Langkah kaki Syauki terasa begitu berat saat meninggalkan kamar diamana bayangan tubuh ringkih Syahrul yang terguncang hebat karena batuk masih tertanam kuat di benaknya. Rasa tidak berdaya kembali menggerogoti dadanya, menciptakan kekosongan yang akrab—rasa frustrasi yang sama seperti saat ia hanya bisa diam melihat dunianya runtuh tiga tahun lalu.
"Kak."
Syauki sedikit tersentak. Di ujung lorong, dekat pembatas ruang tengah, Affan sudah berdiri bersandar pada pilar kayu. Pemuda kuliahan itu memegang sebuah cangkir kopi baru yang masih mengepulkan uap tipis. Ekspresi wajahnya sedatar biasanya, namun tatapan matanya mengisyaratkan bahwa dia telah menunggu Syauki keluar dari kamar Syahrul.
"Ikut aku sebentar ke teras belakang," ujar Affan tanpa menunggu jawaban.
Dia berbalik dan melangkah dengan ritme yang tenang, meninggalkan Syauki yang hanya bisa mengekor di belakangnya. Teras belakang rumah Pak Baskoro menghadap langsung ke taman kecil yang asri, namun atmosfer pagi ini terlalu dingin untuk dinikmati. Affan duduk di salah satu kursi rotan, meletakkan cangkirnya di meja kaca, lalu memberi isyarat dengan dagunya agar Syauki mengambil tempat di seberangnya.
"Bagaimana Kak Syahrul?" tanya Affan membuka percakapan.
Syauki mengembuskan napas panjang, bahunya merosot. "Dia mengunci diri. Bilang cuma kurang tidur karena tugas sekolah. Tapi... dia batuk parah sekali tadi, Fan. Wajahnya pucat sewarna kertas. Kakak merasa ada yang tidak beres dengannya, tapi dia menutup diri rapat-rapat. kakak gak tahu harus berbuat apa."
Affan menyesap kopinya perlahan, matanya menatap riak air kolam sebelum kembali tertuju pada Syauki. "Kak Syahrul memang seperti itu. Dia adalah tipe anak yang memilih untuk menjadi tidak terlihat. Di rumah ini, dia menganggap dirinya sebagai pelengkap dimana semakin ada mendesaknya, semakin dalam dia akan bersembunyi."
Syauki mengerutkan dahi, merasakan ketidakberdayaan yang mulai berubah menjadi rasa bersalah. "Tapi sekarang kita sudah jadi keluarga, Fan. Papa dan Mama menyerahkan rumah ini kepadaku. Kalau salah satu dari kalian sakit atau ada masalah, itu tanggung jawabku. Tapi kenapa rasanya sulit sekali? Dalvin memberontak, Alex terus memprovokasi, dan Syahrul... dia seperti ini di rumah ini."
Affan menyandarkan punggungnya, menatap Syauki dengan tatapan seorang pengamat makro yang telah membaca seluruh papan permainan. Di sinilah Affan mulai mengambil perannya—bukan sebagai perusak otoritas, melainkan sebagai pelatih terselubung yang menuntun kapten baru mereka untuk memahami formasi timnya.