Dengan langkah gontai, Dina berjalan menelusuri taman kota dengan kedua mata yang fokus mencari seseorang. Ia tengah mencari Alin yang tadi mengajaknya untuk bertemu di sana, katanya ada yang hendak wanita itu katakan padanya.
Lama mencari, akhirnya ia menemukan juga wanita yang berstatus sebagai Mama Aby, sekaligus besannya itu, sesuai dengan informasi Alin mengenai keberadaannya. Alin tengah duduk di salah satu kursi taman yang dekat dengan tangga. Ia pun berjalan menghampirinya.
"Bu Alin," panggilnya, membuat si empunya nama langsung menoleh ke arahnya.
"Bu Dina, akhirnya datang juga," ucap Alin sambil bangkit dari duduknya, dan menghampiri Dina saat melihat wajah wanita itu yang nampak pucat. "Bu Dina, lagi sakit, ya? Wajah Ibu terlihat pucat. Kenapa Ibu nggak bilang sama saya aja tadi di telpon, kalau lagi sakit? Jadi, Ibu nggak perlu datang jauh-jauh ke sini." Alin merasa bersalah sekaligus khawatir melihat wanita itu.
"Saya nggak apa-apa, kok, Bu," balas Dina.
"Duduk dulu di sini, Bu." Alin membantu memapah Dina untuk duduk di tempatnya tadi. Begitu juga dengan dirinya yang ikut duduk di sana. "Ibu beneran nggak apa-apa? Mau saya antar ke dokter aja sekarang?"
"Nggak perlu, Bu. Terima kasih. Saya baik-baik aja, jadi Bu Alin jangan khawatir." Dina mengembang senyumannya, berusaha meyakinkan.
"Kalau Ibu merasa sakit atau apa, kasih tau saya aja, ya." Dina hanya mengangguk saja sebagai jawaban.
"Oh, ya, jadi apa yang mau Ibu sampaikan pada saya sekarang?" tanya Dina.
"Begini, Bu. Tadi saya mendapatkan telpon dari nomor yang tidak dikenal. Saya coba jawab telponnya, tapi saya tidak mendengar suara di seberang sana. Bahkan, saya sudah bertanya-tanya, tapi tetap tidak ada sahutan," ujar Alin mulai menjelaskan, dan Dina fokus mendengarkan lebih dulu. "Karena tidak ada sahutan terus, saya berniat untuk mematikan sambungan teleponnya. Tapi, tadi tiba-tiba saya mendengar seseorang memanggil nama Aby di seberang sana," lanjutnya, membuat Dina membulatkan matanya.
"Serius, Bu? Terus gimana?" tanya Dina excited, ia berharap bisa menemukan informasi tentang Maya.
Alin terlihat menghela napasnya berat, lalu berkata, "Teleponnya langsung dimatikan gitu aja, Bu."
"Ibu udah coba telpon lagi?"
"Sudah, Bu. Tapi, nomornya tiba-tiba nggak aktif. Tapi, saya juga merasa yakin kalau yang telepon itu adalah Aby. Cuma saya nggak tau kenapa dia tiba-tiba matiin teleponnya," jelas Alin.
"Coba saya lihat nomornya, Bu. Saya mau mencoba menghubunginya," pinta Dina.
Alin segera mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu mencari nomor yang tadi menelponnya. Setelah menemukan nomornya, ia pun menunjukkannya pada Dina, yang langsung ditulis oleh wanita itu di ponselnya. Kemudian, Dina mencoba menghubungi nomor itu, dengan harapan bisa terhubung.