RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #1

Prolog

Di kepalaku, suara itu masih ada. Suara runtuhnya pilar-pilar marmer Kerajaan Valebridge, deru api yang melahap panji-panji emas, dan denting pedang yang beradu dengan takdir yang sial. Aku ingat udara malam itu berbau besi dan gosong. Aku ingat bagaimana rasa dingin dari lantai aula istana menembus lututku saat aku bersujud di depan singgasana, memohon pada pria yang kami sebut 'Ayah'.

"Selamatkan mereka, Baginda. Hamba yang akan tinggal." Suaraku parau, pecah di antara kepulan asap hitam.

Namun Sang Raja, pria berhati batu yang separuh jiwanya telah dikuasai keabadian, hanya menatapku dengan mata yang redup. Tidak ada belas kasihan di sana. Hanya ada kalkulasi. Bagi beliau, kami bukanlah anak-anaknya. Kami adalah sisa kedigdayaan Valebridge yang tidak boleh punah.

"Kau adalah Putra Mahkota," gema suaranya malam itu masih membuat dadaku sesak hingga hari ini. "Tugasmu bukan untuk mati di sini. Tugasmu adalah membawa darahku ke tempat di mana musuh tak bisa menjangkaunya."

Lalu, kudeta dimulai.

Aku melihatnya. Aku melihat bagaimana lantai batu di bawah kaki lima adikku retak, memancarkan cahaya ungu pekat yang menelan tubuh mereka satu per satu. Aku mendengar jeritan ketakutan mereka. Adik keduaku yang temperamental mencoba menghunus pedangnya ke arah bayangan hitam, adik ketigaku yang jenius berteriak mencari celah logika dari sihir itu, adik keempatku menangis memeluk biolanya, dan si kembar bungsu saling berpegangan tangan erat-erat.

Mereka mencariku. Mereka meneriakkan namaku. Kakak! Kakanda!

Namun aku gagal. Aku terlambat menggapai tangan mereka. Tubuhku sendiri mendadak lumpuh saat pusaran angin tak kasat mata menyeretku masuk ke dalam kegelapan yang pekat. Hal terakhir yang kuingat sebelum kesadaranku direnggut adalah kilatan mata merah musuh yang menembus gerbang istana, dan perasaan bersalah yang begitu hebat hingga rasanya sanggup meremukkan tulang rusukku.

Aku bersumpah, jika aku diberi kesempatan kedua, aku akan merobek takdir yang mengikat kami.

∗∗∗

Bip... bip... bip...

Suara alarm digital yang monoton memecak keheningan.

Lihat selengkapnya