Sisa ketegangan dari perdebatan dengan Dalvin masih terasa mengendap di udara ruang tengah. Meski Syauki berhasil mempertahankan posisinya di depan meja, detak jantungnya belum sepenuhnya kembali normal. Lembaran kertas pembagian tugas di tangannya kini terasa sedikit lecek akibat remasan jarinya yang sempat gemetar. Namun, alih-alih naik ke kamar untuk menenangkan diri, mata Syauki bergerak menyapu ruangan, menyadari ada satu kursi yang kosong sejak keributan tadi dimulai.
Syahrul.
Anak itu tidak ada di mana pun sejak sarapan pagi yang canggung berakhir.
Syauki menoleh ke arah Affan yang masih berdiri di dekat meja makan, perlahan menyesap sisa kopinya dengan ketenangan yang tidak terusik. Di rumah ini, Affan adalah satu-satunya orang yang tidak pernah ikut berteriak, namun sepasang matanya seolah merekam setiap detail yang luput dari perhatian orang lain.
"Fan," panggil Syauki, melangkah mendekat. "Kamu tahu Syahrul di mana? Dia tidak ikut berkumpul waktu Dalvin membuat keributan tadi."
Affan menurunkan cangkirnya. Pandangannya beralih ke koridor gelap di sisi sayap kiri rumah, area yang paling jarang dilewati karena hanya menuju ke satu kamar di ujung paling sudut.
"Kamar," jawab Affan singkat.
Suaranya rendah, hampir seperti bisikan. "Dia selalu di sana kalau rumah mulai berisik. Tapi, kalau kakak mau ke sana, jangan mengetuk terlalu keras. Dia tidak suka dikejutkan."
Ada jeda aneh dalam nada bicara Affan, sebuah intonasi yang membuat alis Syauki bertaut samar. Namun, sebelum Syauki sempat bertanya lebih jauh, Affan sudah berbalik dan melangkah menuju ruang kerjanya, meninggalkan Syauki dengan rasa penasaran yang kian menebal. Syauki memantapkan langkahnya menyusuri koridor sayap kiri. Semakin dekat dia dengan kamar Syahrul, semakin pekat keheningan yang dia rasakan. Kamar itu terletak di bawah bayangan tangga belakang, sebuah posisi yang membuat sinar matahari pagi tidak pernah benar-benar bisa menyentuh pintunya. Di rumah semegah ini, sudut tersebut terasa seperti area yang sengaja dikucilkan—atau mungkin, sengaja dipilih oleh penghuninya untuk menghilang.
Syauki berdiri di depan pintu kayu bercat abu-abu gelap itu. Dia menarik napas panjang, lalu mengetuknya tiga kali dengan ketukan yang sangat pelan, mengingat peringatan Affan.
"Rul? Ini Kak Syauki," ucapnya setengah berbisik.
Tidak ada jawaban dari dalam. Sunyi yang membalas terasa begitu padat. Syauki menunggu selama beberapa hitungan, menempelkan telinganya ke daun pintu, sampai akhirnya dia mendengar suara kasur yang berderit samar, disusul suara langkah kaki yang diseret dengan sangat lambat.
Pintu terbuka hanya beberapa senti, memunculkan separuh wajah Syahrul dari balik celah. Di dalam kamarnya yang gelap tanpa lampu yang menyala, wajah remaja itu terlihat luar biasa pucat, hampir sewarna dengan tembok di belakangnya. Mata Syahrul yang sayu menatap Syauki dengan pandangan yang sulit diartikan—ada penolakan, namun juga ada rasa lelah yang teramat sangat.
"Ada apa, Kak?" tanya Syahrul yang suaranya serak dan sangat tipis.