Rumah Sepasang Luka

Reza Lestari
Chapter #40

Keresahan

Maya menatap foto hasil USG yang diberikan Dokter setelah menjalani pemeriksaan kandungan tadi siang dengan perasaan campur aduk. Antara kaget, senang, dan takut. Namun, yang lebih mendominasi perasaan perempuan itu sampai saat ini adalah rasa takut. Ya, ada rasa ketakutan yang hinggap di hatinya setelah menjalani pemeriksaan tadi.

Sebenarnya tidak ada yang bermasalah. Kata Dokter, kandungan Maya baik-baik saja dan sehat. Namun, ada pernyataan lain yang disampaikan Dokter tadi, yang membuat Maya tiba-tiba merasa takut hingga saat ini.

"Sayang." Maya mendongakkan kepalanya saat mendengar panggilan. Ia menoleh ke arah pintu kamar, hingga tak lama kemudian ia melihat Aby yang masuk kamar sambil membawa sepiring nasi dan sayur.

Aby berjalan menghampiri Maya yang duduk di kasur, dan menyimpan terlebih dahulu baki yang ia bawa dari dapur di meja, sebelum akhirnya ia duduk saling berhadapan dengan Maya. "Yang, aku udah buatin makan malam yang enak dan sehat buat kamu dan bayi-bayi kita," ucapnya dengan senyuman yang mengembang. Membuat Maya melihat menu makanan yang dibuat Aby. Hanya sekilas, karena ia merasa tidak napsu makan.

"Kamu lagi ngapain, sih, Yang?" tanya Aby, pasalnya perempuan itu tak kunjung keluar kamar sejak kepulangan mereka dari rumah sakit tadi. Biasanya ketika ia memasak, Maya akan menemaninya meskipun tidak membantu. Namun, tidak dengan tadi. Perempuan itu hanya diam saja, mungkin Maya kelelahan pikir Aby. Jadi, ia tak mempermasalahkan itu.

"Hmm ... kamu udah nggak sabar banget kayaknya tunggu mereka lahir," lanjutnya saat melihat foto USG yang dipegang Maya. Bahkan, lelaki itu mengambilnya dan melihat foto itu dengan senyuman yang mengembang. Kentara sekali jika Aby sangat bahagia dan menanti kehadiran mereka.

Mereka?

Ya, mereka. Bayi yang di dalam kandungan Maya bukan hanya dia, tapi mereka. Artinya bukan hanya satu, melainkan ada dua. Dan itu pernyataan lain dari Dokter, yang dimaksud Maya tadi. Dokter bilang jika ternyata Maya mengandung bayi kembar.

"Kamu senang?" tanya Maya.

"Ya, senang dong, Yang. Walaupun tadi sempat kaget juga, sih. Tiba-tiba Dokter bilang kalau bayi yang ada di dalam kandungan kamu itu kembar. 1 aja aku udah bersyukur, ini tiba-tiba langsung dikasih 2. Alhamdulilah banget, Yang," jawab Aby, masih dengan menatap foto USG itu dan senyuman yang mengembang.

Lalu, Aby mendongak menatap Maya. Saat itu senyumanya perlahan pudar, ketika melihat perempuan itu terlihat biasa saja. "Kalau kamu senang nggak?" tanyanya.

"Senang." Maya menjawab itu, tapi ekspresi wajahnya tidak memperlihatkan jika perempuan itu sedang senang. Tidak seperti Aby yang terlihat bahagia dengan binar di matanya, perempuan itu justru menjawab tanpa ekspresi di wajahnya. Membuat Aby bingung, apakah Maya benar-benar senang?

"Kamu kenapa, hm?" tanya lagi Aby, tangannya terulur untuk mengelus kepala perempuan itu lembut.

"Nggak apa-apa. Aku capek, mau istirahat." Maya mengubah posisi kakinya yang duduk bersila menjadi selonjoran.

"Makan dulu, ya."

"Kamu aja yang makan, aku nggak laper."

"Nggak laper gimana? Dari tadi belum makan, lho." Terakhir yang Aby ingat, perempuan itu hanya makan dessert box yang ia buat sebelum pergi ke rumah sakit untuk cek kandungan. Setelah itu, ia tak melihat Maya makan apa pun lagi. Jadi, mana mungkin perempuan itu tidak merasa lapar sekarang. Apalagi, sejak hamil porsi makan Maya bertambah.

"Aku beneran nggak laper, aku cuma pengen istirahat," kata Maya, ia benar-benar tidak selera untuk makan saat ini.

"Gini, deh. Sedikit aja kamu makan, ya. Nggak apa-apa kalau makanannya nggak kamu habiskan, yang penting kamu makan, ada asupan," bujuk Aby.

"Aku nggak laper, tolong jangan paksa aku buat makan."

"Tapi, mereka butuh asupan."

Maya terdiam.

"Jadi, kamu makan, ya."

Lihat selengkapnya