Malam merayap semakin larut, menyisakan kesunyian yang tebal di dalam rumah megah Pak Baskoro. Setelah ketegangan di meja makan mereda, satu per satu anak-anak di rumah itu menarik diri, kembali ke kamar masing-masing untuk menenggelamkan ego dan lelah mereka di balik selimut. Koridor lantai dua kini gelap dan sunyi, menyisakan deru pendingin ruangan dan detak jam dinding yang bergaung rendah. Di kamarnya yang luas, Syauki berbaring menatap langit-langit. Kasur ini terlalu empuk, kamarnya terlalu dingin, dan keheningan di sekitarnya terasa terlalu asing bagi seseorang yang terbiasa tidur mendengar napas belasan anak panti.
Ketika matanya akhirnya terpejam, kegelapan tidak memberinya istirahat. Kegelapan justru membuka gerbang ingatan yang paling ia takuti.
Dalam tidurnya, napas Syauki mulai memburu. Di dalam mimpi itu, langit-langit kamarnya tiba-tiba berubah warna menjadi merah darah. Suara gemertak kayu yang patah bergaung nyaring, disusul oleh hawa panas yang langsung membakar kulitnya. Dia kembali berusia dua belas tahun, merangkak di lantai yang penuh abu, mencari celah udara di bawah dipan besi.
"Syauki! Tolong!" jerit suara-suara yang sangat ia kenal.
Teman-teman pantinya berteriak di balik kepulan asap hitam yang pekat. Syauki ingin menjulurkan tangan, namun tubuh kecilnya terkunci oleh ketakutan yang luar biasa. Dia hanya bisa memeluk lututnya sendiri, menyaksikan perlahan bagaimana dinding panti runtuh dan melumat semua suara itu menjadi sunyi.
"Tidak! Jangan!"
Syauki tersentak bangun dengan teriakan yang tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa nyeri. Kausnya basah kuyup oleh keringat dingin. Dia mencengkeram dadanya, mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, namun paru-parunya terasa menyempit. Mimpi buruk itu selalu terasa begitu nyata, menyisakan bau gosong fiktif yang seolah menempel di rongga hidungnya. Sambil mengatur napasnya yang masih patah-patah, Syauki menyibak selimut. Tenggorokannya terasa sangat kering dan terbakar dia butuh minum. Sambil melangkah limbung, dia membuka pintu kamar dan berjalan menyusuri koridor yang sepi menuju dapur di lantai bawah.
Namun, begitu kakinya menginjak anak tangga terakhir, langkah Syauki langsung terkunci. Aroma gosong yang tadi ia kira hanya bagian dari mimpi buruk, kini tercium nyata dan menyengat. Jantung Syauki kembali berpacu liar. Instingnya meneriakkan bahaya. Dengan tubuh yang mulai gemetar, dia melangkah perlahan menuju area dapur yang temaram.
Di sana, di atas kompor yang permukaannya masih membara merah, sebuah panci kecil berisi sisa mi instan tergeletak begitu saja. Air di dalamnya sudah menguap habis, menyisakan kerak hitam yang mulai mengerak dan mengeluarkan asap tipis yang membubung ke langit-langit. Api kecil biru dari kompor gas di sebelahnya juga menyala tanpa penghuni, menjilat pinggiran panci hingga memercikkan bau logam terbakar.