Malam itu, langit di atas Panti Asuhan Kasih Bunda sewarna dengan jelaga.
Syauki, yang baru berusia lima belas tahun, meringkuk di bawah selimut tipisnya di sudut paling pojok kamar. Sebagai anak paling kecil di panti itu, pojok kamar adalah wilayah kekuasaannya yang paling aman. Di sana, dia selalu dijaga. Jika ada anak luar yang nakal, abang-abang panti akan pasang badan. Jika jatah makanan kurang, kakak-kakak perempuan akan menyisihkan separuh piring mereka untuk Syauki. Seumur hidupnya yang singkat, Syauki hanya tahu satu hal: dia adalah anak bungsu yang akan selalu dilindungi.
Sampai jam dinding tua di aula utama berdentang dua kali, dan dunia runtuh dalam hitungan detik.
Syauki terbangun bukan karena suara, melainkan karena rasa panas yang menyengat kulitnya dan aroma hangus yang mencekat tenggorokan. Saat dia membuka mata, kamarnya sudah berubah menjadi neraka merah. Api menari-nari di langit-langit, menjatuhkan lelehan kayu yang membakar kasur-kasur di sekitarnya.
"Syauki! Lari ke jendela!"
Itu suara terakhir yang dia dengar dari Kak Sarah, salah satu anak tertua yang malam itu mencoba mendobrak pintu kamar yang macet terganjal reruntuhan. Syauki panik. Tubuh kecilnya gemetar hebat. Alih-alih maju menembus api untuk membantu, rasa takut membuat Syauki merangkak mundur, mencari celah sempit di bawah dipan besi yang dekat dengan ventilasi udara luar.
Dari balik celah itu, dengan mata yang perih dan berair karena asap, Syauki menyaksikan semuanya. Dia melihat teman-teman yang siangnya baru saja bermain kelereng dengannya bertumbangan satu per satu. Dia mendengar jeritan-jeritan yang perlahan meredup, digantikan oleh suara gemertak kayu yang patah dan gemuruh api yang semakin tamak melahap apa saja. Syauki menutup telinganya rapat-rapat, memejamkan mata, dan berdoa agar dia segera terbangun dari mimpi buruk ini.