Rumah Sepasang Luka

Reza Lestari
Chapter #37

Aku cinta kamu

Aby tengah fokus dengan kegiatannya yang tengah mengedit foto di laptopnya, sejak 5 hari lalu ia sengaja membawa laptop ke tempat kerjanya agar memudahkannya mengerjakan pekerjaan. Setelah jam kerja di sana selesai, Aby akan membuka laptop dan mengedit foto-foto yang ia ambil Minggu lalu.

"Kamu nggak capek, By?" tanya seseorang yang membuat lelaki itu mendongakkan kepalanya, saat itu juga ia melihat Pak Gunawan dan dua rekannya yang lain berjalan menghampirinya dan duduk di tempat Aby sekarang. "Dari pagi sampai sore kerja, panas-panasan. Malamnya lanjut buka laptop buat ngerjain kerjaan lagi," tambah Pak Gunawan.

"Saya suka ngedit foto, Pak. Jadi, nggak terlalu capek, ya anggap aja hiburan," jawab Aby sambil tersenyum.

"Mana ada hiburan itu ngerjain kerjaan juga, By."

"Itu istri kamu, By?" tanya Pak Rusdi ketika melihat gambar yang tengah di edit Aby. Terlihat seorang perempuan cantik yang memakai gamis sambil berpose.

"Iya, Pak," jawabnya.

"Pantes kepengin cepet-cepet mau pulang, istrinya cantik begitu. Nggak bisa ninggalin lama-lama." Aby terkekeh, Pak Rusdi adalah orang yang sering mendengar Aby selalu ingin cepat-cepat hari kamis agar bisa pulang lebih dulu.

"Kangen terus soalnya, Pak."

"Dasar anak muda, sekarang masih bisa bilang kangen terus. Coba di pernikahan ke 5 dan seterusnya, apa kamu masih mau bilang kangen terus," ujar Pak Jojo, membuat Aby menautkan sebelah alisnya.

"Memangnya kenapa, Pak?"

"Saya boro-boro mau bilang kangen, yang ada pusing. Setiap ditelpon, Pak bayar listrik, beras sedikit lagi, anak-anak mau ini, mau itu."

"Bersyukur kamu masih ditelpon, Jo. Walaupun diminta buat bayar tagihan. Coba saya, siapa yang mau telpon? Istri sudah meninggal, anak nggak punya. Orang tua juga sudah nggak ada," kata Pak Rusdi, ada nada sedih ketika pria itu mengatakannya. Pria setengah baya itu sangat kesepian.

"Kan masih ada saya, Rus. Saya suka kangen kamu kalau nggak kerja bareng, makanya saya mau kerja kalau ada kamu," balas Pak Jojo.

"Ngeri saya lama-lama sama kamu, Jo." Aby dan Pak Gunawan terkekeh mendengar itu. "Gun, lain kali kalau ajak saya kerja, secara diam-diam aja. Si Jojo nggak perlu diajak, dan nggak perlu tau. Takut saya lama-lama sama dia," lanjutnya.

"Eh, jangan gitu kamu. Kita itu sejoli, tidak bisa dipisahkan."

Pak Rusdi bergidik jijik, lalu bangkit dari duduknya dan berkata, "Jauh-jauh kamu dari saya, Jo." Sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka.

"Eh, Rus. Jangan pergi!" Pak Jojo ikut berdiri, dan mengikuti ke mana Pak Rusdi pergi.

"Lucu banget mereka," kata Aby.

"Udah nggak aneh saya dengan mereka, dan dua-duanya emang kayak nggak bisa dipisahkan. Setiap kerja pasti satu kerjaan terus," ujar Pak Gunawan.

"Udah hukum alam kayaknya."

"Mereka itu saling bantu, jika Rusdi ada pekerjaan dia pasti ajak Jojo. Begitu juga dengan sebaliknya. Untuk itu, kenapa mereka satu kerjaan terus."

"Sohib banget, ya, Pak."

Pak Gunawan terkekeh, lalu menganggukkan kepalanya.

"Lanjutkan pekerjaan kamu, By. Saya mau temui bos dulu, tadi diminta menghadap," kata Pak Gunawan, yang langsung diangguki Aby.

Drrrttt ... Drrtt ...

Tak lama setelah kepergian Pak Gunawan, ponsel Aby tiba-tiba berdering. Membuat fokus Aby buyar, dan mengalihkan pandangannya pada ponsel. Ada sebuah panggilan video call masuk dari Maya.

Senyum Aby mengembang melihat nama itu, lalu menjawab panggilan video call-nya.

"Aby!!!" Aby menjauhkan ponselnya, ketika perempuan di seberang sana langsung berteriak saat wajahnya sudah muncul di layar ponsel milik Aby.

"Hm?"

"Kenapa nggak telpon aku? Dari tadi aku nungguin kamu."

"Aku lagi ngedit foto kamu, jadi kelupaan."

"Bisa-bisanya kamu lupa sama aku, Aby." Maya tampak mengerucutkan bibirnya di seberang sana, membuat Aby tersenyum, gemas ketika melihatnya.

"Aku nggak lupa sama kamu, cuma lupa mau telpon kamu."

"Sama aja!"

"Oke, aku minta maaf."

"Ngeselin."

"Kamu jangan cemberut gitu, bisa?"

"Kenapa? Aku jelek?"

"Bukan jelek, aku gemes lihatnya. Jadi kepengin cepet-cepet pulang."

Kedua mata Maya berbinar mendengar itu, lalu berkata, "Ya udah, pulang aja." Perempuan itu tampak semangat, kentara sekali jika sedang menunggu Aby pulang.

"Ya nggak bisa sekarang, aku pulang besok sore."

Maya menghela napasnya, dan kembali mengerucutkan bibirnya sebal. "Aku kangen, Aby," ungkapnya, membuat senyum Aby mengembang. Hampir setiap hari perempuan itu mengatakannya setiap kali mereka video call.

"Iya, aku juga. Udah salat, hm?"

"Udah, kamu udah?"

"Alhamdulillah, udah."

"Makan malamnya udah?" Aby mengangguk kepalanya sebagai jawaban. "Syukurlah, makan yang teratur, ya, Aby. Tenaga kamu dikuras setiap hari, aku nggak mau kamu sampai sakit."

"Iya, kamu juga. Susunya juga jangan lupa diminum."

Lihat selengkapnya