RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #7

Bab 6 | Tingkah Alex dan Ketegasan Syauki

Matahari siang menyengat atap kediaman Pak Baskoro, memaksa hawa gerah merayap masuk ke sela-sela jendela. Di dalam rumah, kesunyian yang kaku kembali tercipta setelah perbincangan Syauki dan Affan di teras belakang. Semua anak seolah sepakat untuk menarik diri ke dalam gelembung aktivitas masing-masing. Affan sudah kembali mengunci diri di ruang kerja bersama tumpukan tugas kuliahnya. Dalvin sengaja pergi ke halaman samping, meluapkan sisa amarahnya dengan mendrible bola basket secara agresif hingga dentumannya bergaung ritmis ke dalam rumah. Sementara Arif memilih duduk di sudut ruang tengah, pura-pura sibuk membolak-balik buku pelajaran sekolahnya walau matanya terus bergerak cemas menatap sekitar.

Syauki sendiri berada di dapur, mencoba membersihkan sisa kekacauan tadi malam. Lengannya masih terasa sedikit kaku, namun dia memaksa jemarinya tetap bergerak membasuh piring, mencoba menerapkan nasihat taktis dari Affan di dalam kepalanya dia harus tenang. Namun, kedamaian semu itu pecah berkeping-keping tepat pukul satu siang.

Suara raungan knalpot motor yang bising tiba-tiba terdengar berhenti di depan pagar rumah. Tak lama kemudian, pintu depan terbuka tanpa ketukan. Serombongan remaja laki-laki berseragam SMA yang berantakan melangkah masuk ke dalam ruang tamu dengan gaduh. Mereka adalah teman-teman satu geng Alex.

"Wah, gila! Rumah lo sepi amat, Lex! Berasa istana pribadi," seru salah satu remaja bertubuh jangkung sambil melemparkan tas sekolahnya begitu saja ke atas sofa marmer.

"Bokap sama nyokap gue lagi keluar kota dua minggu. Jadi, bebas. Anggap aja rumah sendiri," sahut Alex.

Dengan nada suara yang sengaja dikeras-keraskan. Dia melangkah ke arah kulkas besar di dekat dapur, mengambil beberapa kaleng minuman bersoda, lalu melemparkannya kepada teman-temannya. Dalam hitungan menit, ruang tamu yang biasanya rapi berubah menjadi arena sirkus yang kacau. Musik bergenre rok alternatif diputar lewat pengeras suara portabel dengan volume maksimal, menggetarkan kaca-kaca jendela. Teman-teman Alex mulai tertawa-tawa keras, menumpahkan camilan ke atas karpet bulu mahal milik Ibu Rahma, dan menaikkan kaki-kaki mereka yang masih beralaskan sepatu kotor ke atas meja kopi.

Arif yang ketakutan langsung bangkit dari sofa, memeluk bukunya erat-erat, dan berlari kecil naik ke lantai dua untuk bersembunyi. Dari halaman samping, suara dentum bola basket Dalvin mendadak berhenti, berganti dengan suara pintu kaca yang digeser kasar saat Dalvin melihat kekacauan itu, namun dia memilih diam di ambang pintu, ingin melihat bagaimana cara anak sulung baru mereka menangani situasi ini.

Syauki meletakkan kain lap di tangannya. Napasnya berembus berat. Dia tahu persis ini bukan sekadar kunjungan ramah tamah biasa. Ini adalah umpan. Ini adalah strategi bawah tanah Alex untuk menguji kesehatan mentalnya di depan umum, persis seperti yang diperingatkan oleh Affan.

Syauki melangkah keluar dari dapur, berjalan dengan ritme yang konstan menuju ruang tamu. Dia berdiri di tengah ruangan, tepat di hadapan Alex yang sedang duduk santai di lengan sofa sambil mengisap sebatang rokok elektrik yang mengeluarkan asap putih tebal.

"Alex," panggil Syauki. Suaranya rendah, namun berhasil menembus bisingnya musik. "Bisa matikan musiknya sebentar?"

Teman-teman Alex seketika diam.

Tawa mereka meredup, digantikan oleh tatapan menyelidik ke arah Syauki.

Lihat selengkapnya