"Aby, makan dulu," ucap Maya pada Aby yang kini tengah main game di ponselnya.
"Iya, bentar."
"Main gamenya dilanjut nanti, sekarang makan dulu."
"Iya, ini tanggung."
"Makan dulu, sotonya keburu dingin, nanti nggak enak."
"Iya, Sayang."
"Aby."
"Iya."
Maya menghela napasnya, mulai kesal karena lelaki itu berkata iya, tapi tak kunjung menghentikan kegiatannya yang sedang bermain game.
"Papi kalian nggak usah ditemenin, Dek. Soalnya lebih sayang sama game, daripada Mami." Seketika Aby menghentikan kegiatannya, dan menoleh pada Maya yang duduk bersila di hadapannya sambil mengelus perut besarnya.
"Eh, kok, ngomongnya gitu?"
"Mentang-mentang tangannya udah sehat lagi, nggak sakit lagi, jadi udah bisa main game lagi. Terus kita malah dianggurin. Udah, nggak usah ditemenin." Maya pura-pura tak mendengar ucapan Aby, bahkan ia tak melihat ke arahnya sama sekali.
"Nggak gitu, Sayang," kata Aby, dan perempuan itu masih tak mau menatapnya.
"Padahal, kalian udah laper, ya? Tapi, papi kalian nyuruh nunggu terus. Mau duluan makan, nggak enak. Mana ada makan bersama, tapi makannya duluan. Tau gitu dari tadi aja kita makan, ya?"
Aby menghela napasnya sembari menyimpan ponsel di tikar tempat mereka duduk lesehan, lalu ia berpindah duduk saling berdekatan dengan perempuan itu. "Hey," ucapnya sambil mengelus lembut kepala Maya, membuat perempuan itu mendongakkan kepalanya dan menatap Aby dengan ekspresi wajah kesal.
"Apa? Aku lagi ngobrol sama anak-anak, kamu nggak diajak. Sana, main game aja." Maya mengalihkan pandanganya ke arah lain, tak ingin melihat sang suami.
"Yang."
Tak ada jawaban.
"Sayang."
Tak ada sahutan.
"Istriku."
Maya masih diam.
"Mas, Mbak, ini Papi harus apa? Mami kalian ngambek ini? Gimana cara bujuknya biar nggak ngambek lagi?" tanya Aby, sambil mengelus lembut perut Maya.
Perempuan itu menolah ke arah Aby saat mendengar lelaki itu memanggil calon anak mereka.
"Kenapa dipanggil Mas sama Mbak? Padahal, kita nggak tau mereka perempuan atau laki-laki, atau malah keduanya," tanya Maya penasaran, baru kali ini ia mendengar lelaki itu memanggil calon bayi mereka dengan sebutan itu.
Soal jenis kelamin bayi kembarnya, sampai detik ini mereka tak tahu. Karena saat itu mereka sempat melarang dokter untuk memberi tahu jenis kelaminnya, katanya ingin jadi kejutan.
"Ya, makanya aku panggil dua-duanya, Yang. Mas sama Mbak, soalnya lebih enak manggilnya dari Dek. Nanti, kalau mereka udah lahir, kalau dua-duanya cowok, kita panggil Mas sama Abang aja. Kalau Perempuan, Mbak sama Kakak. Nah, kalau cowok cewek, Mas sama Mbak. Gimana, yang?" tanya Aby, membuat perempuan itu berpikir sejenak.