Rumah Sepasang Luka

Reza Lestari
Chapter #32

Tanah kosong menjadi rumah bertingkat

"Kamu udah salat?" tanya Aby pada Maya yang berada di seberang sana.

"Udah, kamu udah?"

"Alhamdulillah, udah. Makan sama apa tadi?"

"Sop ayam dari Bu Hartati."

"Susunya nggak lupa diminum, kan?"

Maya terlihat menghela napasnya di seberang sana, membuat Aby menautkan sebelah alisnya. Sekarang ini keduanya memang sedang terhubung dalam video call. Sudah 4 hari Aby tidak pulang ke kontrakan karena ikut bekerja bersama Pak Gunawan.

Setelah dua Minggu menganggur dan belum dapat panggilan kerja, akhirnya sekarang ia bisa bekerja lagi. Meskipun kembali menjadi kenek bangunan bersama Pak Gunawan. Namun, tak masalah. Selagi menunggu panggilan kerja di tempat lain, ia bekerja dulu bersama Pak Gunawan.

Seperti yang dikatakan Pak Gunawan saat menghubunginya menawarkan pekerjaan, jarak tempat kerjanya saat ini sangat jauh dengan kontrakan yang ditempati Aby. Saat itu Pak Gunawan menyarankan Aby untuk ikut menginap di tempat kerja, selama bekerja. Agar lelaki itu tidak kehabisan uang karena ongkos pulang pergi Jakarta-Bogor.

Awalnya Aby bingung, ia tak mungkin meninggalkan Maya di kontrakan sendiri. Apalagi, kondisi perempuan itu sedang mengandung. Namun, apa kata Pak Gunawan juga ada benarnya, ia tak mungkin pulang pergi Jakarta-Bogor setiap hari. Nanti uang gajinya malah habis untuk ongkos.

Maya yang awalnya keberatan Aby menginap di tempat kerja, hanya bisa pasrah pada akhirnya. Kali ini mereka membutuhkan biaya, bukan hanya untuk biaya makan sehari-hari, tapi mereka juga harus menabung untuk biaya persalinan nanti. Tidak hanya itu, mereka juga harus membeli perlengkapan dan peralatan bayi. Untuk itu, Maya mengalah, membiarkan Aby tak pulang selama kerja di sana. Kemungkinan, ia akan pulang sebulan sekali saja.

"Kenapa? Kok, lesu gitu?"

"Aku nggak mau minum susu, Aby. Rasanya nggak enak, aku nggak suka susu ini."

"Jangan gitu, May. Itu kan untuk kamu dan dedek bayinya juga."

"Iya, tapi aku nggak suka, Aby."

"Minumnya sedikit-sedikit aja, May. Tapi harus habis. Ayolah, demi dedek bayi."

Maya terlihat menghela napasnya, lalu memandangi segelas susu yang ia pegang dan menunjukkannya pada Aby, sebelum akhirnya meminum susu itu sedikit demi sedikit hingga habis.

"Pinter, gitu dong. Tidurnya jangan terlalu malam, ya. Jangan begadang."

"Iya, habis ini aku langsung tidur."

"Bagus, jadi istri harus nurut sama suami."

Perempuan itu mendengus, tapi juga mengangguk.

"Aby, masa tadi Bu Eva nyuruh aku jadi model baju-baju jahitan Bu Eva yang baru."

"Iyakah? Terus gimana?"

"Aku nggak tau, Aby. Memangnya aku pantas jadi model? Kan, untuk menarik perhatian pembeli harus pakai model yang punya tubuh proporsional. Bagus gitu tubuhnya."

"Tubuh kamu juga bagus, May. Tinggi, ramping, ideal lah."

"Tapi, aku kan lagi hamil, Aby."

"Kan, belum kelihatan, May."

"Emang kamu izinin aku jadi modelnya?"

"Emang baju baru yang dijahit Bu Eva yang kayak gimana?"

"Gamis, Aby."

Lihat selengkapnya