Rumah Sepasang Luka

Reza Lestari
Chapter #31

Dilema

Aby duduk terdiam di teras kontrakan sendirian dengan tangan yang terus mengecek ponsel setiap satu menit sekali. Ia tengah menunggu email, pesan, atau WhatsApp dari tempat-tempat yang ia kirimi lamaran pekerjaan. Namun, beberapa kali ia cek, belum juga ada satu pun yang masuk. Belum ada perusahaan yang mengirimkan undangan interview untuknya.

Sudah berhari-hari ia mencari kerja, tapi belum ada satu pun panggilan kerja yang ia terima. Apakah surat lamaran miliknya belum dibaca?

Lelaki itu menghela napasnya berat, ia tak bisa diam saja. Ia harus cepat-cepat mendapatkan pekerjaan. Selain untuk membayar kontrakan dan kebutuhan sehari-hari, ia juga harus mulai menabung untuk persalinan Maya nanti.

Cklk

Aby menoleh ke sumber suara pintu yang baru saja ditutup, saat itu juga ia melihat David yang kali ini tengah mengunci pintu dari luar. Ia pun berdiri, lalu berjalan menghampiri lelaki itu yang sepertinya hendak pergi. Apalagi, lelaki itu membawa ransel dan koper.

"Mau pergi, Mas?" tanya Aby, membuat lelaki itu menoleh.

"Eh, iya, By. Ibu saya sakit, dan mau saya tinggal di rumah lagi," jawab David.

"Balik lagi ke sini nggak, Mas?"

"Kayaknya nggak, By. Hari ini terakhir saya ngontrak di sini."

"Yah, berkurang dong teman saya di sini." Meskipun mereka jarang bertemu, tapi Aby senang ketika bisa ngobrol dengan David. Ia bisa sharing dengan lelaki itu tentang banyak hal.

"Kamu bisa hubungi saya kalau ada apa-apa, By. Saya siap bantu kamu kapan saja," ujar David, ia juga sebenarnya berat untuk pergi dari sana. Namun, ia juga tidak bisa menolak keinginan ibunya.

Aby mengangguk, lalu ia teringat sesuatu. "Mbak Tia tau kalau Mas David mau pergi?" tanyanya, membuat dahi lelaki itu mengernyit.

"Kenapa Tia harus tau? Bukankah dia orang yang paling senang kalau saya pergi dari sini?" tanya balik David.

Aby akan membenarkan itu, jika saja sebulan lalu ia tidak melihat Tia yang dikejar David. Dan sepertinya tebakan Aby tidak salah, apa yang dipikirkannya tentang mereka memang benar adanya. Hanya perlu waktu untuk membuktikannya.

"Mungkin, Mbak Tia adalah orang yang senang sekaligus sedih kalau Mas David pergi dari sini," kata Aby, membuat David penasaran. Kenapa Aby bisa berkata seperti itu?

"Apa yang membuat dia sedih kalau saya pergi dari sini?" David benar-benar penasaran.

"Mungkin, karena cinta," tebak Aby, lalu mengangkat kedua bahunya tak acuh.

"Cinta dari mana? Orang dia benci banget sama saya."

"Mas David sadar nggak, sih, kalau selama ini Mbak Tia marah-marah terus sama Mas David karena lagi cari perhatian?" tanya Aby, membuat David tak mengerti. Pasalnya, yang ia tahu Tia marah-marah padanya karena benci. Mana ada orang yang cari perhatian dengan marah-marah?

"Nggak ada orang yang cari perhatian dengan marah-marah, By. Udah jelas Tia itu marah-marah sama saya karena benci," sangkal David, rasanya tidak masuk akal.

"Mas, percaya, deh. Nyari perhatian itu bukan hanya dengan tebar pesona aja. Dari yang aku lihat, Mbak Tia itu orangnya penganut gengsi tinggi. Mana mau dia cari perhatian Mas David dengan cara bersikap yang manis atau tebar pesona. Mbak Tia mungkin emang marah sama Mas David, tapi nggak sampai benci juga. Menurut saya, orang kalau udah benci sama orang, nggak bakal mau ketemu atau berinteraksi sama orang itu lagi. Dia pasti menghindar kalau ketemu, pokonya berusaha jaga jarak agar tidak ada interaksi sama orang yang dibencinya. Nah, kalau Mbak Tia, kan, kayak nyari-nyari persoalan supaya bisa berinteraksi sama Mas David. Masalah kecil yang menyangkut Mas David, pasti Mbak Tia besar-besarkan biar bisa ketemu Mas David," jelas Aby, membuat David terdiam, mencerna semua yang dikatakan Aby padanya.

"Mbak Tia mungkin cuma kecewa dan marah aja sama Mas David, tapi nggak sampai benci. Lebih besar rasa cintanya," lanjut Aby.

"Kok, kamu tau kalau Tia punya rasa cinta sama saya?" David masih bingung, tapi ucapan Aby malah seolah lelaki itu sudah ada dan menyaksikan hubungan antara dirinya dan Tia dulu.

"Mas, jangan bilang kalau Mbak Tia suka bilang kalau Mas David nggak peka," ujar Aby, kali ini membuat David terkejut.

"Kok, kamu tau? Tia emang suka bilang gitu dulu," aku David, membuat Aby meringis, kasihan sekali Tia.

"Yang satu gengsian, yang satu nggak pekaan. Perpaduan yang sangat menakjubkan," gumam Aby pelan, pantas sepertinya Tia suka marah-marah pada lelaki itu.

"Jadi, saya harus gimana, By?" David masih bingung.

"Masalah Mas David sama Mbak Tia udah kelar belum?"

"Saya sudah menjelaskan kesalahpahaman yang lalu sama Tia, tapi saya nggak tau dia udah maafin saya atau belum. Soalnya, waktu itu dia pergi gitu aja. Setelah hari itu, kami juga belum bertemu lagi. Akhir-akhir ini saya selalu pulang malam, karena sibuk. Tadi siang pas bilang ke Bu Hartati saya mau pindah juga tidak melihat ada Tia di rumahnya," jelas David, membuat Aby mengangguk-anggukkan kepalanya paham.

"Saya dengar Mbak Tia ke rumah neneknya, Mas. Mungkin lagi butuh waktu untuk sendiri."

David mengangguk mengerti, ia tak tahu karena gadis itu mana mau memberitahunya.

Lihat selengkapnya