Rumah Sepasang Luka

Reza Lestari
Chapter #36

Baikan

Pukul 9 malam, Aby sampai di kontrakannya. Seperti biasa, ia bisa masuk karena kunci cadangan yang ia bawa. Tepat ketika di ruang tengah, saat itu Aby melihat Maya yang tertidur beralas tikar dengan laptop yang menyala tak jauh dari perempuan itu berbaring.

Kenapa Maya tidur di sana? Apa perempuan itu seringkali seperti itu selama Aby tidak ada di sana? Tertidur di mana saja, bahkan tak mempedulikan apakah tempat yang dijadikannya tidur itu nyaman atau tidak.

Menghela napasnya, Aby pun berjalan mendekat. Ia mengambil laptop miliknya yang masih menyala, bukan tampilan marketplace yang ia lihat sekarang. Karena biasanya Maya menggunakan laptopnya untuk berjualan, tapi sekarang yang ia lihat adalah sebuah file word berisi tulisan. Entah apa isinya, hanya saja file itu berjudul Cinta itu ada by Mayang Eira Calista.

Karena penasaran, Aby pun membaca tulisan yang mungkin habis diketik Maya sebelum akhirnya perempuan itu ketiduran.

Dari ribuan hari yang telah aku lewati

Hari itu bukanlah hari yang aku nanti

Namun, aku juga tak bisa untuk menghindari

Hari di mana aku dinikahi


Entah apa saja yang akan terjadi

Hari-hari berikutnya terasa berat aku lalui

Menjadi istri di usia dini

Tidaklah mudah untuk dijalani


Aku tetap berusaha untuk berdiri

Meskipun bermacam-macam mimpi buruk menghantui

Lalu, aku berjalan untuk pergi

Bersamanya yang berstatus sebagai suami


Terlalu banyak hal yang aku takuti

Merasa lelah dan tak bisa meraih mimpi

Dunia terlalu kejam untuk aku yang takut sendiri


Rasanya ingin aku akhiri

Sudah terlalu lelah untuk dijalani

Namun, aku tak bisa berhenti

Dia memintaku untuk berlari

Mengejar kebahagiaan yang akan hadir suatu saat nanti

Tulisan itu berakhir di sana, hanya itu yang baru Maya tulis. Aby menyimpan file itu, sebelum akhirnya mematikan laptopnya dan menyimpannya kembali di tikar. Lalu, ia beralih pada Maya yang tertidur dengan damai. Apa perempuan itu tidak kedinginan? Tidur beralaskan tikar tanpa menggunakan bantal dan selimut.

Menghela napasnya, Aby pun beralih mengangkat tubuh Maya dan menggendongnya ala bridal style. Ia tak setega itu hingga membiarkan Maya tidur di sana, apalagi perempuan itu sedang hamil.

Aby membawa perempuan itu ke kamar, dan membaringkannya di kasur. Tak lupa ia menyelimuti tubuh Maya. Sesaat, ia terdiam menatap wajah perempuan itu. Sudah seminggu ia tak melihatnya, dan tak mendengar suaranya. Mungkin ia keterlaluan karena pergi ketika marah, lalu tak menghubungi Maya. Padahal, perempuan itu selalu mengabarinya setiap hari. Tetapi, Aby malah mengabaikannya.

Dan kenyataannya, Aby tak bisa untuk tidak pulang, satu minggu tak bertemu saja membuat Aby banyak memikirkan tentang Maya. Apalagi, jika selama kerja Aby tidak pulang. Mungkin, ia bisa gila. Untuk itu, setelah selesai kerja tadi, ia pamit untuk pulang. Ia ingin memastikan keadaan Maya secara langsung, apalagi sudah seminggu ia mendiamkan perempuan itu.

"Aby, aku kangen," gumam Maya dalam tidurnya, membuat Aby tertegun. Betapa jahatnya ia mendiamkan perempuan itu terlalu lama.

"Aby." Tangan kanan Aby beralih menggenggam tangan Maya, sedangkan tangan kirinya mengelus lembut kepala perempuan itu.

"Jangan pergi, Aby." Setetes air mata turun begitu saja dari pelupuk mata Maya yang terpejam. Dan Aby melihat itu. "Aku butuh kamu." Setelah itu, Aby tak mendengar gumaman dari perempuan itu lagi. Maya kembali tidur dengan tenang.

"Maaf," kata Aby, tangannya beralih menghapus jejak air mata Maya yang baru saja menetes. Lalu, ia mencondongkan tubuhnya, mencium kening Maya sebelum akhirnya ia bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar. Membiarkan perempuan itu untuk tidur.

---

Maya terbangun dari tidurnya, ketika matanya terbuka dengan sempurna, ia terkejut saat melihat wajah Aby yang begitu dekat dengannya. Beberapa kali ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, memastikan jika apa yang dilihatnya sekarang itu bukanlah mimpi.

Tangan Maya terulur meraba wajah Aby, dan ia bisa merasakannya. Itu artinya ia sedang tidak bermimpi sekarang, lelaki itu benar-benar ada di sana, tidur di sampingnya sambil memeluk Maya dengan erat.

Tak lama, ia melihat Aby membuka kedua matanya, membuat Maya berhenti meraba wajah lelaki itu. Apalagi, ketika Aby menatapnya.

"Tidur lagi, ini masih malam," ucap Aby.

"Ini beneran kamu, Aby?" tanya Maya memastikan lagi.

"Hm," jawab Aby singkat, ia sangat mengantuk.

"Kamu pulang, Aby?"

"Hm."

Kedua mata Maya memanas, Aby benar-benar di sana. Ia pikir lelaki itu benar-benar tidak akan pulang.

"Aku nungguin kamu, Aby. Aku takut kamu benar-benar nggak pulang. Aku kangen kamu." Air mata Maya menetes, seminggu tidak mendapatkan kabar dari lelaki itu membuatnya sangat khawatir. Apalagi, saat pergi Aby dalam keadaan marah padanya. "Aku minta maaf, Aby."

Lihat selengkapnya