Rumah Sepasang Luka

Reza Lestari
Chapter #56

Bersama Aby

Aby masuk ke rumah sambil mengucapkan salam, tapi ia tak mendengar sahutan. Ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar untuk melihat keberadaan Maya dan dua anaknya, sedang apa mereka saat ini?

Langkah Aby berhenti di ambang pintu kamar, di dalam sana ia melihat Maya tengah membaringkan salah satu anak mereka di box baby, tepatnya di sebelah satu anaknya lagi yang sudah tertidur.

Setelah membaringkan anaknya, perempuan itu masih berdiri di sana, menatap dalam wajah kedua anaknya. Seraya berkata, "Jujur sama Mami, waktu kalian masih di dalam perut, terus diajak ngobrol sama Papi. Apa aja yang sering dikatakan Papi yang nggak Mami ketahui?"

"Apa Papi kalian suka bisik-bisik sesuatu? Misalnya, saat lahir wajah kalian harus mirip sama Papi? Dan kalian setuju, hingga saat lahir wajah kalian benar-benar fotocopy-an Papi," lanjut Maya, meskipun tak akan mendapatkan jawaban. "Mami lho yang bawa kalian tiap hari waktu masih di dalam perut, curang banget kalian mirip Papi semua. Mami cuma kebagian hidung Asia aja."

Aby tersenyum mendengar itu, sang istri sepertinya belum terima jika kedua wajah bayi mereka lebih mirip dengan Aby. Padahal, apa salahnya? Toh, mereka sudah jelas anaknya juga, jadi tidak masalah jika wajah mereka lebih mirip dengannya bukan?

"Mau aku kasih tau nggak?" tanya Aby, membuat perempuan itu terperanjat kaget, lalu berbalik badan untuk melihatnya.

"Aby, kapan kamu pulang? Bukannya ucapkan salam, malah ngagetin," gerutu Maya, membuat lelaki itu mendengkus.

Aby melangkahkan kakinya kembali, berjalan menghampiri Maya yang berdiri di dekat box bayi mereka. Setelah berdiri di hadapannya, dengan gemas lelaki itu mencubit hidung sang istri.

"Aku udah ucap salam waktu masuk rumah, tapi nggak ada sahutan," balas Aby.

"Oh, ya?" Aby mengangguk sebagai jawabannya, sambil melepaskan tangannya dari hidung Maya. "Ya udah, ulangi."

"Assalamualaikum, istriku."

Perempuan itu mengembangkan senyumannya, sebelum akhirnya berkata, "Waalaikumussalam, suamiku."

"Assalamualaikum maminya anak-anak."

"Waalaikumussalam papinya anak-anak."

Lantas, keduanya terkekeh bersama, menertawakan tingkah mereka sendiri.

Maya berdehem, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Kali ini menunjukkan wajah seriusnya kala menatap sang suami. Sebelum akhirnya ia bertanya, "Lalu, apa yang sering kamu katakan sama mereka yang aku nggak tau?"

"Aku nggak pernah bilang agar mereka harus mirip denganku. Aku hanya pernah bilang, 'Mas, Mbak, ayo bekerja sama dengan Papi.' gitu," jawabnya, membuat Maya menautkan alisnya.

"Bekerja sama untuk apa?" tanya lagi Maya.

"Untuk membahagiakan kamu."

"Hanya aku?"

"Kita semua, tapi yang paling utama itu kamu."

Lihat selengkapnya