Maya menatap Aby dengan tatapan tanya, ketika melihat gadis kemarin yang diketahui bernama Kanya itu tiba-tiba datang ke kontrakan yang dihuni mereka hari ini. Ia tak tahu kenapa gadis itu datang ke sana, untuk apa lagi? Bukannya tujuan Kanya datang ke sana untuk mengantarkan motor? Dan itu sudah kemarin, lalu kenapa gadis itu datang lagi hari ini? Untuk apa?
"Silakan masuk," kata Aby, membuat Maya mengerucutkan bibirnya. Untuk apa juga suaminya itu mempersilahkan Kanya masuk?
Kanya mengangguk, dan masuk lebih dulu setelah dipersilahkan.
"Sayang, masuk," ajak Aby, tapi Maya hanya menatapnya dengan cemberut. "Aku juga nggak tau dia mau ngapain, jadi ayo masuk dulu," bujuknya, membuat perempuan itu menghela napasnya pasrah. Lalu, ikut masuk bersama Aby.
"Maaf nggak ada sofa, jadi duduknya lesehan. Nggak apa-apa, kan?" tanya Aby ketika Kanya terlihat memperhatikan isi kontrakannya.
"Eh, nggak apa-apa, kok," jawabnya, lalu duduk lesehan beralaskan tikar.
"Aku mau ambil minum dulu, kamu temani Kanya dulu, ya."
"Biar aku aja, tangan kamu kan lagi sakit."
"Nggak apa-apa?"
"Iya, tunggu sebentar." Aby mengangguk sebagai jawaban, dan membiarkan Maya pergi ke dapur. Sedangkan, ia duduk lesehan bersama Kanya.
"Gimana kabar lengan kamu, Byan?" tanya Kanya, wajahnya menunjukkan rasa bersalah atas apa yang telah menimpa Aby.
"Kalau digerakkan masih sakit, tapi perlahan membaik, kok," jawab Aby, membuat gadis itu semakin merasa bersalah.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan mohon maaf. Karena menolong saya, kamu jadi terluka."
"Nggak perlu minta maaf, musibah kemarin bukan salah kamu, bukan kemauan kamu juga. Lagi pula, sesama manusia kan memang harus tolong menolong."
Tak lama kemudian, Maya kembali ke ruang tengah sambil membawa baki berisi 2 gelas air putih. Lalu, menyimpan kedua gelas itu di hadapan Kanya dan Aby.
"Maaf, hanya ada air putih," ucap Maya, lalu duduk di samping Aby.
"Nggak apa-apa, maaf merepotkan," balas Kanya.
"Nggak repot, kok," ujarnya dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
"Oh ya, kemarin kita belum sempat kenalan. Perkenalkan, nama saya Kanya," ucap gadis itu sambil mengulurkan tangannya pada Maya.
Perempuan itu membalas jabatan tangan Kanya, seraya menjawab, "Maya."
"Maaf, kemarin sudah membuat kamu kaget dengan cerita yang saya sampaikan tentang Byan." Maya menautkan alisnya, dan menggerutu di dalam hati. Setelah kemarin gadis itu menyebut Abyan, sekarang memanggil suaminya Byan. Ia merasa jika Aby memiliki panggilan khusus dari perempuan lain. Sangat menyebalkan, bukan?
"Nggak apa-apa. Justru, saya terima kasih karena Mbak mau cerita tentang musibah itu. Kalau nggak, mungkin saya nggak bakalan tau. Aby mana mau cerita masalah kayak gitu," ujar Maya.
"Saya juga minta maaf, karena menolong saya, Byan jadi terluka. Sudah bikin kamu khawatir juga, dan membuat kegiatan Byan jadi terhambat. Terutama pekerjaannya."
"Bukan salah kamu, yang tusuk lengan Aby, kan, malingnya. Jadi, nggak usah minta maaf. Lagi pula kita nggak tau jika akhirnya Aby akan terluka, padahal niat awalnya adalah menolong. Mungkin, sudah jalannya harus seperti itu, jadi mau gimana lagi? Sabar dan ikhlas saja untuk menerimanya, yang penting Aby baik-baik aja sekarang. Untuk pekerjaan Aby yang terhambat, kita ambil hikmahnya aja. Mungkin, dengan kejadian ini, Aby bisa istirahat dulu setelah setiap hari dia menguras waktu dan tenaganya untuk bekerja dari pagi sampai malam," jelas Maya, mungkin ia merasa cemburu dan tak suka dengan gadis itu. Namun, ia juga harus tetap bersikap dewasa untuk menyikapi hal ini, dengan tidak menyalahkan gadis itu.
Kanya terperangah mendengar penjelasan dari Maya, tak menyangka jika perempuan itu begitu bijak. Ia pikir akan dimarahi habis-habisan dan disalahkan atas apa yang terjadi. Apalagi, ia sadar jika Maya tidak menyukai keberadaannya.
"Assalamualaikum, Bang? Kak Maya?"
Mendengar itu, Aby, Maya, dan Kanya kompak mengalihkan pandangan ke arah pintu rumah yang terbuka. Hingga mereka bisa melihat seorang anak laki-laki kelas 6 SD yang baru saja datang sambil membawa kardus.
"Waalaikummussalam," sahut ketiganya.
"Masuk, Do," ucap Aby, yang langsung diangguki anak lelaki itu.
"Maaf mengganggu waktunya, Bang, Kak. Soalnya Ridho disuruh Ibu buat ke sini," ujar Ridho tak enak hati, apalagi saat ini Aby dan Maya kedatangan tamu. Lalu, ia duduk tak jauh dari sepasang suami istri itu.
"Emang ada apa, Do? Mau les privat tambahan?" tanya Maya.
"Bukan, Kak. Kan, sesuai perjanjian untuk les privat hanya hari Rabu dan Jumat aja," jawab anak itu. Memang sudah 1 bulan ini Aby dan Maya menjadi guru les privat Ridho. Keduanya bergantian, Maya di hari Rabu dan Aby pada hari jumatnya disaat libur kerja.
Bu Hartati lah yang menawari Aby dan Maya untuk menjadi guru les, apalagi setelah tahu jika semasa sekolah sepasang suami istri itu selalu rangking. Untuk itu, keduanya tak menyia-nyiakan kesempatan. Pada akhirnya, Aby dan Maya menerima tawaran Bu Hartati untuk membantu Ridho dalam belajar.