Maya berjalan dengan sedikit terburu-buru menuju rumah, perasaannya campur aduk sekarang, ia juga tak bisa menahan air matanya sepanjang jalan, setelah mendengar penjelasan dari gadis yang tak ia ketahui namanya itu. Bahkan, barusan ia pergi begitu saja dari rumah Bu Hartati, meninggalkan gadis itu bersama Tia dan Mazaya. Sekarang yang ingin ia lakukan adalah menemui Aby untuk memastikan semuanya.
Napas Maya terengah-engah ketika sampai di rumah. Ia pun masuk dan mencari keberadaan Aby. Dan langkahnya terhenti tepat di ambang pintu kamar, ketika ia melihat Aby berdiri di depan cermin full body berukuran 127 X 34 cm yang bertelanjang dada.
Aby yang menyadari keberadaannya, sontak menoleh pada Maya. Saat itu juga keduanya terdiam, saling menatap dengan jarak beberapa meter yang memisahkan keduanya.
"Sebelumnya, saya minta maaf karena membuat Abyan pulang larut malam. Mbak, mohon jangan salah paham dulu sama saya. Kedatangan saya untuk menemui Abyan, tidak ada maksud apa-apa. Kami juga tidak memiliki hubungan apa pun, bahkan kami baru bertemu semalam," jelas gadis itu, ia tak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka. Apalagi, ketika melihat raut wajah tak suka Maya yang ditunjukkan perempuan itu padanya.
"Seperti niat awal, saya datang ke sini untuk mengantar motor Abyan. Semalam dia tidak bisa mengendarainya, karena lengan kanannya terluka," lanjutnya, membuat Maya menautkan alisnya.
"Terluka? Terluka kenapa?" tanya Maya, semalam ia tidak terlalu memperhatikan Aby. Untuk itu, ia tak melihat dan tak tahu jika Aby terluka.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya, merasa ragu untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Maya. Apalagi, Aby belum menjelaskannya secara langsung pada sang istri, takutnya lelaki itu memang sengaja tidak menceritakan apa yang terjadi karena tidak mau membuat Maya khawatir, apalagi perempuan itu sedang hamil. Sekarang ia bingung sendiri, apakah harus menjelaskannya atau tidak?
"Kenapa diam? Aby kenapa?" desak Maya.
"Lengan kanan bagian atasnya terluka karena tertusuk pisau," jawab gadis itu, membuat Maya terdiam shock. Begitu juga dengan Tia dan Mazaya yang terkejut.
"Apa? Kenapa bisa?"
"Semalam saya pesan makanan lewat gofood, dan driver yang mengantar pesanan saya itu adalah Abyan. Sebelum dia datang ke rumah untuk mengantar pesanan, tiba-tiba rumah saya kemasukan maling. Saya nggak tau kenapa maling itu bisa masuk, padahal di depan sudah ada satpam yang berjaga. Dan kebetulan di dalam rumah hanya ada saya sendiri, jadi saya berteriak minta tolong. Tidak lama setelah itu, saya melihat Abyan dan satpam penjaga rumah saya masuk. Mungkin, karena mendengar teriakan saya. Saat itu mereka berusaha menolong saya yang ditawan maling, Abyan berusaha melawan maling itu, dan berusaha menangkapnya. Karena jumlah malingnya ada 3 orang, sedangkan yang melawan mereka hanya 2 orang. Kami tidak menyadari jika di belakang Abyan ada 1 orang maling yang menodongkan pisau, dan pisau itu menusuk lengan Abyan." Maya tertegun mendengar penjelasan itu, kedua matanya memanas.
Bagaimana bisa itu terjadi, dan ia tak tahu apa-apa? Kenapa juga Aby tak menceritakan itu padanya? Dan, bodohnya semalam ia malah memarahi Aby karena pulang larut malam yang ia sangka karena terus bekerja. Namun, ternyata suaminya itu baru saja mengalami musibah.
"Semalam saya dan ...." Maya tak mendengarkan lagi penjelasan yang diutarakan gadis itu, karena ia pergi begitu saja meninggalkan mereka. Ingin menemui Aby.
Tangis Maya pecah saat Aby menoleh ke arahnya, apalagi ketika ia melihat perban yang melingkari lengan bagian atas Aby yang sebelah kanan untuk menutupi lukanya. Ternyata apa yang diceritakan gadis tadi itu benar, Aby-nya terluka.
"Aby," panggilnya, membuat lelaki itu menghampirinya dengan rasa kebingungan, dan terkejut karena istrinya itu tiba-tiba menangis.
"Kamu kenapa nangis, hm? Ada apa?" tanyanya khawatir.
Bahkan, cara bicara Aby begitu lembut. Padahal, Maya sudah memarahi dan mendiamkannya sejak semalam. Betapa bersalahnya Maya.
Perempuan itu memeluk Aby dengan hati-hati, seraya berkata, "Kamu jahat, Aby."
"Maaf, Sayang." Tangan kiri lelaki itu terulur untuk membalas pelukan Maya, mengelus punggungnya dengan lembut, mencoba menenangkan.
"Kenapa kamu diam aja waktu aku marah semalam? Kenapa nggak jelasin apa pun sama aku? Kenapa nggak bilang kalau kamu habis dapat musibah, makanya pulang larut malam. Kenapa nggak cerita?" tanya Maya, membuat lelaki itu menautkan alisnya. Bingung kenapa istrinya itu tahu ia dapat musibah semalam.
"Kamu berhak marah sama aku, kan aku emang pulang larut malam. Udah bikin kamu nunggu juga, jadi ya aku terima aja kalau kamu marah," jawab Aby, membuat perempuan itu malah merasa bersalah.
"Tapi, kamu pulang larut malam karena habis kena musibah. Harusnya jelasin ke aku, biar aku nggak salah paham sama kamu."
"Aku nggak mau menyita waktu istirahat kamu tambah banyak lagi, apalagi semalam kamu nungguin aku lama dan nggak tidur. Kalau aku jelasin, pasti kamu jadi nggak tidur-tidur. Untuk itu, aku nggak cerita sama kamu," jelas Aby.
Maya mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya, dengan rasa bersalah yang bertambah setelah mendengar alasan Aby. "Kamu selalu memikirkan aku, tapi kadang nggak pernah pikirin diri kamu sendiri. Kamu khawatir sama aku, tapi kadang abai dengan diri sendiri."
"Kan, ada kamu yang selalu pikirin aku juga," balasnya, membuat Maya mendengkus.
"Tetap aja kamu harus pikirkan diri kamu sendiri juga, Aby. Jangan kayak gitu lagi, ya. Kalau ada apa-apa cerita aja sama aku, kan kalau kamu nggak cerita, aku akan terus salah paham sama kamu. Kalau aja nggak ada cewek yang datang tadi nanyain kamu, mungkin aku nggak tau kalau kamu kena musibah semalam," jelas Maya, meskipun di dalam hatinya ia tak suka dengan gadis yang ia temui tadi. Namun, jika tak ada gadis itu, mungkin ia tidak akan tahu suaminya sedang terluka sekarang.
"Cewek? Kanya?" tanya Aby memastikan.
"Nggak tau namanya siapa, tadi dia datang ke rumah Bu Hartati nanyain kamu. Katanya mau antar motor," jawabnya, agak kesal karena Aby tahu nama gadis itu.
"Terus, sekarang dia di mana?"
"Aku tinggal di rumah Bu Hartati."