RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #4

Bab 3 | Aturan Rumah

Keesokan harinya sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden ruang tengah tidak mampu menghangatkan atmosfer dingin di dalam kediaman Pak Baskoro. Ini adalah hari pertama rumah megah itu benar-benar ditinggalkan oleh kedua orang tua mereka untuk dua minggu ke depan. Bagi Syauki, pagi ini adalah ujian nyata pertamanya sebagai anak sulung. Lengannya masih terasa sedikit lemas akibat serangan panik semalam, namun dia memaksakan diri turun ke lantai bawah dengan draf pembagian tugas rumah tangga yang sudah dia susun rapi di selembar kertas.

Namun, begitu kakinya menginjak ruang tengah, langkah Syauki langsung terhenti.

Di sana, di atas meja kopi marmer, selembar karton besar berwarna putih sudah tertempel rapi. Di atasnya, tertulis dengan spidol hitam tebal.

ATURAN BARU RUMAH

Dalvin berdiri di samping meja itu sambil melipat tangan di dada. Di depannya, Arif duduk di sofa dengan wajah canggung dan cemas, sementara Alex bersandar di pilar ruangan sambil tersenyum penuh arti—menikmati riak konflik yang sebentar lagi akan pecah.

"Mulai hari ini, semua urusan rumah, jam malam, dan izin keluar rumah harus lewat aku," suara Dalvin tegas.

Dan dia menatap Arif yang tampak mengecil di sofa. "Arif, lo bagian membersihkan halaman belakang dan garasi setiap sore."

Syauki melangkah maju, memecah lingkaran itu. Kertas di tangannya meremas pelan. "Dalvin, apa-apaan ini? Siapa yang membuat aturan ini?"

"Aku yang buat. Ada masalah?" tanya Dalvin setengah emosi.

"Papa dan Mama menitipkan rumah ini kepada kakak, bukan kepadamu, kakak sudah membuat pembagian tugas yang adil untuk kita semua. Aturan ini tidak berlaku," ucap Syauki tenang.

Dalvin melepaskan tawa hambar yang sinis. Dia melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Syauki, memanfaatkan keunggulan fisiknya yang lebih tegap untuk mengintimidasi. "Dititipkan kepada lo? Hanya karena lo lahir beberapa bulan lebih dulu dari gue? Jangan konyol, Syauki. Lo itu orang asing yang baru masuk ke rumah ini kemarin malam."

"Kak Dalvin, jaga bicara lo." sebuah suara bariton memotong dari arah tangga. Affan berjalan turun dengan langkah santai, membawa cangkir kopinya. Dia tidak langsung memihak, namun matanya yang tajam menatap Dalvin dengan peringatan terselubung.

Lihat selengkapnya