Pukul 1 siang, setelah selesai salat Zuhur, Maya pergi dari kontrakannya untuk ke rumah Bu Hartati. Tadi pemilik kontrakannya itu memberi pesan, meminta Maya untuk datang ke rumahnya. Entah apa alasan wanita setengah baya itu memintanya datang ke sana.
Setibanya di rumah Bu Hartati, ia melihat ada 4 orang—termasuk Bu Hartati—yang duduk di teras depan rumah, tengah makan rujak sama-sama.
"Nah, itu Maya. Sini, May," ucap Bu Hartati yang pertama kali menyadari kehadirannya.
Maya menurut, menghampiri Bu Hartati dan ikut duduk di teras seperti yang lainnya.
"Ayo ikut ngerujak, May. Ibu sengaja panggil kamu ke sini, buat ikut makan rujak," ujar Bu Hartati, yang membuat Maya menelan ludahnya, merasa tergoda dengan rujak yang dibuat mereka.
"Iya, ayo, May. Enak siang-siang gini makan rujak," tambah Eijaz, yang ikut serta di acara para perempuan yang tengah makan rujak itu. Hanya Eijaz satu-satunya lelaki yang ada di sana.
Maya mengangguk, lalu ikut nimbrung makan rujak yang ternyata segar dan enak. "Aby belum ke sini lagi, ya, Bu?" tanyanya pada Bu Hartati, setelah melihat ke rumah yang ada di samping rumah Bu Hartati yang tengah di renovasi. Sudah seminggu ini Aby bekerja membantu merenovasi rumah Bu Hartati yang satunya lagi.
Tadi Aby sempat pulang dulu untuk mandi dan berganti pakaian, siap-siap pergi ke masjid untuk salat Zuhur. Namun, sekarang belum terlihat lagi.
"Belum, May. Masih di masjid kayaknya," jawab Bu Hartati.
"Tadi saya bareng sama Aby pas pulang dari masjid, May. Tapi, dia nggak langsung ke sini lagi, katanya mau ke mini market dulu," tambah Eijaz, yang diangguki paham Maya.
"Kamu udah periksa kandungan lagi belum, May?" tanya Tia.
"Belum, Mbak. Rencananya Minggu depan."
"Sekalian USG jenis kelaminnya, May. Siapa tau udah keliatan anak kamu cowok atau cewek, penasaran aku sama calon ponakan," kata Tia, membuat Maya tersenyum dan mengangguk. "Eh, tapi kalau kamu maunya cewek atau cowok, May?"
"Mau anaknya cewek atau cowok nanti, disyukuri. Yang penting sehat, ya kan, May?" timpal Mazaya yang diangguki Maya kembali.
"Iya, Mbak. Aku sama Aby sedikasihnya aja, mau cewek atau cowok, ya diterima. Kan, sama-sama pemberian, sama-sama amanah yang harus dijaga, disyukuri," ucap Maya, membuat senyum mereka mengembang.
"Nah, ini jawaban yang bener. Ibu tuh suka banget sama pemikiran kamu dan Aby. Kalian masih muda, tapi bisa berpikir dewasa. Nggak kayak Tia, umur lebih tua dari kalian, tapi masih kayak anak kecil," kata Bu Hartati, membuat Tia mengerucutkan bibirnya.
"Tapi, nggak lama lagi Mbak Tia kan mau nikah, Bu. Pasti perlahan pikirannya juga berubah, nggak akan kayak anak kecil terus. Semuanya cuma butuh waktu," kata Maya, yang diangguki setuju Tia.
"Nah, dengar itu, Bu. Semuanya butuh waktu," tambah Tia.
"Ya, awas aja kalau udah nikah pikiran kamu masih kayak anak kecil. Jangan malu-maluin Ibu kamu, apalagi sampai marah-marah nggak jelas terus sama Mas David." Maya dan Mazaya kompak terkekeh mendengar itu, mereka teringat kelakuan Tia saat itu pada David.
"Ya nggak bakalan, Ibu. Tia ini bisa menyesuaikan, kok. Tenang ...."
"Nah, itu suami tercintamu, May," kata Eijaz yang melihat Aby berjalan menghampiri mereka. Lelaki itu masih mengenakan baju Koko dan sarung.
"Masya Allah, suami solehnya Maya. Baru pulang Pak Haji," kata Mazaya, yang dibalas dengan senyuman Aby.
"Aku juga soleh, kan, Sayang?" tanya Eijaz pada sang istri.
"Nama kamu, Eijaz. Bukan Soleh," jawab Mazaya, membuat Eijaz mendengkus.
"Bawa apa tuh, By?" tanya Tia, ketika melihat lelaki itu menjinjing keresek putih berlabel salah satu mini market.
"Susu Ibu hamil, Mbak mau?" tawar Aby, membuat Tia mendengkus.
"Ya kali, By. Gue nikahnya bulan depan, masa diduluin minum susu ibu hamil," protes Tia.
"Ya, siapa tau Mbak mau program sebelum nikah, nanti pas udah nikah langsung hamil."
"Nggak dulu, deh. Makasih, By. Buat Maya aja udah." Aby terkekeh mendengar itu, lalu menoleh pada Maya dan memberikan keresek putih itu.
"Pantes lama," ujar Maya.
"Tadi aku lihat susu kamu habis, makanya sekalian aku mampir ke mini market setelah dari masjid," jawab Aby.
"Suami orang kenapa sweet banget, sih? Jadi pengen cepet-cepet nikah." Tia merasa iri sekali setiap melihat interaksi antara Aby dan Maya, sepasang suami-istri itu selalu terlihat manis.
"Kayak David bisa so sweet aja sama lo, muka dia aja lempeng begitu, mana nggak pekaan lagi orangnya," ulti Mazaya pedas, membuat Tia mengerucutkan bibirnya. Apa yang dikatakan perempuan itu memang benar tentang David.
"Lo nggak boleh gitu, ya, Mbak. Gitu-gitu juga David orangnya baik, setia," protes Tia, membela calon suaminya.
"David, David. Mas David! Susah banget ngajarin mulut kamu biar biasain panggil Mas David pakek embel-embel, Mas," celoteh Bu Hartati sambil menabok lengan Tia.
"Ih, Ibu. Aku seumuran ini sama David, nggak apa-apalah panggil nama dia tanpa embel Mas. Geli, Ibu," balas Tia yang langsung mendapat pelototan tajam Bu Hartati.
"Ya, nggak apa-apa kalau seumuran juga. Biar lebih sopan aja, masa nanti panggil suami nama aja."
"Nggak, Ibu. Nanti aku nggak akan panggil David pakai nama, tapi pakai panggilan kesayangan. Nanti aku panggil David, Bubub," ujar Tia.
"Alay banget lo, Tia," cibir Eijaz.
"Gue jadi pengen lihat ekspresi wajah Mas David waktu lo panggil Bubub, Mbak. Gue aja geli sendiri dengernya," tambah Aby, membuat mereka tertawa.
"Kata gue, lo nggak usah alay, Tia. Cool dikit jadi perempuan," ucap Mazaya, membuat Tia kesal adalah hiburan bagi mereka.
"Udah nggak bisa, Sayang. David aja udah tau gimana bobroknya Tia, yang ada malah dikira sakit kalau Tia kelihatan kalem," balas Eijaz, membuat mereka kembali tertawa.
Tia mengerucutkan bibirnya kesal, mereka paling senang membuatnya kesal. "Ibu, mereka nyebelin banget," adunya, yang hanya dibalas dengan gelengan kepala Bu Hartati.
"Ya, kamu. Bobroknya kebangetan, untung Mas David mau sama kamu. Mana dia sabar banget lagi waktu dimarah-marahin kamu, padahal dia nggak salah sama sekali," ucap Bu Hartati, sama saja dengan mereka.
"Ih, Ibu sama-sama nyebelin. Aku aduin David, kalau aku selalu dibuli di sini," kesalnya.
"Kami bercanda, Mbak," kata Maya, hanya perempuan itu yang tidak ikut meledek Tia. Paling hanya ikut menertawakan saja.
"Nggak tau, aku anggap kalian serius." Tia merajuk.
"Ya udah, nggak usah ditemenin Tia, Guys. Nggak asyik dia," ucap Mazaya.
"Eh, nggak boleh gitu, ya, kawan-kawanku. Tanpa kalian, hidupku seperti mati lampu, ya, sayang. Seperti mati lampu." Tia malah nyanyi di akhir kalimatnya.
"King Nassar kali, ah."
Tia hanya terkekeh, sebelum akhirnya membulatkan kedua matanya ketika melihat Aby yang tiba-tiba membuka kancing baju kokonya. "Eh, astaghfirullah. Aby, ngapain buka-buka baju, woy?"
"Apa, sih, Mbak. Riweuh amat, saya pakek kaos juga," kata Aby, sambil melepas baju Koko dan sarungnya. Hingga sekarang lelaki itu terlihat memakai kaos oblong dan celana pendek.
"Lagian, pakek buka-buka di sini. Kan, ada kamar mandi," protes Tia.