Rumah Sepasang Luka

Reza Lestari
Chapter #57

Rumah Sepasang Luka

2 tahun kemudian...

Aby menaburkan bunga di atas pusara yang sudah lama tak ia kunjungi, kali ini ia menyempatkan datang karena kebetulan tempat kerjanya dengan Pak Gunawan tak terlalu jauh untuk ke pemakaman itu. Aby memang sudah mulai bekerja lagi, ikut bersama Pak Gunawan. Tepatnya sudah berjalan 3 bulan ia bekerja, berhubung kedua anaknya juga sekarang sudah berumur 2 tahun dan Maya sudah bisa menanganinya serta tak keberatan ia tinggal selama bekerja lagi. Jadi, saat Pak Gunawan menawarkan pekerjaan, Aby langsung menerimanya, tentunya atas persetujuan sang istri juga.

Online shop mereka masih berjalan, kini penjualannya semakin bertambah, dan sejak 3 bulan lalu mereka mempekerjakan 1 orang untuk membantu Maya. Meskipun perempuan itu bilang bisa menangani anak-anak dan online shop, tapi tetap saja ia tak tega jika harus Maya yang mengurusnya sendiri. Untuk itu, ia membuka lowongan pekerjaan agar ada yang bisa membantu istrinya itu mengelola online shop mereka. Karena selain mengurus anak-anak dan toko online, terkadang juga Maya menyempatkan waktu untuk menulis buku di waktu luangnya.

Sekarang perempuan itu sudah memiliki 2 novel yang naik cetak. Semuanya berawal dari Aby yang iseng-iseng mempublikasikan tulisan yang ditulis Maya di salah satu platform membaca dan menulis online yang ternyata banyak peminatnya, hingga tanpa diduga ada salah satu penerbit yang meminang karya Maya untuk dijadikan sebuah novel cetak. Betapa bersyukurnya mereka dengan semuanya, terutama semenjak kelahiran anak mereka, rezeki seakan mengalir dari mana saja.

Penjualan online yang meningkat pesat, penjualan novel karya Maya yang membeludak. Oh, satu lagi yang membuat mereka terngaga saat itu, yaitu dari YouTube. Setelah kedua anaknya lahir, Aby seringkali merekam video Abyasa dan Asia juga keseharian mereka, awalnya ia hanya ingin mengumpulkan video tumbuh kembang kedua anaknya beserta kehidupan mereka berempat. Karena ponselnya tak memungkinkan menyimpan semua video karena ukuran penyimpanannya terbatas, serta laptopnya juga sudah diisi dengan produk jualan online mereka. Alhasil Aby pun mengunggah video-video itu di YouTube dengan niat awal agar video-video itu tidak hilang dan ia mudah mencari jika merindukan masa-masa itu.

Namun, tak disangka, jika video yang diunggahnya itu malah banyak yang menonton, bahkan subscriber Aby bertambah setiap hari. Dan ternyata, yang menonton video mereka adalah pembaca novel Maya. Sungguh, Aby dan Maya benar-benar tak menyangka mendapatkan itu semua, tapi juga mereka tak lupa untuk mensyukurinya. Karena dari semua itu, perlahan ekonomi mereka semakin baik dan tercukupi.

Aby mengusap nisan yang tertulis nama almarhum Papa mertuanya itu. Ya, kali ini ia mengunjungi permakanan Harun, Papa Maya.

"Maaf aku baru ke sini lagi, Papa. Maaf juga karena nggak ajak Maya dan anak-anak ke sini, insyaallah lain kali Aby akan ajak mereka ke sini sama-sama," ucapnya.

"Kabar kami alhamdulilah baik, Papa. Meskipun lagi sibuk-sibuknya ngerjain ini itu, tapi insyaallah kami masih bisa menjaga kesehatan. Ibadah juga insyaallah nggak tertinggal, kami berusaha untuk melaksanakan ibadah tepat waktu, Papa. Sudah 3 bulan Aby kerja lagi bantu Pak Gunawan di proyek pembangunan rumah, uangnya buat nambah-nambah tabungan untuk bangun rumah kami, Papa."

Mengontrak di rumah Bu Hartati memang nyaman, selain tempatnya, tetangga dan lingkungan sekitarnya juga baik menurut Aby. Namun, tetap saja Aby juga ingin memberikan kenyamanan lebih untuk keluarga kecilnya dengan memiliki rumah sendiri. 

"Bya dan Asia semakin aktif, Papa. Apalagi, Asia. Cucu perempuan Papa itu, banyak tingkah dan cerewet sekali." Aby terkekeh sendiri kala mengingat tingkah anak perempuannya yang tidak bisa diam, berbeda dengan anak laki-lakinya, yang meskipun aktif tapi lebih kalem. "Nggak kerasa mereka tiba-tiba udah 2 tahun aja, padahal kayaknya baru kemarin mereka lahir. Waktu benar-benar berputar sangat cepat."

Bahkan, rasanya seperti belum lama Harun memintanya untuk menikahi Maya kala itu, tapi ternyata mereka sudah melewati banyak hal setelah kejadian itu. Sudah 3 tahun waktu yang mereka lalui setelah kejadian itu, hingga bisa berada dititik ini.

"Tapi, Aby belum bisa mempertemukan Maya dan Mama Dina. Bukannya Aby nggak mau, tapi Aby tidak ingin memaksa Maya, yang berakhir membuat dia sedih. Aby juga belum bisa membawa Maya untuk bertemu Papa Yuda dan Mama Alin lagi, rasanya Aby belum mampu untuk melakukan hal itu. Maafkan Aby, ya, Pah. Bukannya Aby tidak mau menyelesaikan semuanya, tapi Aby masih butuh waktu untuk menata semua hal agar bisa bertemu dan berdiri di hadapan mereka." Aby menghela napasnya berat setelah mengatakan itu. Jujur ia merindukan keluarganya, tapi ia belum berani menemui mereka lagi. Aby belum jadi apa-apa untuk bisa dibanggakan, apalagi kepergiannya dari rumah saat itu dicap sudah mempermalukan. Untuk itu, Aby sedang berusaha untuk sukses lebih dulu.

"Suatu saat nanti, Aby janji akan membawa mereka bertemu Mama keluarga Aby. Aby janji akan menyelesaikan semuanya dengan baik. Papa jangan khawatir, karena Aby akan selalu berusaha."

Aby mendongak menatap langit yang sudah menggelap, cuaca mendung ditambah hari yang sudah sore. Artinya Aby harus segera pulang sebelum turun hujan dan adzan magrib berkumandang. "Aby pamit pulang ya, Papa. Kapan-kapan Aby akan ke sini sama mereka."

Lelaki itu terlebih dulu memanjatkan doa untuk almarhum Papa mertuanya, baru setelah selesai ia pergi dari sana untuk segera pulang.

---

"Assalamualaikum," ucap Aby saat masuk rumah, tapi tak mendapatkan jawaban. Hanya saja ia melihat Maya yang tertidur di sofa ruang tengah kontrakannya dalam posisi duduk sambil memangku sebuah laptop.

Aby pun melangkah mendekat, lalu duduk di sebelah perempuan itu yang belum sadar dengan kepulangannya. Laptop yang ada di pangkuan Maya, ia ambil alih dan melihat apa yang tengah dikerjakan istrinya itu, ternyata Maya tengah menulis. Sejenak, ia membaca apa yang telah ditulis Maya.

Aku tertatih-tatih, kala harus melangkah pada jalan yang dirasa tak pernah aku pilih.

Berat dan letih, tapi keadaan memaksaku untuk tetap melangkah tanpa henti.

Lalu, suatu hari aku bertanya dengan lirih, "Kenapa?"

Banyak pertanyaan yang aku mulai dengan kenapa.

Kenapa aku?

Kenapa harus seperti ini?

Lalu, pertanyaan itu bertambah menjadi, "Kapan?"

Kapan ini berakhir?

Tidak ada jawaban!

Hingga aku merasa lelah, dan akhirnya aku pasrah.

Suatu hari, keadaan membuatku mengerti.

Keadaan membawaku pada sebuah jawaban yang selama ini aku nanti.

Bahwa, "Ini bukan tentang jalan yang tidak kamu pilih, atau yang tidak kamu inginkan. Namun, ini tentang kamu yang dipilih Tuhan."

'Kenapa?' yang pernah aku tanyakan, mulai terjawab semua secara perlahan.

Kenapa aku? Karena aku yang mampu melewatinya.

Kenapa harus seperti ini? Karena ada banyak hikmah di baliknya.

Mungkin, Allah ingin melihat...

Sejauh mana rasa sabarku menghadapi keadaan ini.

Sebesar apa rasa ikhlasku menerima keadaan yang tengah aku alami.

Dan sebanyak apa rasa syukurku pada hidup yang Allah kasihi.

Untuk pertanyaan 'kapan?', biarkan itu urusan Allah yang menentukan.

Lihat selengkapnya