Rumah Sepasang Luka

Reza Lestari
Chapter #50

Maya cemburu

Maya berjalan masuk ke kontrakan, setelah melihat mobil yang dikendarai supir pribadi Pak Bagas telah pergi. Ia dan Aby baru saja di antar hingga halaman depan kontrakan rumahnya.

"Sayang," panggil Aby yang mengikutinya dari belakang, tapi perempuan itu tak menghiraukannya. Maya terus berjalan menuju kamar.

"Yang, kamu marah?" tanya Aby, tapi tak mendapat jawaban. Kali ini Maya malah fokus memilih baju di dalam lemari. "Sayang, jangan diam aja, dong."

Maya menghela napasnya, lalu mengambil satu kaos dan celana pendek milik Aby. Sebelum akhirnya ia berbalik, menatap lelaki itu. "Mandi sana," ucapnya sambil memberikan pakaian yang baru saja ia ambil itu pada Aby.

"Kamu marah?"

"Aku nyuruh kamu mandi, bukan bertanya. Cepat sana!"

"Jawab dulu."

"Kamu mau aku marah?" Aby menggelengkan kepalanya cepat. "Ya udah, sana mandi. Aku nggak suka sama bau parfum kamu yang kecampur parfum cewek lain. Jadi curiga kalian berdekatan terus." Maya memutar tubuh Aby, lalu mendorong pelan lelaki itu agar berjalan untuk pergi ke kamar mandi.

"Nggak, Yang. Demi apa pun, aku nggak deket-deket sama cewek lain," ujar Aby, ia tak ingin istrinya itu salah paham dan berakhir akan semakin marah padanya.

"Nggak deket-deket, tapi makan disuapi. Dusta banget," balas Maya yang masih mendorong punggung Aby menuju kamar mandi.

"Aku udah nolak berkali-kali, Yang," belanya.

"Tapi, tadi kamu makan disuapi dia."

Aby dan Maya berhenti berjalan ketika sampai di depan kamar mandi, lalu lelaki itu berbalik menghadap sang istri. "Itu tadi aku lagi ngomong, malah dipotong sama dia yang tiba-tiba suapi aku. Lagian, cuma sekali, Yang."

Maya mendengkus mendengar itu, lalu berkata, "Cuma sekali? Emang kamu maunya berapa kali, hm? Oh, atau jangan-jangan waktu aku mau suapi kamu tadi, sebenarnya kamu nggak mau. Dan maunya disuapi dia aja, gitu? Buktinya, tadi lama banget terima suapan dari aku."

"Nggak gitu." Tadi Aby kaget saja ketika Maya menyodorkan sesendok nasi dan lauk padannya sambil berkata, 'Ayo, nggak usah sungkan.' seperti yang dikatakan Kanya sebelumnya. Seolah Maya memang sengaja untuk meledeknya.

"Ya udahlah, kamu mandi aja sana," titah Maya, kembali mendorong tubuh Aby pelan agar masuk kamar mandi.

"Ya udah, ayo," ajak Aby tiba-tiba.

"Ke mana?"

"Mandi bareng."

Maya mendengkus, apalagi ketika melihat senyum tengil lelaki itu yang terlihat menyebalkan sekarang.

"Nggak mau, males. Mandi aja sendiri sana," tolaknya.

"Tapi, tanganku masih sakit, Sayang. Bantuin," pinta Aby dengan menunjukkan sikap manjanya.

"Aku masih marah sama kamu, Aby."

"Pending dulu aja marahnya."

"Mana bisa begitu, Aby."

"Bisain aja, ayo sayang." Maya mendengus, tapi juga pasrah. Ia ikut lelaki itu masuk ke kamar mandi.

---

Malamnya, ketika Maya tengah asyik dengan ponselnya, berselancar di media sosial. Aby yang baru pulang dari masjid setelah salat isya, tiba-tiba merebut ponselnya begitu saja. Lalu, lelaki itu berbaring dan menjadikan paha Maya sebagai bantalnya.

"Nggak sopan, main rebut ponsel orang sembarangan. Balikin!" gerutu Maya, tapi dibalas dengan gelengan kepala lelaki itu.

Sekarang Aby tengah mengotak-atik ponsel Maya, membuka aplikasi YouTube. Kemudian, mencari murottal surah Alquran, sebelum akhirnya mendekatkan ponsel itu pada perut besar Maya. Lalu, lelaki itu memejamkan kedua matanya.

Maya menghela napas, lalu tangannya terulur untuk mengelus rambut Aby dengan kedua mata yang terus menatap suaminya itu. Sudah pernah ia katakan, jika ia suka memandangi wajah Aby ketika terpejam atau tertidur. Lelaki itu terlihat damai, tenang, seolah tak memiliki beban. Namun, ketika memandang wajah Aby dalam keadaan lelaki itu membuka matanya, atau sedang tidak tidur. Terkadang Maya merasa tak tega, ketika melihat wajah lelahnya yang sering kali ditutupi Aby dengan senyuman manisnya.

Lelaki itu membuka kedua matanya, tepat saat Maya merasakan ada tendangan dari dalam perutnya.

"Mereka nendang?" tebak Aby yang ikut merasakan tendangan itu, karena kepalanya tepat di dekat perut Maya.

Perempuan itu tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

"Kalian belum tidur?" Aby mengusap perut besar itu dengan lembut. "Kangen Papi nggak? Kalau kangen coba nendang lagi." Lelaki itu menunggu beberapa saat, masih dengan tangannya yang mengelus perut Maya. Hingga tak lama kemudian, ia bisa merasakan tendangan lagi.

Lihat selengkapnya