Dentang sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak bom waktu di telinga Syauki. Di ujung meja makan yang panjang dan berkilau itu, dia duduk. Kursi berukir kayu jati itu terasa terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang baru menginjak lima belas tahun. Sandarannya begitu tinggi, seolah sengaja dirancang untuk menenggelamkan siapa saja yang tidak cukup tangguh untuk mendudukinya.
Malam ini adalah malam pertama Pak Baskoro dan Ibu Rahma pergi ke luar kota untuk urusan bisnis yang mendesak, meninggalkan rumah megah ini di bawah kendali penuh seorang anak sulung dadakan.
Syauki menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir aroma semur daging yang mendadak terasa mencekat di tenggorokan. Dia mengangkat wajahnya perlahan, memberanikan diri untuk memetakan situasi di depannya. Enam pasang mata menatapnya dengan intensitas yang berbeda, membentuk sebuah garis pembatas yang tak kasatmata namun sangat tebal antara dirinya dan seisi rumah.
Di sisi kanan terdekat, Affan duduk dengan punggung tegak. Pemuda kuliahan itu melirik Syauki sekilas, lalu kembali menyuap nasinya dengan tenang. Tidak ada riak emosi di wajah Affan, hanya ada tatapan mengamati yang dalam, seolah dia sedang membaca jalannya sebuah pertandingan yang rumit.
"Sayurnya kurang garam," celetuk sebuah suara dari tengah meja, memecah keheningan yang kaku.
Itu Dalvin. remaja yang bertubuh tegap itu meletakkan sendoknya dengan dentingan sengaja yang cukup keras. Matanya menatap Syauki lurus-lurus, tajam dan dipenuhi sinisme yang tidak ditutupi. "Sama seperti orang yang duduk di Papa meja sekarang. Kurang pas. Hambar."
Arif, yang duduk di sebelah Dalvin, langsung tersedak. Anak SMA itu menunduk dalam-dalam, meremas pinggiran kausnya dengan canggung. Arif menyenggol lengan Dalvin, memberi isyarat agar saudaranya itu berhenti, namun dia sendiri tidak berani menatap Syauki. Sebagai anak yang baru saja diadopsi beberapa bulan lalu, Arif selalu merasa dirinya berada di kasta terendah rumah ini, sebagai anak bungsu.
Di seberang Arif, Alex justru menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil melipat tangan di dada. Sebuah senyuman meremehkan tersungging di bibirnya yang tipis. Matanya yang licik bergerak dari Dalvin ke Syauki, menikmati ketegangan yang mulai merayap naik ke langit-langit ruangan.
"Jangan begitu, Kak Dalvin," ujar Alex dengan nada bicara yang dibuat-buat semanis madu, namun terdengar sangat berbisa. "Kak Syauki ini pilihan resmi Papa sama Mama. Kita harus hormat, dong. Lagipula, kita harus maklum kalau dia agak canggung. Benar begitu, kan, Kak?"