Maya keluar dari salah satu mini market setelah selesai membeli keperluannya, ia baru saja membeli susu ibu hamil karena stoknya sudah habis di rumah. Ia sengaja membelinya sendiri kali ini, karena tak mau merepotkan Aby jika lelaki itu tahu susunya habis. Untuk itu, sebelum Aby tahu susu yang ada di rumah habis, ia membeli dulu cadangannya.
"Meskipun Mami nggak terlalu suka minum susu, tapi ini demi kalian. Jadi, ayo sama-sama berjuang bersama Mami, untuk Papi, dan kehidupan kita yang bahagia." Perempuan itu mengelus perutnya dengan senyuman mengembang, ia tak sabar menanti kelahiran calon anaknya. Apalagi, setiap kali merasakan pergerakan di dalam perutnya, membuat ia ingin segera menggendong bayinya dan menciumi wajahnya karena gemas.
"Lepaskan! Tolong! Tolong!"
Maya mendongakkan kepalanya saat mendengar itu, hingga kedua matanya melihat seorang wanita tua yang tengah saling menarik sebuah ras dengan seorang pria yang naik motor.
Apa pria itu hendak mencopet tas wanita tua itu?
"Astaghfirullah," sebut Maya, dengan kedua mata membulat ketika wanita tua itu terjatuh. Setelah pria yang berusaha merebut tasnya itu, mendorongnya dan pergi sambil membawa tas itu, bersama satu orang temannya yang mengendarai motor.
Ia pun segera berjalan menghampiri wanita tua itu, keadaan di sana cukup sepi meskipun ini siang hari. Sehingga, belum ada orang yang menolong wanita itu saat berusaha menyelamatkan tasnya dari 2 pencopet tadi.
"Ibu nggak apa-apa?" tanya Maya sambil mengulurkan tangannya, untuk membantu wanita tua itu untuk berdiri.
Wanita tua itu menerima uluran tangan Maya, lalu berdiri. "Oma tidak apa-apa, hanya saja tas Oma diambil 2 pencopet barusan," jawabnya,.
"Maaf, barusan saya tidak datang di waktu yang tepat. Jadi, saya nggak bisa bantu Oma untuk melawan pencopet itu," ujar Maya tak enak hati, padahal ia sudah melihatnya lebih dulu jika wanita itu membutuhkan pertolongan.
"Tidak apa-apa, lagi pula kamu sedang hamil. Bisa bahaya kalau kamu bantu Oma untuk melawan pencopet itu."
Maya mengambil sebotol air mineral yang ia beli tadi di mini market, kebetulan sekali ia membeli air itu juga tadi. "Minum dulu, Oma." Perempuan itu memberikan air mineralnya, setelah sebelumnya membuka tutup botolnya.
"Terima kasih." Maya mengangguk, dan tersenyum ketika wanita tua itu menerima air darinya.
"Apa kita lapor ke polisi aja, Oma? Siapa tau barang berharga Oma bisa kembali, setelah kita melaporkan ke polisi," usul Maya.
"Di dalam tas itu hanya ada dompet dan ponsel saja. Oma membutuhkan ponsel itu untuk menelepon anak Oma, dan uang untuk naik taksi. Tetapi, sepertinya mereka lebih butuh itu, sehingga berhasil mengambilnya dari Oma. Meskipun, secara paksa. Jadi, ya sudah. Ikhlaskan saja," jelasnya, membuat Maya bingung kenapa wanita itu dengan mudahnya mengikhlaskan barang-barangnya yang baru saja dicopet?
"Tapi, Oma beneran nggak apa-apa?" tanya lagi memastikan, pasalnya wanita tua itu baru saja terjatuh.
"Oma nggak ada yang luka, cuma pusing aja," jawabnya, membuat perempuan itu khawatir.
"Oma mau ke mana sekarang?"
"Oma mau ke rumah anak Oma, tapi barusan malah dapat musibah."
"Kalau gitu, biar saya yang antar ke rumah anak Oma. Saya juga khawatir kalau tinggalkan Oma sendiri. Kita tunggu taksi dulu di sini, Oma masih kuat?" tanya lagi Maya, selain pusing wanita itu pasti masih shock dengan kejadian barusan. Untuk itu, ia tak tega jika meninggalkannya sendiri. Apalagi, wanita itu pasti tak memegang uang sekarang.
"Apa tidak merepotkan?" tanya balik wanita itu.
"Tidak sama sekali, Oma," jawabnya dengan senyuman mengembang.
"Terima kasih, kamu baik sekali. Siapa nama kamu?"
"Maya, Oma."
"Kalau nama Oma, Sari. Oma senang bisa bertemu orang baik seperti kamu."
"Maya hanya berusaha untuk membantu semampunya, Oma."
Wanita tua bernama Sari itu tersenyum kagum. Tadi ia sudah berteriak minta tolong saat berusaha menyelamatkan tasnya, tapi tak kunjung ada yang datang menolongnya. Padahal, ia sudah berteriak kencang. Hingga Maya datang, dan mengulurkan pertolongan untuknya, dan anehnya malah minta maaf lebih dulu karena datang di waktu yang tidak tepat. Padahal, perempuan itu tak ada salah padanya.
Oma Sari mengelus perut besar Maya, seraya bertanya, "Udah berapa bulan?"
"Mau 7 bulan, Oma."
"Semoga bayi dan ibunya selalu sehat, selalu dalam perlindungan, dan dilancarkan segalanya." Maya mengaminkan doa itu, sebelum akhirnya menyetop satu taksi yang lewat, dan mengajak Oma Sari untuk naik dan mengantarnya pulang.
---
Maya menatap bangunan rumah mewah di hadapannya dengan tatapan kagum, taksi yang ia tumpangi bersama Oma Sari berhenti di salah satu perumahan elite yang ada di Jakarta, sesuai dengan alamat yang diberikan Oma pada sang supir. Dan Maya tak menyangka, jika rumah anak Oma Sari semegah itu.
"Ayo masuk, May," ajak Oma Sari, ketika keduanya baru saja keluar dari taksi, tepat di depan perkarangan rumah mewah itu.
"Maya langsung pulang aja, Oma. Lagi pula, Maya belum izin ke suami kalau mau pergi tadi, takut dia nyariin kalau pulang ke rumah nggak ada Maya," tolak Maya halus, saat ke mini market tadi, ia memang tidak menelpon Aby untuk meminta izin. Karena ia tahu, lelaki itu tak akan mengizinkannya, dan akan ngotot untuk membelikan susu untuknya.
"Masuk dulu sebentar, ya. Nanti, Oma minta tolong supir anak Oma untuk antar kamu pulang." Maya menggelengkan kepalanya cepat, tak ingin merepotkan orang lain.