Aby terbangun dari tidurnya kala mendengar suara tangis anaknya, ia bangkit dari kasur dan melihat ke arah box bayi, di mana kedua bayi kembarnya di tidurkan di sana. Ia segera menggendong anaknya yang menangis, sebelum satu anaknya ikut menangis karena mendengar saudaranya yang menangis kencang.
"Mbak Cia, jangan kencang-kencang nangisnya, Mbak. Nanti Mas Bya ikut bangun dan nangis lagi," ucap Aby sambil berusaha menenangkan bayi perempuan itu dalam gendongannya, ia akan berusaha sendiri dulu untuk menenangkan bayi itu, jika usahanya tidak membuahkan hasil dan bayinya masih terus menangis. Baru ia akan membangunkan Maya, meskipun tak tega karena perempuan itu baru saja tidur kurang lebih 1 jam karena sebelum itu anak lelakinya juga habis menangis.
Kali ini mereka sudah berada di kontrakan, tepatnya siang tadi Maya baru bisa pulang ke kontrakan setelah beberapa hari menjalani rawat inap usai operasi caesar di rumah sakit. Mereka tentu senang karena akhirnya bisa pulang, dan berkumpul meskipun di rumah kontrakan yang kecil.
Bukan hanya Aby dan Maya yang senang saat pulang, tapi tetangga kontrakan mereka, Bu Eva, serta orang-orang yang mengenal mereka ikut senang dan antusias menyambut kepulangan mereka, terutama dua bayi kembar yang tidak identik itu. Apalagi, masing-masing orang datang sambil membawa kado untuk Abyasa dan Asia, membuat Aby dan Maya bersyukur sekali karena banyak orang yang menyayangi anak mereka.
Terutama Bu Hartati, Tia, dan Mazaya. Sejak awal Maya masuk rumah sakit hingga pulang tadi, ketiga orang itu tak pernah absen mendampingi Maya dan membantu Aby dalam hal apa pun. Biaya rumah sakit pun, mereka dengan suka rela ingin membayarkan sebagian biayanya. Padahal, saat itu tabungan Aby dan Maya masih bisa untuk membayar semuanya. Namun, mereka keukeuh ingin membantu membayar sebagian biaya rumah sakit, dan menyuruh Aby kembali menyimpan sebagian uangnya untuk digunakan keperluan lain. Betapa bersyukurnya mereka dikelilingi orang-orang baik.
"Siapa yang menangis, Aby?" Pertanyaan itu, membuat Aby berbalik dan melihat ke arah Maya yang baru saja mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk dengan kedua mata yang terlihat masih mengantuk. Perempuan itu terbangun karena Asia tak kunjung berhenti menangis.
"Asia, Sayang," jawabnya.
"Sini, biar aku gendong. Mungkin dia juga haus." Maya mengulurkan kedua tangannya, agar suaminya itu memberikan Asia padanya.
Aby menurut, memberikan bayi perempuannya pada Maya. Lalu, perempuan itu memberikan asi-nya pada Asia, hingga tangis bayi itu berhasil berhenti, karena ternyata memang haus.
Tangan Aby terulur mengelus kepala Maya, perempuan itu tengah menahan kantuknya. Ia tak tega sebenarnya, tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Anaknya butuh asi, dan hanya Maya yang bisa memberikannya.
Ternyata memang tidak mudah untuk menjadi seorang ibu, dan benar-benar banyak perjuangan serta pengorbanannya. Aby bisa melihatnya secara langsung. Dari hamil, melahirkan, lalu sekarang mengurus bayi. Banyak pengorbanan dan perjuangan yang perempuan itu lakukan. Bukan hanya Maya, tapi juga dengan perempuan lain di luar sana. Jadi, terlalu jahat jika seorang lelaki dengan sengaja menyakiti seorang perempuan.
Tak lihat kah mereka bagaimana ketika seorang perempuan tak bisa makan enak diawal kehamilan karena terus muntah-muntah, bagaimana ketika seorang perempuan susah payah bergerak disaat kehamilannya sudah besar, bagaimana ketika seorang perempuan berjuang melahirkan dengan mempertaruhkan nyawanya, dan bagaimana ketika seorang perempuan sulit untuk tidur nyenyak karena bayinya menangis tengah malam.
Untuk itu, Aby selalu berusaha untuk menjadi lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Apa yang bisa ia lakukan untuk meringankan Maya, pasti akan ia lakukan. Ia tak akan membiarkan perempuan itu lelah sendirian.
"Ngantuk berat?" tanya Aby ketika melihat kedua mata istrinya sesekali terpejam.
Maya hanya tersenyum untuk menjawabnya. Sebenarnya bisa saja perempuan itu memberikan asi dengan posisi berbaring menyamping, tapi Maya belum terbiasa dan merasa kagok. Jadi, ia tetap memilih duduk meskipun sambil menahan kantuk.
Aby beralih duduk menjadi di belakang Maya, lalu membawa tubuh istrinya itu untuk menyender padanya dengan ia yang mendekap ibu dan bayi itu dari belakang. "Kamu sambil tidur aja, biar aku yang jagain kalian," ucapnya, membuat perempuan itu menoleh dan tersenyum saat menatapnya.
"Makasih," kata Maya, yang dibalas dengan anggukan. Lalu, lelaki itu mengecup pelipisnya.
"Tidur ya, Mbak. Jangan rewel, tidur aja yang nyenyak, biar Mami juga bisa tidur," ujar Aby, sambil mengelus kepala bayi perempuan itu dengan lembut. "Gemes banget, jadi pengen cium," lanjutnya.
"Asia?" tanya Maya.
"Maminya," jawab Aby, lalu mengecup pipi perempuan itu. Membuat Maya terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Lelaki itu selalu punya cara untuk menghiburnya, meskipun hal sederhana yang sebenarnya tidak diniatkan untuk menghibur, tapi Maya tetap terhibur.
"Gemes deh, jadi pengen cium," ujar Maya, sambil menatap wajah Asia.
"Asia?"
Maya menoleh pada Aby dengan senyuman yang mengembang, lalu berkata, "Papinya."
Aby terkekeh mendengar itu, bisa-bisanya perempuan itu mengikuti ucapannya. Namun, ia tetap mengecup bibir perempuan itu yang masih mengembangkan senyumannya. "I love you," bisiknya.
"I love you too," balas Maya, lalu kembali menyenderkan kepalanya pada dada bidang lelaki itu, kedua matanya benar-benar sudah berat karena mengantuk.