Rumah Sepasang Luka

Reza Lestari
Chapter #52

Sebelum lahiran

"Kok, Aby lama, ya, Bu?" tanya Maya pada Bu Hartati yang saat ini menemaninya di kamar rawat inap salah satu rumah sakit, bersama Tia dan Mazaya.

Hari ini jadwal Maya untuk operasi caesar, sesuai dengan keputusan yang ditetapkan dokter setelah diskusi dengan mereka sebelumnya.

Penantian itu akhirnya tiba juga, dan rasanya menegangkan. Apalagi, Maya yang sering overthinking, kali ini ia berusaha keras untuk berpikir yang baik-baik. Namun, rasanya ia belum tenang sekarang, karena Aby belum kembali ke sana. Suaminya itu pulang ke kontrakan dulu untuk mengambil barang yang lupa dibawa.

Bu Hartati menggenggam tangan Maya, dan mengelusnya lembut. Mencoba memberikan ketenangan untuk perempuan itu. "Sabar, ya. Aby pasti segera kembali," ucapnya.

"Iya, May. Kamu tenang aja, Aby perginya sama Eijaz, kok. Dia nggak sendirian, suami brondongku bisa diandalkan," tambah Mazaya, membuat Maya tersenyum dan mengangguk.

"Maaf sebelumnya, May. Tadi aku minta Bang Eijaz untuk sekalian jemput David—"

"Mas David!" koreksi Bu Hartati, membuat Tia menghela napasnya.

"Iya, maksudnya Mas David. Jadi, mereka datangnya agak lama, kamu sabar dulu, ya," lanjut Tia.

Maya kembali menganggukkan kepalanya dan berusaha untuk tenang dan sabar.

"Mbak Maza, duduk, Mbak. Wajah Mbak Maza pucat itu, padahal Mbak istirahat aja di rumah, jangan maksain ikut nemenin aku di sini," kata Maya, ia tak tega melihat Mazaya yang sepertinya sedang sakit. Namun, malah kekeuh ingin menemaninya di sana.

"Aku nggak apa-apa, kok, May. Kamu tenang aja, jangan dipikirin," balas Mazaya tenang.

Maya merasa terharu dengan keberadaan mereka di dekatnya, padahal mereka tidak punya kewajiban yang mengharuskan untuk tetap berada di sana menemaninya. Bahkan, satu anggota keluarganya saja tidak ada di sana.

Mungkin, mereka memang tidak memiliki ikatan darah untuk menjadi keluarga, tapi kebaikan lah yang menjadikan mereka keluarga paling berharga bagi Maya.

Maya membalas genggaman tangan Bu Hartati, wanita paruh baya itu berjasa sekali bagi Maya dan Aby selama ini. "Makasih banyak, ya, Bu. Untuk segala kebaikan Ibu pada Maya dan juga Aby selama ini. Ibu selalu bantu kami, dari hal kecil sampai besar, Ibu selalu menjadi orang pertama yang bantu kami. Apalagi, dari awal Maya hamil sampai detik ini, cuma Ibu yang terus berusaha memberitahu, mengurus, membantu, dan menenangkan Maya sebagai seorang Ibu." Air mata Maya menetes saat mengatakan itu.

Jujur, ia menginginkan Dina berada di sana juga untuk menemaninya, ia juga sangat merindukan mamanya itu. Bohong jika ia tidak pernah merindukan atau tak mengingatnya. Justru, selama ini ia hanya berusaha memendamnya, untuk tidak menambah rasa kecewanya pada Dina.

Bu Hartati mendekat, lalu memeluk Maya dan mengelus punggungnya lembut.

"Setelah Papa meninggal, Maya cuma punya Aby, Bu. Tapi, semenjak tinggal di kontrakan Ibu, Maya bersyukur sekali karena dipertemukan dengan orang-orang baik seperti kalian semua. Sampai Maya nggak pernah merasa sendirian lagi, bahkan beban yang dimiliki Maya pun terasa ringan karena ada kalian yang selalu bantu. Maya benar-benar terima kasih." Maya sudah tak bisa menahan tangisnya, membuat Bu Hartati ikut menangis.

"Kamu nggak akan pernah sendirian lagi, Maya. Kamu juga anak Ibu, selama ini Ibu tidak pernah menganggap kamu sebagai orang asing. Tetap semangat, ya. Jalani semuanya dengan ikhlas, sabar, dan penuh syukur. Kamu perempuan kuat, Maya," ucap Bu Hartati yang diangguki oleh Maya.

"Maafin Maya sering ngerepotin, Ibu. Maaf, Maya belum bisa membalas kebaikan Ibu."

Bu Hartati melepaskan pelukannya, dan menatap Maya. Lalu, tangannya menghapus air mata perempuan itu, seraya berkata, "Kamu nggak pernah ngerepotin. Apa yang Ibu lakukan, itu karena Ibu sayang sama kamu. Jangan dipikirkan harus membalas apa pun, dengan melihat kamu baik-baik saja, itu sudah sangat cukup bagi Ibu, May."

"Makasih, Bu. Doain Maya, ya. Semoga operasinya lancar nanti, Maya dan dedek bayinya juga sehat dan selamat." Bu Hartati menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, tanpa diminta ia akan berdoa untuk perempuan itu. "Mbak Tia, Mbak Maza, makasih banyak untuk semuanya. Doain Maya juga, ya, Mbak," lanjutnya pada Tia dan Maya yang sedari tadi ikut menangis dalam diam.

"Pasti, kami akan doakan yang terbaik untuk kamu dan dedek bayinya," ujar Mazaya sambil mengelus bahu Maya lembut.

"Pokoknya kamu harus semangat terus, ya, May," tambah Tia.

"Iya, Mbak. Makasih."

Maya mengelus perutnya yang besar, ia tak sabar bertemu dengan dua anak kembarnya.

"Assalamualaikum."

Maya mendongakkan kepalanya saat mendengar itu, begitu juga yang lainnya, serentak mengalihkan pandangan ke arah pintu. Saat itu juga mereka melihat Aby yang datang bersama Eijaz dan David.

"Nah, suami tercinta kamu akhirnya datang juga," ujar Bu Hartati, lalu memberikan ruang untuk Aby mendekati Maya.

Lihat selengkapnya