Rumah Sepasang Luka

Reza Lestari
Chapter #34

Aby pergi

Aby keluar dari kamar mandi setelah selesai dengan urusannya, saat itu ia melihat Maya yang berdiri tak jauh dari kamar mandi, sudah rapi dengan setelan formal seperti semalam.

"Aby, aku udah beli bubur. Apa kamu mau sarapan sekarang?" tanya Maya.

"Hm," sahutnya, lalu berjalan menuju ruang tengah.

Maya menghela napasnya, lelaki itu masih marah. Setelah pertengkarannya semalam, Aby belum mau bicara lagi padanya. Bahkan, barusan lelaki itu hanya berdeham saja ketika mengiyakan. Ia sangat merasa bersalah karena sudah membuat Aby kecewa. Padahal, selama ini lelaki itu selalu berbuat baik padanya.

Maya menyiapkan dua mangkuk bubur yang baru dibelinya, dan 2 gelas air putih di nampan. Sebelum akhirnya ia membawanya ke ruang tengah, menyusul Aby yang kini duduk beralas tikar sambil memainkan ponselnya.

"Ini bubur kamu, Aby," kata Maya, sambil menyodorkan semangkuk bubur ayam ke hadapan Aby.

"Makasih," ucapnya singkat, lalu memakan bubur itu.

Maya juga ikut makan, meskipun sebenarnya ia sedang tidak nafsu untuk sarapan. Apalagi, dalam keadaan hening seperti ini. Biasanya mereka akan sambil bercerita apa pun itu ketika makan. Tetapi, kali ini untuk pertama kalinya mereka makan sambil diam-diaman.

Kedua mata perempuan itu terasa memanas. Ingin menangis, tapi ia berusaha untuk tetap menahannya. Karena ketika Maya menangis, ia takut kecewa ketika Aby hanya diam saja seperti semalam.

Tak lama kemudian, Aby bangkit dari duduknya setelah selesai makan. Ia berjalan menuju dapur sambil membawa mangkuk dan gelas kotor, lalu mencucinya. Sesaat lelaki itu melihat dus susu, semalam ia tidak melihat Maya minum susu itu.

Menghela napasnya, Aby pun kembali ke ruang tengah. "Nanti jangan lupa buat minum susu," katanya, yang membuat Maya mendongakkan kepalanya. "Maaf ngerepotin, tapi kamu harus tetap minum susu," lanjutnya, membuat perempuan itu bingung. Maksud Aby meminta maaf untuk apa?

"Apa maksud kamu, Aby?"

"Mungkin kamu selalu kerepotan karena harus minum susu yang kamu nggak suka. Untuk itu aku minta maaf, mungkin selama 8 bulan ke depan kamu harus merasa kerepotan karena mengandung anakku. Aku ingin bayiku tetap sehat. Jadi, aku minta tolong, untuk tidak lupa minum susu. Setelah bayiku lahir, akan aku usahakan tidak akan merepotkan kamu lagi. Biar aku yang urus dia." Air mata yang sedari tadi Maya tahan, akhirnya meluruh juga. Ada rasa perih di hatinya mendengar kata-kata Aby, seolah dirinya tidak mau menerima anak yang ada dalam kandungannya.

"Dia juga anakku, Aby." Meskipun ia tak suka minum susu, dan selama mengandung merasa terbatas ruang geraknya. Namun, ia tak pernah merasa repot untuk bayinya itu.

"Bukankah kamu menyesalinya? Karena kehadirannya hidup kamu semakin monoton, ruang gerak kamu jadi minim, kamu tidak punya kebebasan dan merasa jadi tawanan karena mendekam di sini terus. Itu kan yang kamu rasakan, kamu menyesalinya." Maya menggelengkan kepalanya, ia tak menyesali apa pun. Aby salah paham, bukan begitu maksud Maya.

"Kalau pergi, jangan lupa bawa kunci. Nanti sore aku harus pergi lagi, dan sepertinya aku nggak jadi pulang seminggu sekali. Rasanya juga percuma aku pulang. Untuk apa? Bengong di sini sendiri? Jadi, aku tidak akan pulang selama kerja di sana." Setelah mengatakan itu, Aby melangkahkan kakinya masuk ke kamar.

Maya mengigit bibirnya, menahan isak tangisnya agar tidak pecah. Dadanya terasa semakin sesak, apa kesalahannya begitu fatal sekarang? Hingga Aby berkata seperti itu? Ia terima jika lelaki itu marah karena ia sudah berbohong dan tidak meminta izin pada Aby. Tetapi, Maya tak terima jika Aby berpikir ia menyesal untuk semuanya. Terutama menyesal mengandung anaknya, seolah ia memang keberatan dengan kehadiran calon anak mereka.

"Aku tidak menyesal. Sungguh, aku tidak menyesal dengan kehadiran kamu di sini," ucap Maya sambil menyentuh perutnya yang masih rata itu. Air mata perempuan itu terus menetes, kenapa ia merasa sendiri sekarang?

"Papa, Maya harus apa?" batinnya.

---

Jam menunjukkan pukul setengah 2 siang, Aby duduk di teras kontrakannya sendiri tanpa melakukan apa pun. Ia tak tahu harus melakukan apa lagi sekarang, 10 menit lalu ia baru selesai menjemur baju-baju yang telah dicucinya setelah pulang jumatan tadi. Hari ini ia habiskan waktunya untuk beres-beres kontrakan saja, karena tak tahu apa yang harus ia lakukan. Istirahat pun ia merasa tak tenang. Untuk itu, ia menyibukkan dirinya dengan beres-beres.

"Lagi apa, By?" tanya seseorang yang membuat lamunan Aby buyar, ia pun mendongak menatap seorang lelaki yang ia kenal sebagai suami brondongnya Mazaya. Tia lah yang memberi title itu, karena lelaki bernama Eijaz itu 3 tahun lebih muda dari Mazaya, istrinya.

"Nyantai aja, Bang," jawabnya sambil tersenyum ramah.

Lihat selengkapnya