Udah," jawabnya.
"Makan sama apa?"
"Sayur bayam dari Bu Hartati, tadi Bu Hartati ke sini dan lihat aku muntah-muntah. Terus tanya aku udah makan apa belum, aku jawab belum karena nggak selera. Makanya tadi Bu Hartati buatin aku sayur bayam sama bubur, terus nyuruh aku makan. Ya, aku paksain makan walaupun sedikit-sedikit," jelas Maya.
Tangan Aby terulur mengelus kepala Maya yang masih tertutup mukena, wajah perempuan itu tak sepucat 3 hari lalu. Namun, tetap saja ia khawatir ketika Maya terus muntah-muntah. Apalagi, Aby juga tak selalu ada di sampingnya, karena harus mencari pekerjaan.