Tangan Aby menggenggam erat tangan Maya yang bebas dari infusan, kedua matanya hanya fokus menatap wajah sang istri yang sedang istirahat pasca operasi caesar tadi. Sekarang Maya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, begitu juga dengan kedua anaknya yang kini tertidur di box bayi yang ada di samping ranjang yang ditempati Maya. Hanya ada dirinya saja yang kini menjaga Maya di sana, Bu Hartati dan yang lainnya pulang lebih dulu setelah tadi melihat Maya dan bayi kembar mereka sebelum dipindahkan.
Aby tak henti-hentinya mengucap rasa syukur, ia tak tahu harus mengungkapkan apalagi dan dengan cara apa, selain mensyukuri semuanya. Aby bersyukur karena kedua anaknya lahir dengan sehat dan tidak kekurangan apa pun, serta bersyukur karena Maya juga baik-baik saja. Ia masih bisa melihatnya, menggenggam tangannya, dan bisa terus bersama perempuan itu.
Tangan yang digenggam Aby bergerak pelan, membuat lelaki itu bangkit dari duduknya dan menatap Maya lebih dekat. Senyumnya mengembang kala melihat kedua perempuan itu membuka matanya.
"Hey," sapanya sambil mengelus lembut kepala Maya.
"Aby," ucap Maya terdengar lirih, lalu perempuan itu tiba-tiba meneteskan air matanya.
"Kamu kenapa, hm? Ada yang sakit?" tanya Aby khawatir, takut jika perempuan itu memang merasakan sakit yang tak bisa ditahan, hingga membuatnya menangis. Apalagi, Maya habis operasi. "Sayang, bilang. Jangan buat aku takut."
"Aku bertemu Papa, Aby. Aku melihat Papa menggenggam tanganku saat dioperasi, aku melihatnya menunggu dan menjagaku. Aku merindukannya, Aby. Sungguh." Air mata perempuan itu berderai membasahi pipinya. Dadanya terasa sesak, ia tak bisa berbohong jika selama ini ia merindukan sang papa. Dan entah yang dilihatnya tadi itu halusinasi atau hanya mimpinya saja, namun yang Maya rasakan seperti nyata. Harun benar-benar ada di sampingnya tadi selama ia dioperasi. "Dan setelah operasinya selesai, aku melihat Papa pergi."
Tangan Aby menghapus air mata istrinya yang terus menetes.
"Setelah itu, aku mimpi bertemu dengan Mama, Aby. Wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya dipenuhi luka, lalu Mama memelukku dan menangis. Aku juga merindukannya, Aby. Bohong jika selama ini aku nggak pernah merindukan Mama."
"Mau ketemu Mama? Biar aku usahakan meminta Mama Dina untuk bertemu dengan kamu," tawar Aby, tangannya kini mengelus kepala perempuan itu dengan lembut.
Namun, Maya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa, hm? Kalau kamu kangen sama Mama Dina, kita masih bisa usahakan untuk bertemu," kata Aby, mereka bisa saja mendatangi Dina ke rumah Papa tiri Maya, jika perempuan itu benar-benar ingin bertemu karena merindukannya. Berbeda halnya jika Maya merindukan Harun, mereka tidak bisa bertemu, dan hanya bisa datang ke pemakaman saja.
"Aku takut kecewa lagi dengan sikap Mama, Aby. Sedangkan selama ini aku berusaha untuk tidak membenci Mama, karena sudah membuat aku kecewa berkali-kali. Untuk itu, aku lebih baik tidak bertemu dengan Mama," jelas Maya, meskipun ingin, tapi lebih baik ia menahannya.
Aby menghela napasnya berat, lalu kembali menghapus air mata yang membasahi pipi istrinya itu. "Jangan nangis lagi, jangan banyak pikiran, kamu baru selesai operasi. Harus istirahat yang cukup."
"Mereka lahir dengan selamat, kan, Aby?" tanya Maya, kedua matanya beralih melihat dua bayi yang ada di dalam box.
"Alhamdulillah, mereka selamat, dan tidak kekurangan apa pun. Aku sangat bersyukur kamu dan mereka selamat," jawab Aby, membuat perempuan itu bernapas lega.
"Terima kasih sudah mau bertahan dan mempertahankan mereka. Aku nggak tau harus membalas semuanya dengan cara apa."
"Tetap berada di sisiku dan mereka, itu sudah lebih dari cukup, Aby."
Aby mengangguk, lalu mencium kening Maya lebih lama. Ia bahagia, untuk sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Jadi, bagaimana ia tidak bersyukur, jika yang diberikan Allah begitu banyak untuknya. Bahkan, kebahagiaan yang diberikan-Nya kali ini benar-benar kebahagiaan yang tak bisa diukur oleh apa pun. Rasa lelah yang selama ini ia rasakan, seolah hilang dengan kehadiran mereka di hidupnya.
---
"Aby, tolong benerin ikat rambut aku," ucap Maya ketika ikatan rambutnya terasa longgar, yang menyebabkan helaian rambutnya berjatuhan dan menutupi sebagian wajahnya. Ia tak bisa membenarkan ikatan rambutnya sendiri, karena kedua tangannya tengah menggendong salah satu bayinya yang tengah ia beri ASI.
Aby bangkit dari duduknya, lalu melepaskan ikat rambut Maya. Ia mengumpulkan semua rambut perempuan itu jadi satu, sebelum akhirnya kembali mengikat rambut itu.
"Makasih," ucapnya.
"Iya, Sayang," balas Aby sambil mengelus puncak kepalanya.
"Assalamualaikum."