Jam menunjukkan pukul 10 malam. Aby masih duduk terdiam di depan teras rumah, tempat ia menginap selama kerja bersama Pak Gunawan, sendirian. Sedangkan yang lainnya berada di dalam, tengah beristirahat. Seharusnya ia juga ikut beristirahat, setelah lelah bekerja seharian. Namun, entah kenapa beberapa hari ini ia tidak bisa istirahat dengan tenang. Meskipun diam, tapi pikirannya terasa penuh. Lebih tepatnya sejak ia pergi dalam keadaan marah pada Maya, sudah lima hari jika tidak salah.
Selama empat hari ia tidak menghubungi Maya sama sekali, tidak seperti biasanya ia akan bertukar kabar dengan perempuan itu di sela-sela istirahat, dan malamnya ia akan menelpon Maya untuk melepaskan rindunya. Namun, empat hari ini ia benar-benar tidak menghubungi Maya. Padahal, perempuan itu selalu mengirimkan chatt untuknya, tapi tidak ia balas, dan hanya Aby baca saja.
Entahlah, kali ini ia merasa marah sekaligus kecewa pada Maya. Perempuan itu berbohong padanya, dan mengabaikan rasa khawatirnya hanya karena ingin bekerja. Mungkin, jika Maya tidak hamil, ia akan mempertimbangkan kalau perempuan itu memang ingin bekerja. Namun, masalahnya sekarang, Maya sedang hamil, dan perempuan itu masih sering mual dan muntah-muntah. Ia jelas sangat khawatir, takut terjadi sesuatu pada Maya dan kandungannya. Apalagi, ia berada jauh dari perempuan itu, tidak bisa memantaunya setiap hari. Tetapi, Maya terlalu nekat, istrinya itu diam-diam bekerja tanpa sepengetahuannya.
"By." Panggilan itu membuat Aby menoleh, saat itu juga ia melihat Pak Gunawan yang baru keluar dari rumah.
Pria setengah baya itu berjalan menghampirinya, lalu ikut duduk di teras. "Jangan melamun malam-malam, By. Kalau kamu kerasukan gimana?" tanyanya.
"Saya melamunnya juga dengan pikiran saya yang nggak kosong, Pak," jawabnya sambil tersenyum.
"Kalau nggak kosong, berarti lagi penuh, dong?" tebak Pak Gunawan.
"Ya, begitulah, Pak." Aby menundukkan kepalanya setelah mengatakan itu. Hampir setiap hari pikirannya terasa penuh, mungkin pikirannya akan sedikit tenang saat ia tertidur.
"Kamu sedang ada masalah, By?" Selain melihat Aby yang melamun, alasan lain Pak Gunawan bertanya seperti itu karena ia melihat Aby tampak berbeda beberapa hari ini. Tidak seperti biasanya, ia selalu melihat Aby semangat dalam keadaan apa pun. "Masalah rumah tangga, ya? Beberapa hari ini Bapak tidak melihat kamu telponan dengan istrimu," tebak lagi Pak Gunawan.
Aby menghela napasnya, lalu mendongak dan menatap lurus ke depan. Sebelum akhirnya ia berkata, "Saya agak kecewa aja sama Maya, Pak. Dia diam-diam kerja tanpa sepengetahuan saya, dan tidak minta izin apa pun pada saya."
"Kamu sudah tanya alasannya?"
Aby menoleh pada Pak Gunawan, lalu mengangguk sebagai jawaban.
"Dan kamu tidak bisa menerima alasannya?"
"Saya bukannya tidak bisa menerima alasan Maya, Pak. Tapi, keadaannya saat ini yang membuat saya marah dengan tindakan nekat Maya. Kalau kondisinya sekarang Maya lagi nggak hamil, mungkin saya bisa mempertimbangkan jika dia emang mau kerja, saya tidak akan menyuruh atau menghalangi Maya kerja, selagi itu kemauannya sendiri. Tapi, masalahnya dia lagi hamil sekarang, Pak. Saya khawatir, apalagi saya tidak bisa memantau dia setiap hari," jelas Aby, membuat Pak Gunawan mengangguk mengerti.
"Kamu sudah mencoba menjelaskan sama Maya tentang keresahan kamu jika dia bekerja?" Aby terdiam mendapat pertanyaan itu, ia belum sempat menjelaskan seperti yang ditanyakan Pak Gunawan. Malam itu ia hanya marah pada Maya tanpa menjelaskan apa pun.
"Jika belum, coba ajak Maya berbicara dari hati ke hati. Kamu sampaikan keresahan dan kekhawatiran kamu, yang membuat kamu merasa keberatan jika Maya bekerja. Sampaikan dengan baik, dengan nada biasa, jangan dengan nada tinggi, apalagi jika sampai membentaknya. Karena perempuan paling tidak bisa dibentak, hatinya mudah rapuh," lanjut Pak Gunawan, membuat Aby menundukkan kepalanya. Ia mengakui kesalahannya yang saat itu membentak Maya.
"Persoalan dalam rumah tangga itu adalah hal normal, Aby. Setiap pasangan suami-istri pasti memiliki persoalan masing-masing. Hanya saja, tergantung bagimana cara kita menyelesaikan persoalan itu agar tidak berlarut-larut. Dan salah satu cara agar persoalan tidak berlarut-larut itu adalah dengan komunikasi yang baik." Pak Gunawan menepuk pundak Aby pelan, membuat lelaki itu mendongak dan menatap Pak Gunawan kembali.
"Mendiamkan pasangan saat marah, mungkin salah satu cara agar pasangan kita bisa berpikir akan kesalahannya, atau juga menghindari percekcokan agar tidak semakin memanas. Namun, tidak baik juga mendiamkan pasangan kita terlalu lama, Aby. Sebaiknya memang berbicara dengan hati. Ajak pasanganmu untuk berbicara, sampaikan apa yang ingin kamu sampaikan, lalu juga dengarkan apa yang dia sampaikan. Setelah itu, diskusikan bersama bagaimana baiknya."
"Tegur istrimu jika memang salah, ingatkan istrimu jika dia lupa, dan beritahu istrimu juga jika dia tidak tau. Dengan catatan, sampaikan dengan baik, jangan dengan cara membentak. Apalagi, sampai KDRT. Nauzubillah...."
"Memang terdengar mudah, tapi saat prakteknya terasa susah. Tapi, itulah tantangannya, dan percayalah ... Saat kamu berhasil melakukannya, berarti kamu telah berhasil melawan godaan setan yang berusaha mempengaruhi kamu."
Aby mengangguk-anggukkan kepalanya paham, pikirannya mulai terbuka setelah mendengar nasehat dari Pak Gunawan. Ia benar-benar bersyukur karena dipertemukan dengan pria setengah baya itu. Jika tidak, ia belum tentu bisa berpikir lebih bijak dan dewasa menghadapi setiap masalah yang timbul dalam hidupnya akhir-akhir ini.
"Makasih, ya, Pak. Sudah mengingatkan dan memberi saya nasehat. Kalau Bapak nggak menasehati saya, belum tentu pikiran saya terbuka untuk menyelesaikan masalah dengan cara seperti apa," ucapnya, membuat pria setengah baya itu merangkul bahu Aby.
Pak Gunawan sudah menganggap Aby seperti anak kandungnya sendiri, apalagi ia tak memiliki anak laki-laki. Anaknya perempuan semua, jadi saat bertemu Aby dan akrab jadi malah senang.
"Sekarang sudah tau, kan? Sudah rasain, kan, nikah itu seperti apa?" Aby mengangguk sebagai jawaban. "Gimana emang rasanya?" Lagi, Pak Gunawan bertanya.
"Campur aduk, Pak."
Pak Gunawan terkekeh, dan kembali menepuk bahu Aby. Sebelum akhirnya ia berkata, "Masalah dan beban, akan terasa ringan ketika suami istri berjalan berdampingan, dengan tangan saling bertautan. Untuk itu, apa pun masalahnya, teruslah melangkah berdampingan dengan istrimu, Aby. Jangan karena dia jalannya lambat, tidak sesuai dengan langkah besarmu, jadi kamu tinggalkan dia. Tugasmu bukan hanya membawa dia pada tujuan yang hendak kalian raih, tapi juga kamu harus bisa melindunginya sampai mencapai tujuan itu."
Aby tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. Sedikit demi sedikit, ia mulai paham maksud dari apa yang disampaikan Pak Gunawan untuknya.
---
Maya berjalan sendirian sambil menenteng keresek berwarna hitam di tangan kanannya, ia baru saja membeli bubur untuk sarapan pagi ini. Kebetulan juga ia libur bekerja hari ini, jadi ia sekalian jalan-jalan pagi.
"May!" panggil seseorang di depan sana sambil melambaikan tangan padanya, dia adalah Mazaya. Lalu, perempuan itu berlari menghampirinya.
"Dari mana, May?" tanya Mazaya setelah berdiri di hadapan Maya.
"Abis beli bubur, Mbak." Maya menunjukkan keresek yang dibawanya. "Mbak Maza mau ke mana?"
"Cari tukang sayur aku, kamu lihat nggak?" Tadi saat tukang sayur lewat depan rumahnya, Mazaya malah baru bangun tidur. Ia tinggal ke kamar mandi sebentar, malah sudah hilang tukang sayurnya.