"Assalamualaikum."
"Waalaikummussalam." Maya mendongakkan kepalanya saat menjawab salam dari Aby, saat itu juga ia melihat Aby yang baru pulang dari masjid setelah menunaikan salat isya.
Tanpa melepas sarung yang dikenakannya, Aby berjalan menghampiri Maya yang duduk di kasur. Ia ikut duduk, lalu tiba-tiba memeluk perempuan itu dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Maya.
"Kamu kenapa?" tanya Maya, ia melihat wajah Aby yang tampak lesu.
"Kangen," jawab Aby, membuat Maya menautkan alisnya.
"Kangen apaan, tiap hari ketemu juga."
"Ya, tetep aja aku kangen."
Maya mendengus, tapi juga membalas pelukan suaminya itu. "Badan kamu panas, Sayang," ucapnya, ketika merasakan rasa hangat pada suhu tubuh Aby yang ikut menjalar ke tubuhnya.
"Hm."
"Kamu nggak enak badan?"
"Hm."
"Minum obat, ya." Aby menggelengkan kepalanya, dan semakin erat memeluk perempuan itu. "Kok, nggak mau?"
"Pahit."
"Nggak usah lebay!" Maya memukul lengan Aby, membuat lelaki itu berdecak dan mengubah posisinya menjadi duduk tegak saling berhadapan dengan Maya.
"Kok, aku dipukul? Lagi nggak enak badan juga," gerutu Aby.
"Abisnya lebay banget, kayak anak kecil aja nggak mau minum obat karena pahit." Aby mengerucutkan bibirnya, lelaki itu tak suka minum obat.
Maya menempelkan tangannya di kening Aby, untuk memeriksa suhu tubuhnya. Dan ia merasa suhu tubuh lelaki itu lebih hangat dari biasanya. "Panas, lho, Yang. Minum obat, ya," ucapnya, tangan Maya beralih untuk mengelus rambut lelaki itu.
"Nggak mau."
"Jangan gitu lah, aku nggak mau kamu sakit."
"Aku nggak sakit, kok."
"Nggak sakit gimana? Badan kamu panas ini."
"Nanti juga sembuh sendiri, Yang."
"Mana ada sembuh sendiri, kalau kamu aja nggak berusaha minum obat. Jadi, minum obat, ya," bujuk Maya, ia khawatir lelaki itu benar-benar jatuh sakit. Mungkin karena Aby kelelahan, setiap hari terus memforsir diri dengan bekerja dari pagi hingga malam, belum lagi saat menjadi driver ojek online yang sering terkena angin malam.
"Nggak mau obat, maunya kamu," ujar Aby, membuat perempuan itu menautkan alisnya.
"Aku mana bisa jadi obat, Aby," balas Maya.
"Bisa, orang obat aku cuma satu, kamu." Senyum Aby mengembang setelah mengucapkan itu, membuat Maya mendengus.
"Bisa-bisanya ngegombal, lagi sakit juga." Maya mencubit hidung Aby dengan gemas, alih-alih merasa sakit, lelaki itu malah terkekeh. "Kamu itu lagi sakit, Aby. Minum obat, bukannya ngegombal."
"Beneran deh, obat aku itu kamu. Perlu bukti, hm?" tanya Aby.
"Mana buktinya?"
Aby tak menjawabnya, melainkan mencondongkan tubuhnya, mengikis jarak antara dirinya dengan Maya, sebelum akhirnya menyatukan bibirnya dengan bibir perempuan itu.
Perempuan itu memejamkan matanya, dengan kedua tangannya ia lingkarkan di leher Aby, membalas ciuman lelaki itu lebih dalam. Jantungnya berpacu sangat cepat, meskipun ini bukan yang pertama kalinya, tapi jantungnya selalu ikut bekerja keras setiap kali ia berciuman dengan Aby, atau melakukan hal yang lebih. Meskipun begitu, Maya begitu menikmati debarannya.
Tak lama, Aby melepaskan pagutan bibirnya untuk memberi Maya akses untuk bernapas. Hanya beberapa detik, sebelum akhirnya ia merasakan tangan Maya menekan tengkuknya dan kembali menyatukan bibir mereka. Untuk kali ini perempuan itu yang memulainya, tentu saja dengan senang hati Aby menyambutnya.
Maya ingin menjadi obat, seperti yang dikatakan Aby padanya. Untuk itu, ia akan berusaha melakukan apa pun untuk lelaki itu. Jika ciuman sekarang bisa menjadi penawar rasa sakit Aby, tentu ia akan melakukannya. Untuk Aby, untuk cintanya.
Jika dibandingkan, pengorbanan Maya tak akan sebanding dengan begitu banyaknya pengorbanan Aby untuknya. Untuk itu, selagi ia bisa memberikan apa yang Aby inginkan, maka ia akan berikan tanpa keterpaksaan.
Maya berhenti ketika merasa napasnya mulai menipis, dan sedikit menjauhkan wajahnya dari Aby. Hingga kini keduanya saling menatap dengan senyuman yang sama-sama mengembang.