Rio berjalan masuk ke tempat acara ulang tahun Reina, kedua matanya mengedarkan pandangan mencari teman-temannya yang diundang ke acara itu. Namun, ia tak melihat ada tanda-tanda temannya sudah datang.
“Kebiasaan banget, suka ngaret,” ujarnya.
“Rio!” Panggilan itu, membuat Rio mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Saat itu juga ia terkejut ketika melihat Pak Dani, guru BK di sekolahnya.
“Lho, Bapak? Ngapain di sini? Reina undang Bapak juga?” tanya Rio, masa iya Reina mengundang guru BK ke acara ulang tahunnya?
“Kenapa memangnya kalau Bapak ada di sini? Masalah buat kamu?” tanya balik Pak Dani.
“Ya masalah lah, ini acara anak muda. Bapak yang udah tua, nggak cocok ikut party, Pak,” jawabnya.
“Berani sekali kamu ngatain saya tua, kamu mau saya hukum?”
“Ini bukan di sekolah, Pak. Jadi, Bapak nggak berhak hukum-hukum saya.”
“Selama kamu jadi murid saya, mau di dalam atau di luar sekolah, saya masih berhak hukum kamu kalau kamu salah!” Rio mendengus mendengar itu, kenapa juga Reina harus mengundang guru BK yang menyebalkan seperti Pak Dani?
“Ini juga rambut kamu kenapa belum di potong juga, hah? Masih kelihatan gondrong!” Tangan Pak Dani dengan sengaja menjambak rambut Rio, menunjukkan jika rambut cowok itu masih panjang. Sontak membuat Rio meringis, ditambah malu pada orang-orang yang berjalan melewatinya.
“Sakit, Pak. Besok saya potong rambut, kok.” Sebenarnya bukan sakit yang dirasakan Rio, ia hanya malu saja dilihat orang-orang.
“Besok, besok. Udah dari seminggu lalu saya peringati kamu agar potong rambut, jawabnya besok-besok terus.”
“Saya belum ada waktu, Pak.”
Pak Dani melepaskan jambakannya, seraya berkata, “Sok, sibuk kamu. Tiap di kelas aja sering tidur!”
Kesabaran Rio berkurang rasanya, niatnya datang ke acara ulang tahun Reina itu untuk happy-happy. Ini malah bertemu dengan guru BK yang bikin emosi.
“Zhafia!” panggil Pak Dani tiba-tiba, membuat Rio menoleh ke arah gadis yang baru saja dipanggil guru BK itu. “Sini kamu!”
“Yakin gue, pasti mau diomelin,” batin Rio ketika melihat penampilan gadis itu malam ini.
“Lah, Pak Dan ngapain di sini?” tanya gadis itu bingung.
“Kenapa? Masalah saya ada di sini?”
“Masalah sih, nggak. Cuma kurang cocok aja, Pak. Di sini area anak muda, ya nggak, Yo?” tanya Fia meminta persetujuan pada Rio yang tengah menatapnya
“Hm? Heem.” Rio mengangguk-anggukkan kepalanya, tanpa melepas tatapannya dari gadis yang terlihat beda malam ini.
“Kalian ini sama saja! Pokoknya hari Senin nanti, kalian Bapak hukum di sekolah!” ujar Pak Dani, membuat kedua mata Fia membulat.
“Lho, lho. Kok, tiba-tiba dihukum? Salah saya apa, Pak?” tanya Fia tak terima.
“Kamu dan Rio sama-sama meledek saya! Ini juga kenapa rambut kamu jadi warna ungu gini?” Itu alasan Pak Dani memanggil Fia, gadis itu berambut ungu.
“Bagus kan rambut saya, Pak. Purple Balayage! Sesuai ekspektasi banget ini mah,” kata Fia yang malah senang dengan warna rambutnya.
“Mau saya potong rambut kamu, hah? Saya botakin di sini mau?!”
“Ih, Bapak. Enak aja, saya nunggu berjam-jam buat menghasilkan warna yang indah ini, Pak.”
“Indah, indah. Kamu itu masih pelajar, nggak usah aneh-aneh! Pakek warnai rambut segala. Saya tidak mau tau, hari Senin harus kembali warna hitam. Kalau nggak, saya botakin rambut kamu di tengah lapang pas pelaksanaan upacara bendera!” Setelah memberi ancaman itu, Pak Dani pergi begitu saja meninggalkan Rio dan Fia yang terlihat kesal sekarang.
“Ngapain sih, itu guru BK ada di sini?” gerutu Fia kesal.
“Tau, sebel banget gue sama Pak Dani. Masa dia bikin gue malu di sini,” ujar Rio.
“Nggak sadar umur banget itu Bapak-bapak, udah tua malah datang ke acara anak muda. Nanti pas party joget-joget gue sumpahin encok dah tuh.”
“Mulut lo!”
“Kesel soalnya gue.”
“Nggak usah nungguin nanti, gimana kalau kita kerjain aja Pak Dani sekarang?” tawar Rio, membuat gadis itu menautkan sebelah alisnya.
“Kerjain gimana?”
“Ayo ikut gue,” kata Rio sambil menggenggam tangan gadis itu dan membawanya ke tempat ia memarkirkan mobilnya tadi.
---
Rio mengambil sebuah kotak yang ada di dalam dashboard mobilnya, lalu ia mengambil 2 botol obat yang berbentuk sama di dalam kotak itu. Kemudian, ia membuka satu persatu untuk memastikan isinya. Botol pertama berisi obat berbentuk tablet dan yang kedua berbentuk kapsul. Dengan itu, ia bisa mengenalinya obat mana yang harus ia pakai sekarang. Setelah itu, ia menutup kembali botol obatnya.
“Ini,” kata Rio sambil menunjukkan pada Fia botol yang berisi obat berbentuk tablet.
“Ini apaan?” tanya Fia sambil mengambil botol yang ditunjukkan Rio.
“Obat biar sakit perut,” jawab Rio, lalu tersenyum miring.
“Kalau ini?” tanya lagi Fia sambil mengambil satu botol yang ada di tangan kiri Rio.
“Obat tidur,” jawabnya, kali ini dengan mimik wajah berubah.
“Buat apa lo konsumsi obat tidur?”
“Nggak tiap hari gue konsumsi, kok. Kalau lagi mimpi buruk aja, gue minum itu biar bisa lanjut tidur.”
“Memang mimpi buruk seperti apa sampai lo harus minum obat tidur segala?” Rio terdiam, tidak ada niat untuk menjawabnya. Namun, gadis itu tampak penasaran sekali.
“Kenapa jadi bahas itu, sih? Sekarang ayo kita kerjain Pak Dani, sekali-kali dia yang dapat hukuman dari murid,” kata Rio sambil menutup pintu mobilnya, lalu berjalan menjauh dari sana lebih dulu. Menghindari Fia yang masih penasaran dengan obat tidurnya.
Fia menatap dua botol obat milik Rio, yang membuat ia penasaran hanya obat tidur yang dikonsumsi cowok itu. Bukan tanpa alasan kenapa sekarang ia malah penasaran dengan obat itu, sebelumnya ia pernah mendengar sesuatu yang dialami Rio hingga harus minum obat tidur itu. Dan sekarang ia hanya ingin memastikan apakah yang membuat Rio sering bermimpi buruk itu karena dirinya?
“Fia!” Gadis itu tersentak, lalu menoleh ke sumber suara. “Ayo!” ajak Rio, yang langsung diangguki gadis itu.
---
“Ingat baik-baik, Fia. Gue ajak Pak Dani ngobrol, lo masukin obat sakit perut ke dalam minumannya. Jangan sampai bikin curiga.” Fia mengangguk paham, lalu tersenyum jahil. Ia sudah tak sabar melihat guru BK nya itu sakit perut. “Ya udah, ayo.”